Menjauhi Ghibah, Hidup Penuh Rahmah

Menjauhi Ghibah, Hidup Penuh Rahmah

 

Penulis-NurkholisOleh : Nurkholis El Jombangi

 

 

“Mas, Sampean saya beri tahu ya, yang tadi lewat itu adalah putrinya Bu Fulanah. Bu Fulanah anaknya lima. Empat orang putri dan seorang putra. Beberapa waktu yang lalu, Bu Fulanah datang ke rumah saya sambil nangis dan minta didoakan supaya keempat putrinya segera mendapat jodoh. Ya saya bilang, ‘Saya doakan Bu, saya sebagai tetangga juga ikut prihatin, putri-putri jenengan sampai sekarang belum ketemu jodohnya.’”

Sekedap Mbah, Bu Fulanah yang suaminya meninggal tempo hari itu?”

“Iya Mas, betul. Alhamdulillah, sekarang sudah dapat jodoh. Tempo hari mantu dua orang putrinya sekaligus. Yang lewat tadi, itu putri yang pertama. Kasihan lho Mas, dia belum ketemu jodohnya.”

“Iya Mbah.”

Kita atau sebagian di antara kita mungkin pernah mendengar dialog seperti di atas. Pada saat kita sedang berkumpul di antara banyak orang atau hanya berdua saja, seringkali dalam bincang-bincang tersebut, kita membicarakan orang lain. Atau kita pernah mendengar dialog yang seperti ini;

“Senang mungkin ya, menjadi seperti orang itu? Orangnya baik, pintar, kaya, ilmu agamanya bagus lagi. Kalau shalat subuh senantiasa berjama’ah. Biasanya datang ke musholla paling awal. Hubungan dengan sesama tetangga sangat baik, suka memberi dan menolong. Kok masih ada ya, orang seperti dia? Kira-kira rahasianya apa, ya? Saya sangat berharap mampu seperti dia.”

“Betul, Pak. Saya juga iri sama dia. Saya juga ingin seperti dia. Kapan-kapan kita silaturahim yuk, barangkali kita bisa menimba ilmu kepadanya.”

www.broblogger.net

www.broblogger.net

Nah, di antara dua dialog di atas, manakah yang lebih sering kita jumpai? Saya kira dialog pertamalah yang lebih sering kita jumpai. Nampak sekilas, dialog yang pertama adalah membicarakan kebaikan, atau dianggap hanya sebagai sebuah sarana berbagi informasi. Namun jika dialog tersebut terdengar oleh pihak yang menjadi obyek pembicaraan, mereka akan tersinggung.

Terkadang ber-gosip dilakukan dengan tanpa sadar. Bahkan karena seringnya kita ber-gosip, hal tersebut sudah kita anggap sebagai sebuah kebiasaan. Seringkali kita tidak menyadari bahwa di antara kalimat yang keluar dari lisan kita, terkadang terselip di dalamnya celaan dan aib orang lain. Yang mana, oleh si empunya, aib tersebut berusaha ia tutupi sekuat tenaga, tetapi malah kita buka di hadapan orang lain.

Terkadang pula, menggosipkan orang kita lakukan secara sengaja. Sengaja membuka aib karena ketidaksenangan kita. Sengaja mencela karena kedengkian kita. Sehingga jika orang lain yang kita bicarakan itu mendengar, orang itu akan kecewa, tersinggung, dan sakit hati. Inilah ghibah yang disebutkan Rasulullah r sebagaimana sabdanya berikut ini.

أَلْغِيْبَة ذِكْرَكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُهُ

Ghibah (menggunjing) adalah apabila engkau menyebut perihal saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukai olehnya.” (H.R. Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, dan Ahmad)

Padahal Ghibah atau bisa disebut juga menggunjing adalah perbuatan yang dibenci Allah I sebagaimana yang difirmankan dalam al-Qur’an;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari menggunjing. Sesungguhnya sebagian menggunjing itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujurat: 12)

            Sahabat Anas bin Malik t berkata, bahwa Rasulullah r bersabda, “Pada malam ketika aku melakukan perjalanan malam (isra’), aku melewati suatu kaum yang mencakar wajah mereka dengan kuku-kuku mereka sendiri. Aku bertanya, ‘Wahai Jibril, siapakah mereka itu?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang menggunjing dan mencela kehormatan orang lain.’” (H.R. Abu Daud).

Siapakah yang sudi memakan sepotong daging mayit? Siapa pula yang sanggup mencakar wajahnya sendiri? Tentulah tidak ada yang sudi. Sudah sedemikian jelas gambaran yang diberikan oleh Allah dan Rasulullah tentang bahaya ghibah. Semoga kita mendapat perlindungan dari Allah I sehingga terhindar dari perbuatan ghibah atau menggunjing.

Para sahabat Nabi sangat menjauhi ghibah. Mereka hidup bahu membahu dan saling menjaga perasaan saudaranya. Menjaga lisan masing-masing supaya tidak menyakiti hati kaum muslimin. Jika mereka bertemu dengan saudaranya, mereka bertemu dengan perasaan yang gembira dan bila berpisah mereka tidak melakukan ghibah atau menggunjing. Barangkali ucapan Abdullah bin Abbas t sangat baik untuk kita renungkan setiap saat. “Apabila kamu hendak menyebut aib saudaramu, hendaklah ingat aib diri kamu sendiri.”

Iman yang bersemayam dalam dada seorang mukmin, akan membuat lisannya terjaga. Seorang mukmin yang sejati adalah ketika saudaranya selamat dari keburukan lidah dan tangannya. Seorang mukmin yang dijaga oleh Allah adalah mukmin yang lebih sibuk terhadap urusan (aib) dirinya sendiri dari pada mengurusi (aib) orang lain. Ia selalu mengingat dua hal dan melupakan dua hal yang lain. Dua hal pertama adalah dia melupakan kebaikan dirinya sendiri dan melupakan keburukan orang lain. Dua hal berikutnya adalah mengingat keburukan diri sendiri dan mengingat kebaikan orang.

Jika dalam penelitiannya dia menemukan keburukan dirinya, dia segera sibuk memperbaikinya sehingga tidak sempat mengingat keburukan orang lain. Dengan demikian orang lain akan merasa nyaman untuk bergaul dengannya. Dia pun dicintai oleh saudaranya karena diapun dicintai oleh Allah I.

Hasan al-Bashri berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak akan menjumpai hakikat iman sehingga kamu tidak mencela orang dengan cela yang juga ada pada dirimu. Juga hingga kamu memperbaiki cela tersebut lalu kamu memperbaiki cela dirimu sendiri. Bila kamu melakukan hal tersebut berarti kamu telah sibuk dengan dirimu sendiri. Hamba yang dicinta Allah adalah hamba yang seperti ini.”

Marilah berharap, semoga Allah menjaga kita dari keburukan-keburukan amal, menjaga lisan kita dan menjauhi ghibah ataupun mencela. Semoga kita termasuk orang-orang yang dicintai oleh Allah sehingga para penduduk langit mencintai kita dan penduduk bumi pun mencintai kita. Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin.

Wallahu a’lam.