Menjaga Kualitas Dalam Berpuasa

Oleh: Ust Abd Fatah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَاْلعَمَلَ بِهِ وَاْلجَهْلَ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فيِ اَنْ يَدَعَ طَعَامُهُ وَشَرَابِهِ

Artinya:“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan bohong dan mengerjakan perbuatan bohong serta kebodohan (dalam berpuasa), makabagi Allah tidak ada kebutuhan dalam ia meninggalkan makan dan minum.”

PerawiHadits

Haditsinidiriwayatkanoleh Imam al-Bukhari dan Imam Abu Dawuddarishahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

Keterangan

Islam telah memberikan tarbiyah bahwa setiap muslim harus memperhatikan setiap ibadah atau amal shalih yang akan dilakukan agar amal ibadahnya benar-benar membawa dampak positif dan membekas sampai ke relung hatinya. Artinya, ibadah/amal shalih dapat memberikan manfaat bagi dirinya dan pada orang lain serta dapat merasakan nikmatnya beribadah.Sebagaimana itu juga dalam ibadah puasa sehingga kita harus benar-benar selektif dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini agar puasa kita benar-benar berkualitas,bermakna, dan bermanfaat dunia dan akhirat.

Dalam hadits di atas terkandung tarbiyah yang sangat penting dalam rangka menjaga kualitas dalam ibadah puasa. Kita perlu menjaga seluruh anggota badan dari ujung rambut sampai ujung kaki, bahkan yang tidak kalah pentingnya yaitu menjaga hati kita dari sifat-sifat yang buruk, termasuk menjaga ketulusan dan keikhlasan. Jangan sampai puasa kita dinodai dengan ucapan yang kotor,kebohongan, dan tindakan-tindakan bodoh yang menyebabkan puasa kita sia-sia sebagaimana dimaksud dalam hadits di atas.

Para ulama’ menyebutkan ada 6 perkara yang sangat penting dalam menjaga puasa kita agar puasa kita bermakna dan tetap berkualitas, diantaranya:

  1. Menjaga pandangan kita dari hal-hal yang dilarang, yang mengundang nafsubirahi, dan juga menghindari pandangan yang melalaikan. Ulama’ sufi menyebutkan bahwa yang termasuk pandangan yang perludihindari adalah melihat hal-hal yang mengalihkan perhatian seseorang kepadaselain Allah.
  2. Menjaga lidah dari dusta, perkataan sia-sia, mengumpat, perkataan kotor,menipu,bertengkar,dan lain sebagainya.Dalam shahih al-Bukhari ada sebuah riwayat bahwa puasa adalah perisai bagi manusia.Oleh karena itu, mereka yang bepuasa hendaklah menjauhi perkataan yang buruk dan perkataan yang bodoh seperti mengejek,bertengkar, dan lain sebagainya.Hal yang paling penting yang juga harus dihindari adalah membicarakan keburukan orang lain dan dusta.
  3. Orang yang berpuasa diupayakan pendengarannya mampu menghindari dan menjauhi dari suara-suara yang buruk/haram, bahkan menjaga dari suara-suara yang makruh seperti mendengarkan orang yang mengumpat, karena orang yang mengumpat dan mendengarnya sama-sama berdosa.
  4. Jasad kita hendaknya dijauhkan dari dosa dan hal-hal yang haram. Tangan jangan menyentuhnya, kaki jangan berjalan ke arahnya,begitu juga anggota tubuh yang lain. Perut hendaknya dijaga agar tidak memakan makanan dan minuman yang haram maupun yang subhat(meragukan) baik ketika makan sahur maupun berbuka puasa.
  5. Menghindari makan dan minum yang berlebihan ketika berbuka maupun makan sahur, sekalipun makanan dan minuman yang halal,sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: “Makan dan minumlah kalian dan janganlah berlebihan.” (Q.S. Al-A’raf: 31) Maka tepatlah makna puasa itu diantaranya menahan, yaitu menahan diri sesuatu yang berlebihan,termasuk mengurangi kekuatan nafsu syahwat dan kekuatan sifat hewaniyah serta meningkatkan kekuatan iman.

Menurut Imam al-Ghozali, tujuan puasa adalahuntuk menundukkan kekuatan iblis dan hawa nafsu. Bagaimana hal ini dapat dicapai dengan memperbanyak makan ketika berbuka? Pada hakikatnya kita hanya mengubah waktu makan saja,bukan menguranginya,bahkan kita semakin banyak menambah menu makan yang tidak sama dengan hari–hari biasa.

Ada salah satu kisah seorang ulama’ namanya Maulana Abdurrahim Raipuri.Beliau sewak tubulan Ramadhan ketika berbuka hanya minum secangkir teh tanpa ada makanan yang lain.Suatu ketika, pengikutnya yang paling dipercaya, yaitu Maulana Abdul Qadir menegurnya dengan perasaan khawatir,”Tuan akan menjadi lemah jika tidak makan apa-apa.”Maulana Raipuri pun menjawab, ”Segala puji bagi Allah,aku sedang merasakan kelembutan surga.”Semoga Allah memberi karunia kepada kita untuk mengikuti jejak langkah para ‘Ulama Salafus Shalih yang mulia ini.

  1. Yang paling penting untuk diperhatikan bagi orang yang berpuasa adalah hendaknya setelah berpuasa selalu merasa khawatir dan takut akan puasanya jangan-jangan tidak diterima dan berharap rahmat Allah agar puasanya diterima. Sehubungan dengan hal ini, maka para shahabat dahulu ketika usai puasa Ramadhan bila bertemu dengan shahabat yang lainmereka saling mendo’akan dengan kalimat”Taqabbalallahu minnaa waminkum” (semoga Allah menerima ‘amal kami dan ‘amal kalian semua) kemudian mereka menjawab,”Taqabbal yakariim.” (semoga Allah yang Maha Mulia mengabulkannya).

Sebagian ahli tafsir telah memaparkan tentang makna surah Al-Baqarah ayat 183, yaitu lafadh كتب عليكم الصيام (diwajibkan atas kalian berpuasa), maknanya adalah bahwa perintah puasa itu diwajibkan kepada semua anggota badan manusia, yaitu puasa lidah dengan menjauhi perkataan dusta,kotor,mencaci maki, dan lain-lain.Puasa telinga tidak mendengarkan maksiat,puasa mata tidak memandang maksiat dan sesuatu yang sia-sia.Demikian pula kita harus menjaga seluruh anggota tubuh yang lain,bahkan puasa diri adalah menjaga dari rakus dan syahwat dan tidak kalah pentingnya adalah puasa hati yaitu mengosongkan diri dari kecintaan nya kepada dunia.Dan puasa rohani dengan selalu mengingat akan kelezatan dan kenikmatan akhirat serta puasa yang sangat rahasia dan khusus, yaitu puasa pikiran, di mana tidak lagi memikirkan segala sesuatu selain dari pada Allah subhanahu wata’ala.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi:

1.Imam al-Bukhari,Imam Abu Dawud.

2.BulughulMaram,IbnuHajar Al-Atsqalani. Hal 686.

3.Fadhailul’Amal,Maulana M.Zakariya Al-Kandhalawi.

4.Q.S.Al-Baqarah 183 dan ayat-ayat lainnya