Menumbuhkan Sedekah melalui Badan Amal Usaha Organisasi

Menumbuhkan Sedekah melalui Badan Amal Usaha Organisasi

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.

(Q.S.Al-Baqarah: 276)

Umat Islam di seluruh dunia terbukti menjadi umat yang mempunyai tingkat kedermawanan yang tinggi dibandingkan umat agama lain. Kondisi ini terungkap dari hasil survei CNN Wire London pada tahun 2011. Survei tersebut menunjukkan umat Islam memiliki kedermawanan tertinggi sebesar 61%. Nilai ini lebih tinggi dari umat kristiani yang hanya sebesar 24%, umat Budha 20%, dan umat Hindu 33%. Hasil lanjutan dari survei tersebut juga mengungkapkan bahwa umat Islam Indonesia memiliki tingkat kedermawanan tertinggi jika dibandingkan dengan umat Islam negara lain dengan tingkat kedermawanan mencapai 91%. Artinya hampir seluruh umat Islam Indonesia mulai dari kelas atas sampai bawah sama-sama memiliki motivasi untuk berderma.

Menumbuhkan Sedekah melalui Badan Amal Usaha Organisasi

http://riopurboyo.com

Salah satu bukti nyata dari survei tersebut kita dapat melihat berbagai lembaga Islam utamanya masjid dapat hidup dari hasil sedekah umat Islam. Bahkan banyak di antara masjid-masjid itu memiliki asset yang cukup besar. Namun, asset yang besar tersebut belum termanfaatkan secara optimal, bahkan fakta membuktikan banyak asset yang hanya menganggur sebagai uang kas di masjid. Padahal, aset tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan sosial ekonomi umat.

Kalau kita telaah ajaran Islam, menimbun harta merupakan perbuatan yang dilarang. Larangan itu sangat jelas tertuang dalam Q.S. Al-Humazah: 1-3 yang artinya,

Celakalah semua pedagang jahat dan suka menjatuhkan orang lain yang menumpuk hartanya dan memperbanyak dengan harapan hartanya tersebut dapat menjadikannya hebat dan selalu bertahan selamanya.

Tujuan pelarangan itu adalah agar setiap harta yang dimiliki umat Islam dapat terdistribusi dengan baik dan dapat meningkatkan kesejahteraan umat. Sehingga, dalam praktik ekonominya Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam selalu menerapkan prinsip ini, misalnya ketika terjadi peristiwa jatuhnya wilayah Bani Nadhir ke tangan kaum muslimin tanpa melalui suatu pertempuran. Semua aset yang ditinggalkan mereka dipandang sebagai fa’i negara dan orang-orang yang berhak menerimanya telah ditentukan Al-Qur’an dalam surat Al-Hasyr ayat 7, yakni kaum kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, dan para musafir. Dalam hal ini, Al-Qur’an memberikan rasionalisasi terhadap ketentuan di atas, yakni agar harta itu jangan hanya berputar di segelintir orang saja supaya kemanfaatan harta tersebut dapat dioptimalkan (Karim, 2004).

Dalam perspektif ekonomi modern, proses pemanfaatan harta tersebut biasa disebut dengan investasi. Menurut teori ekonomi, setiap investasi selalu membawa efek berganda (multiplier effect) dalam sistem perekonomian. Secara sederhana multiplier effect dapat dicontohkan dengan adanya bangunan sekolah di sebuah lingkungan, pasti akan menarik hidupnya roda perekonomian di sekitar sekolah tersebut, seperti ada tukang fotokopi, warung makan, dan lain-lain. Sehingga apabila dana sedekah tersebut bisa dimanfaatkan untuk investasi, pastilah akan mempunyai multiplier effect kemanfaatan yang lebih besar.

Pemanfaatan dana produktif tersebut saat ini telah dilakukan oleh beberapa ormas Islam melalui badan amal usaha (BAU). Mengutip pemberitaan harian Republika edisi Sabtu 23 Mei 2015, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sebagai salah satu ormas Islam besar di Indonesia, telah memiliki Badan Amal Usaha yang bergerak di bidang media di antaranya buletin Jumat AlIslam, tabloid Media Umat, dan beberapa media lain. Dari penghasilan periklanan media tersebut, HTI dapat menghidupi dirinya sendiri. Ormas Persatuan Islam (Persis) juga mempunyai beberapa BAU yang bergerak di bidang pendidikan dan perbankan. Saat ini Persis mengelola 300 Raudlatul Athfal, 260 MI, Mts, MA, 60 pesantren, enam perguruan tinggi, dan 400 masjid. Selain itu, Persis juga mengelola BPRS Amanah Rabbaniah di Kabupaten Bandung. Hal demikian juga terjadi pada Persyarikatan Dakwah Al-Haromain (Persyada). Mereka memiliki puluhan pondok pesantren binaan yang tersebar di seluruh Indonesia, yang masing-masing memiliki BAU sendiri maupun terpusat. Persyada juga mengelola Lembaga Pendidikan Islam (LPI), majalah dakwah Al-Haromain, Supermarket Nashibaka, di samping lembaga LAZ yakni LAZIS AL-HAROMAIN. Dengan adanya BAU tersebut tentu kemanfaatan ormas Islam kepada masyarakat akan semakin besar.

Dengan melihat fakta-fakta di atas, sebenarnya sudah saatnya pengelolaan sedekah produktif melalui Badan Amal Usaha (BAU) organisasi dapat diterapkan di segala lapisan lembaga Islam, mulai masjid, pesantren, panti asuhan, dan lembaga Islam lainnya. Saat ini, Pasantren Mahasiswa (PESMA) Baitul Hikmah Surabaya juga mulai merintis Badan Amal Usaha dalam sektor Agribisnis melalui penanaman jahe. BAU ini merupakan gagasan untuk memanfaatkan sedekah santri. Sementara penanaman sendiri juga dilaksanakan di rumah santri, yang sebagaian besar masih mempunyai lahan luas di Desa, dengan menggunakan akad bagi hasil. Dengan program ini, manfaat jangka pendek yang bisa didapat adalah adanya usaha pemberdayaan ekonomi terhadap lahan menganggur milik santri dan dalam jangka panjang diharapkan lini usaha dapat bertambah. Dan PESMA akan semakin bermanfaat dari segi sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Konsep semacam itu juga bisa diterapkan oleh lembaga Islam lain, misalnya masjid. Masjid-masjid dalam satu desa dapat bekerja sama untuk membentuk Badan Amal Usaha, misalkan usaha dalam bidang perdagangan dengan memanfaatkan pasar yang ada di desa tersebut. Keuntungan bersih dari hasil usaha tersebut 50% bisa digunakan untuk kegiatan sosial dan 50% bisa digunakan untuk pengembangan usaha.

Dengan adanya konsep pengelolaan sedekah produktif melalui badan amal usaha (BAU) tersebut, kita dapat membayangkan manfaat besar yang dimiliki lembaga-lembaga Islam bagi masyarakat. Jika program ini dapat diterapkan di segala lapisan ormas Islam baik besar maupun kecil, maka ke depannya ormas Islam akan menjadi penggerak ekonomi sektor rill di Indonesia. Ormas Islam dapat membantu pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis, pendidikan gratis, dan program-program lain yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Dengan demikian, nyatalah pesan yang tersurat dalam Al-Qur’an bahwa Allah akan menumbuhkan-suburkan sedekah, di mana pertumbuhan tersebut akan mempunyai efek bagi masyarakat Indonesia, khususnya kaum muslimin.

Wallahu a’lam.

[]

Oleh : Arikha Faizal Ridho (Santri Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya)