Menjelajah Rajastan, India

Oleh:

Zein bin Abdullah Ba’abud

Da’i Muda dari Malang

zeinbaabud@gmail.com

images (7)Setelah lama tertunda, rencana untuk berkelana ke India akhirnya tercapai juga, tepatnya pada tanggal 1 Desember 2014. Dari Juanda International Airport Surabaya saya terbang ke Kuala Lumpur Malaysia. Sesampai di Bandara KLIA Kuala Lumpur, saya bertemu dengan beberapa sahabat dari Johor Bahru, Malaysia untuk terbang bersama ke New Delhi, India.

Tepatnya pukul enam pagi waktu Malaysia kami terbang ke New Delhi. Setelah 6 jam penerbangan kami mendarat di Mahatma Gandhi International Airport. Setelah selesai mengurus On Arrival Visa, dengan menggunakan taksi kami menuju pusat kota Delhi guna mencari hotel untuk beristirahat. Dibawalah kami ke Empire Sing Hotel, sebuah hotel yang bernuansa Hindu yang sangat kental, khususnya dengan banyaknya gambar dewa-dewa pujaan mereka.

Waktu sudah larut malam perut terasa lapar, kami tidak berani mengkonsumsi makanan yang disediakan hotel meski resepsionis hotel mengatakan makanan mereka semua halal. Sulit sekali menemukan orang yang dapat dipercaya di kota ini, rasanya semua ingin memeras pengunjung yang datang khususnya dari luar negeri.

Cukup sulit mencari makanan halal di New Delhi, apalagi telah larut malam. Kami pergi ke kawasan Jamah Masjid salah satu pusat kawasan Islam di Delhi, semua restoran Islam pun sudah tutup. Namun terlihat ada seorang dengan menggunakan busana muslim duduk di tepi jalan. Alhamdulillah ternyata beliau adalah pemilik sebuah restoran, walau restoran sudah tutup kami dilayani. Hanya saja tidak ada tempat duduk kecuali di halaman restoran. Karena banyak anjing berkeliaran, kami memutuskan untuk membawa makanan ke hotel.

Sebelum masuk hotel, kami memberikan sebungkus roti Chapati dan Chicken Khurma yang kami beli untuk supir taksi yang mengantarkan kami. Tapi tawaran tersebut ditolak mentah-mentah. Dia mengatakan bahwa dirinya penganut Hindu yang taat yang dilarang memakan semua jenis daging. Sungguh kasihan, tidak pernah merasakan nikmatnya makanan-makanan halal dan thayib, yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia. Saat itu juga timbul rasa syukur atas dijadikannya kita menjadi orang yang mengimani dan menerapkan agama Allah yang suci ini.

Istirahat beberapa jam, sudah tiba waktu shalat subuh. Setelah shalat, kami bergegas menuju stasiun kereta New Delhi untuk berangkat ke Ajmeer Syareef di Rajastan yang menjadi salah satu tujuan utama kami datang ke India ini.

Enam jam perjalanan kereta api, banyak pengalaman menarik khususnya, karena ini pengalaman pertama kami naik kereta api di India. Kereta api yang sangat panjang dan tidak ada kursi, setiap orang mendapat satu ranjang tidur lebih nyaman dibandingkan kereta api di Indonesia. Di antara yang cukup menghibur perjalanan kami selain dari pemandangan perkampungan demi perkampungan unik yang kita lalui, ternyata sebelah kami adalah seorang penyanyi muslim asal Mumbai. Setelah bercengkerama, dia melantunkan qasidah burdah gubahan Imam Bushiri untuk kami dengan logat hindi yang sangat kental.

Akhirnya kereta berhenti di Stasiun Ajmeer Rajastan di daerah Ajmeer Syareef. Ditambahkan kata Syareef karena di daerah inilah dimakamkan Hazrat Assayid Muinuddin Chisty yang makam beliau dikunjungi puluhan ribu peziarah setiap harinya, peziarah muslim maupun yang non muslim.

Sayyid Muinuddin Chisty adalah seorang Ulama dari kalangan Ahlulbait. Beliau adalah cucu ke-11 Rasulullah SAW dari jalur al-Imam Musa al-Kadzim ra. Sedangkan para habaib di Indonesia kebanyakan adalah dari Jalur al-Imam Ali al-Uraidhi yang tidak lain adalah saudara kandung Imam Musa al-Kadzim, yang keduanya adalah putra al-Imam Ja’far as-Shadiq ra.

Pada awalnya, Sayyid Muinuddin berasal dari Madinah al-Munawwarah. Menurut riwayat yang masyhur di Ajmeer bahwa suatu malam di Madinah, Sayyid Muinuddin berjumpa Rasulullah SAW di dalam mimpi. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah SAW memerintahkan beliau untuk hijrah ke sebuah tempat yang bernama Ajmeer di Rajastan, India.

download (4)

Maka sesuai sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang melihatku di dalam mimpi, maka dia telah benar-benar melihatku, karena syaitan tidak dapat menyerupai diriku”, as-Sayyid Muinuddin bergegas berangkat mencari tempat yang dimaksudkan Rasulullah SAW tersebut. Setelah menempuh perjalanan yang panjang, sampailah beliau di Ajmeer yang pada saat itu tidak ada seorangpun penduduknya yang muslim. Bahkan penduduk Ajmeer saat itu sangat fanatik sekali kepada ajaran Hindu. Sehingga permulaan beliau mencoba berdakwah di Ajmeer mendapatkan tentangan dari masyarakat setempat.

Tentangan demi tentangan dihadapi dengan senyuman. Sampailah suatu hari seorang pemuka Hindu membanggakan sebuah kuil Hindu terbesar di Ajmeer kepada sayyid Muinuddin serta merendahkan Sayyid Muinuddin. “Kami mampu membangun kuil sebesar ini, sedangkan dirimu tidak dapat berbuat apa-apa untuk agamamu,” kata pemuka Hindu tersebut.

Maka tampaklah karamah dari Sayyid Muinuddin dengan runtuhnya secara tiba-tiba kuil tersebut dan dalam dua hari tiba-tiba terbangun sebuah masjid yang seluruh dindingnya tertulis ayat-ayat al-Qur’an. Masyarakat menyebut masjid ini Masjid Jin, karena keberadaannya yang tiba-tiba dan tidak wajar.

Kejadian ajaib ini telah membawa 80.000 masyarakat Ajmeer memeluk agama Islam dan disusul kemudian oleh yang lain sepanjang perjalanan dakwah beliau di Ajmeer.

Dari stasiun kereta Ajmeer, kami langsung menuju kawasan Dargah Gharib Nawaz. Dargah adalah istilah untuk makam seorang ulama di India, sedangkan Gharib Nawaz adalah gelar Sayyid Muinuddin. Dengan menggunakan Otto atau Bajaj sebagai alat transportasi yang sangat umum di semua kota di India, kami menuju kawasan Dargah. Tampak suasana sekitar Ajmeer jauh berbeda dengan New Delhi. Nuansa keislaman nampak sangat kental jalan dipenuhi dengan orang-orang yang berbusana muslim, baju koko putih, dan kopyah putih untuk lelaki dan baju panjang hitam dan jilbab hitam untuk wanita.

Ketika otto memasuki kawasan Dargah, subhanalllah jalan penuh dan sesak dipadati oleh peziarah yang datang dari berbagai penjuru India dan Pakistan. Kanan-kiri dipenuhi dengan penjual souvenir, busana muslim, dan juga kaset kaset DVD yang isinya mengenai sejarah Sayyid Muinuddin dan lantunan-lantunan syair pujian untuk beliau tentunya dengan bahasa Hindi dan Urdu.

s

Suasana yang ramai unik dan menarik susah digambarkan dengan kata-kata. Hati serasa sangat tenteram, sehingga ketika awal tiba terbesit dalam hati ingin rasanya berlama-lama di tempat ini. Otto membawa kami ke Royal Palace Hotel. Setelah memesan kamar, kami istirahat sejenak sambil menunggu sahabat-sahabat kami dari Kerala, salah satu negara bagian di ujung selatan India. Mereka menempuh perjalanan 3.000 km dari Kerala ke Ajmeer menggunakan kereta api dengan jarak tempuh dua hari dua malam.

(Bersambung)