Mengikat Nikmat dengan Syukur

Mengikat Nikmat dengan Syukur

Oleh:

Eka Faridah Suryani

 

Sesekali ajaklah keluarga kita; suami/istri dan anak-anak untuk berjalan–jalan ke rumah sakit. Kok ke rumah sakit? Iya, untuk melihat hiruk-pikuk manusia yang sedang diuji dengan berbagai macam penyakit. Lihatlah pula bagaimana keluarga pasien juga hilir-mudik mengurus berbagai keperluan demi kesembuhan anggota keluarga mereka. Sapalah salah seorang dari mereka, apa penyakit yang sedang mereka derita? Apakah kanker, sakit jantung, diabetes, gagal ginjal? Sudahkan Anda bertemu dengan pasien gagal ginjal yang tiap pekan harus cuci darah? Ooh.. alangkah berat ujian mereka. Dan kemudian lihatlah diri kita! Badan sehat, kuat, dan segar. Sudahkan kita bersyukur atas nikmat sehat kita setiap hari? Sudahkah lisan kita mengucap syukur Alhamdulillah yaa Rabb atas nikmat ini? Sudahkan kita menggunakan anggota tubuh kita -sebagai ungkapan syukur- dalam ketaatan kepada-Nya?

Mengikat Nikmat dengan Syukur

Satujam.com

Nikmat sehat hanyalah salah satu dari nikmat-nikmat tak terhitung yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita. Bagaimana dengan nikmat-nikmat yang lainnya? Sudahkan kita mensyukurinya? Memiliki rumah lengkap dengan perabotannya, mobil, motor, juga kehamilan yang mudah, teman-teman yang baik, baju aneka macam, kemudahan mendatangi majlis ilmu, pasangan yang baik dan setia, anak yang shalih-shalihah, dimudahkan suka menolong orang, dimudahkan dalam bersedekah, pekerjaan yang nyaman, dan berbagai macam kenikmatan, tetapi kadang kita lupa mensyukurinya. Astaghfirullah!

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوْاهَا

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, maka kamu tidak akan bisa menghitungnya.”

Syukur adalah merasa dalam hati, menyebut dalam lisan, dan mengerjakan dalam anggota badan. Syukur tersusun dari ilmu, haal (kondisi spiritual), dan amal perbuatan. Ilmu adalah mengetahui nikmat dari Pemberi nikmat. Haal adalah kegembiraan yang terjadi karena pemberian nikmat, sedangkan amal perbuatan adalah melaksanakan apa yang menjadi tujuan Pemberi nikmat dan apa yang dicinta-Nya.

Syukur adalah puncak dari ibadah dan lebih tinggi kedudukannya dari taqwa. Karena syukur adalah mengerahkan secara total segenap potensi untuk hal yang paling dicintai Allah. Suatu ketika Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam shalat dengan shalat yang sangat panjang, sehingga menyebabkan kaki beliau bengkak. Kemudian Sayyidah ‘Aisyah Radhiyallohu ‘anha bertanya: “Ya Rasulallah, bukankah engkau sudah dijamin surge? Kenapa masih shalat sampai kaki engkau bengkak?”

Dengan lembut Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam menjawab: “Apakah aku tidak seharusnya menjadi hamba yang banyak bersyukur?”

Bersyukur atas semua kondisi adalah kunci kebahagiaan hidup. Walaupun seseorang itu kaya, harta melimpah, rumah mewah, mobil bagus, tetapi jika di dalam hatinya tidak ada rasa syukur, pasti dan pasti hidupnya merana. Meskipun tampak bahagia lahirnya, namun batinnya bergemuruh dan tidak tenang. Sebaliknya, siapa saja yang bersyukur; orang kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, orang kota atau desa, pasti akan tenang dan bahagia hidupnya. Allah Subhanahu wata’ala akan melimpah-tambahkan nikmat-nikmat lainnya.

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَوَالِهَا وَمَنْ شَكَرَهَا فَقَدْ قَيَّدَهَا بِعِقَالِهَا

“Siapa yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan, maka berarti berusaha menghilangkan nikmat itu, dan siapa yang bersyukur atas nikmat berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kukuh.”

Belum punya rumah, belum punya mobil, belum punya anak, belum punya suami, belum punya baju baru, belum punya kulkas, dan belum-belum yang lainnya adalah rentetan nafsu yang menghalangi kita untuk selalu bersyukur dan su’uzh-zhan billah (berburuk sangka kepada Allah). Jangan risau dengan nikmat yang belum ada, tapi risaulah dengan nikmat yang sudah ada ini, sudahkah kita mensyukurinya?

Jangan melihat nikmat yang ada pada orang lain, karena nikmat orang lain itu hanya tipuan bagi kita. Nikmat yang sudah Allah berikan pada kita itulah nikmat kita yang sesungguhnya, jika kita bersyukur. Nu’man bin Basyir Radhiyallohu ‘anha berkata: Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak, dan yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah.”

Lantas, bagaimana cara kita bersyukur?

Ada tiga cara dalam mengungkapkan wujud syukur kita atas nikmat yang telah diberikan oleh Pemberi nikmat: Pertama, Syukur Qalbi, yaitu mengakui nikmat-nikmat Allah dan mencintai-Nya. Mengingat kenikmatan akan berpengaruh besar (membekas) pada kecintaan Allah.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ

“Tiada terjadi suatu nikmat bagimu melainkan itu dari Allah.”

Kedua, Syukur Lisan, yakni menampakkan rasa syukur kepada Allah dengan berbagai pujian kepada-Nya, mengucap Alhamdulillah atas anugerah yang dilimpahkan-Nya. Para salafush-shalihin mempunyai kebiasaan saling mengajukan pertanyaan, dengan tujuan mengungkapkan rasa syukur kepada Allah. Agar yang bersyukur semakin taat dan orang yang bertanya juga semakin taat. Mereka tidak berniat riya’.

وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Adapun terhadap nikmat pemberian Tuhanmu, maka pergunakan (sebarkan/ceritakan).” (Q.S. Ad-Dhuha: 11)

Ketiga, Syukur Jawarih, yakni syukur yang dilakukan oleh anggota badan dengan mempergunakan nikmat-nikmat Allah untuk mentaati-Nya dan tidak menggunakan anggota badan sebagai sarana bermaksiat kepada-Nya. Wujud syukur mata adalah dengan menutupi aib yang dilihatnya dari diri seorang muslim, syukur telinga dengan menutup setiap aib yang didengarnya, dan sebagainya.

Berikut kiat-kiat untuk mendapatkan rasa syukur: berdoa memohon kepada Allah supaya diberi rasa syukur nikmat di dalam hati kita, sering dibicarakan berulang ulang tentang sifat syukur nikmat di lingkungan kita, terutama di dalam keluarga kita dengan istri/suami, anak–anak, teman, saudara, tetangga, dan lain sebagainya. Apabila syukur ini sering kita bicarakan atau kita dengarkan akan memberi kesan dalam hati kita, dan apabila sudah ada kesan dalam hati kita, maka akan mudah bagi kita untuk mengamalkan sifat syukur ini. Banyak melihat ke “bawah”, jangan sering melihat ke “atas” dalam urusan dunia. Memperbanyak dan sering ucapkan “Alhamdulillah” karena ia sebaik-baik doa.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi kekuatan kita untuk mengamalkan sifat syukur dan kita niat menyampaikan pada orang lain. Insya Allah. Ya Allah jadikan kami hamba-hamba-Mu yang selalu bersyukur.

Wallahu a’lamu bish-shawaab.

[]