Menjaga Mahligai Pernikahan Dari Petaka Perceraian

Oleh

Mohammad Arif, M.A.

Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa usai menggelar konferensi pers terkait Hari Lahir (Harlah) ke-70 Muslimat NU menyatakan, “Dalam beberapa tahun terakhir ini angka perceraian di Indonesia melonjak drastis dan Jatim merupakan penyumbang terbesar dalam kasus perceraian di Tanah Air, bahkan mencapai 47 persen atau hampir separo kasus perceraian di Indonesia ada di Jatim.”

Salah satu penyebab perceraian adalah masalah ekonomi (kesejahteraan) dan prosesnya sebagian besar melalui gugatan atau perceraian yang diajukan pihak istri. Sementara itu, berdasarkan data yang disampaikan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf belum lama ini, di Jatim tidak kurang dari 500 ribu pasangan yang menikah setiap tahun. Empat tahun lalu, berdasarkan data pengadilan agama tercatat ada 60 ribu pasangan yang bercerai setiap tahun, dan sekarang sudah mencapai 90 ribu pasangan per tahun.

images-2

Sangat jelas bahwa pernikahan adalah hubungan legal formal antara seorang laki-laki dan perempuan dengan tujuan untuk membangun keluarga yang tenteram, bahagia, penuh dengan kasih sayang, baik legal secara negara maupun agama. Hubungan itu dalam Al-Qur’an disebut sebagai مِيثَاقًا غَلِيظًا  karena menurut Syeikh Ali As-Shobuni bahwa pernikahan itu tidak hanya melibatkan sesama manusia, tapi juga melibatkan Allah SWT dalam sebuah ikrar janjinya. Perlu dicermati juga pengertian pernikahan menurut UU No. 1/1974 tentang Perkawinan, yaitu pada kalimat “kekal berdasarkan ketuhanan yang maha Esa”. Maknanya adalah bahwa pernikahan itu sejatinya kekal tidak  sekedar sehari, setahun, atau seumur jagung, tetapi pernikahan itu untuk selamanya.

Realitasnya seperti pemaparan data di atas bahwa tidak sedikit pasangan suami istri yang akhirnya kandas dan memutuskan untuk bercerai, padahal Allah SWT sangat membenci perceraian meskipun itu suatu yang dihalalkan. Sebagaimana ditegaskan dalam sebuah sabda Rasulullah SAW dari Ibnu Umar ra: “Sesungguhnya sesuatu yang halal yang sangat dibenci oleh Allah SWT adalah perceraian.”

download-2

Oleh karena itu, pasangan suami istri, baik pasangan baru atau pasangan yang sudah lama, harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengantisipasi terjadinya perceraian dan menjaga keutuhan rumah tangga hingga kematian sajalah yang memisahkannya. Diperlukan formula spesial guna menjaga keutuhan rumah tangga pasutri dari petaka perceraian, di antaranya adalah:

Pertama, kesiapan dan pemahaman, mulai dari menentukan pilihan calon suami atau istri sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW hingga menetapkan pasangan. Khususnya bagi calon pasangan suami istri yang akan menikah, harus ada reinterpretasi terhadap pre-wedding yang selama ini berkembang di masyarakat Indonesia dengan cara calon pasutri sekedar melakukan sesi foto berdua. Padahal justru yang lebih penting harus dilakukan dalam pre-wedding adalah bagaimana calon pasutri dipastikan memiliki kesiapan lahir batin yang matang serta pemahaman terhadap makna pernikahan dan tujuannya secara komprehensif untuk mengarungi bahtera kehidupan rumah tangganya.  Bisa melalui konsultasi pranikah kepada alim ulama atau lembaga konsultan pernikahan yang kompeten.

Kedua, komitmen. Setiap pasangan suami istri harus memiliki komitmen /kepedulian dalam menjalani kehidupan rumah tangganya dengan saling mengisi, melengkapi segala kekurangan serta menghargai segala perbedaan. Haruslah disadari, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Dengan cara menyelesaikan segala permasalahan rumah tangga secara bersama-sama, dikompromikan (dimusyawarahkan) sebagaimana petunjuk dalam Al-Qur’an surah Al-Syura: 38, tidak semestinya melibatkan pihak lain yang justru akan memperkeruh permasalahan, tidak egoistis, dan saling menyalahkan.

Saling menyadari bahwa pernikahan itu tidak hanya sehari, seumur jagung, atau setahun, akan tetapi pernikahan itu untuk selamanya. Apabila sudah saling komitmen, maka akan terwujud kepercayaan dan muncul kesetiaan, meskipun kesibukan masing-masing pasangan, tempat beraktivitas yang berjauhan dan segala godaan yang menghadang namun tetap komitmen untuk setia dan saling percaya.  Maka dari itu, jangan terlalu possesif, khususnya bagi pasutri sang pencemburu. Janganlah setiap saat pasangan dihubungi untuk mengecek sedang melakukan apa, dengan siapa, berapa lama, namun berilah ruang kepercayaan. Apabila terasa ada yang kurang wajar, segera dikonfirmasi, klarifikasi (tabayun), dan dikomunikasikan secara bijaksana tidak dengan emosional, sehingga tidak ada dusta di antara mereka.

Ketiga, bertanggung jawab. Setiap pasangan suami istri harus mengetahui hak dan kewajibannya, bahwa masing-masing pasangan mempunyai hak serta tanggung jawab bersama untuk mendapatkan nafkah batin dan kewajiban bersama dalam Al-Mu’aasyarah bi al-Ma’ruf. Pendidikan dan pengajaran anak juga menjadi tanggung jawab kewajiban bersama, sehingga tidak boleh saling menyalahkan ketika akhlak dan prestasi anaknya tidak bagus. Suami mempunyai kewajiban untuk mencari nafkah dan memberikan nafkah lahir kepada istri dan anaknya sesuai dengan kemampuan income yang diterimanya, jangan sampai terbalik justru sang istri yang banting tulang mencari nafkah, sementara sang suami asyik-masyuk bersiul dendang dengan berbagai koleksi burung di rumahnya. Hal ini sebagaimana petunjuk dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah: 233 dan surah al-Thalaq: 7. Istri tidak boleh menuntut nafkah di luar batas kemampuan income suaminya, karena dikhawatirkan akan memicu permasalahan yang muncul dengan memaksa dirinya mendapatkan income tambahan sesuai tuntutan istrinya.

Meskipun Syeikh Ramadhan Al-Buthi berpendapat bahwa perempuan / istri boleh bekerja, tetapi dengan niat tetap dalam rangka penghambaan diri hanya kepada Allah SWT, tidak untuk niat atau tujuan yang sifatnya materialistik dan hedonistik, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang barat sekuler dalam rumah tangga mereka, yakni suami bekerja dan istri juga bekerja. Dalam kitab al-Muhadzdzab dikatakan bahwa dalam akad nikah itu tidak ada perjanjian yang menyebutkan bagi seorang perempuan / istri harus memasak, bersih-bersih rumah, dan mencuci pakaian. Oleh karenanya, harus ada kompromi yang fleksibel, tidak rigid antara pasangan suami istri dalam pembagian tugas rumah tangganya secara arif dan penuh dengan tanggungjawab.

Semoga dengan kesiapan yang disertai dengan pemahaman pasutri tentang makna dan tujuan pernikahan dengan komprehensif didukung dengan komitmen untuk saling percaya dan tetap setia dalam suka-duka dan bertanggung jawab terhadap segala hak dan kewajibannya, InsyaAllah mahligai pernikahan senantiasa akan terjaga dari petaka perceraian.

Aamiin Ya Rabbal ’aalamiiin.

***

images-4