Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Menyiapkan Anak Menjadi qurrota A’yun Orangtua | LAZIS AL HAROMAIN

Menyiapkan Anak Menjadi qurrota A’yun Orangtua

Oleh

Masitha Achmad Syukri

Ketua DPP Anshoriyyah Yayasan Persyada Al Haromain

Dosen Linguistik Dept. Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya UNAIR

Saat orangtua ditanya, “Anak Bapak kerja dimana?” atau “Anak Ibu dinas dimana?” tidak sedikit orangtua yang menjawab dengan bangga (bahkan bisa jadi kelewat bangga). “Anak saya bupati di …” atau “Anak saya professor di …” atau “Anak saya dokter …” atau “Anak saya direktur di tiga perusahaan” atau juga “Anak saya penyanyi terkenal nasional.”

Dan tidak sedikit pula orang tua yang menjawab dengan malu-malu atau pun dengan suara pelan. “Anak saya dagang kecil-kecilan di rumah” atau “Anak saya cuma ngajar ngaji” atau “Anak saya cuma ibu rumah tangga.”

Tampak bahwa yang kerapkali menjadi tolok ukur anak yang menyenangkan atau membahagiakan orangtua adalah anak yang memiliki jabatan atau kedudukan ataupun profesi yang lumayan bergengsi yang semuanya bisa menghasilkan harta kekayaan dan atau ketenaran. Sementara itu, realita yang dihadapi adalah orang tua kerap tinggal sendirian, komunikasi dengan anak hanya via telepon, harapan dijenguk anak saat hari raya seringkali pudar karena anak harus dinas, dan sebagainya. Walhasil, kebahagiaan itu ternyata terasa semu adanya. Jadi, tidaklah tepat jika harta, kedudukan, ataupun ketenaran anak menjadi tolok ukur bahwa sianak bisa membahagiakan orangtua, terutama di masa tua, apalagi selepas masa hidup orangtua di dunia. Lantas, kriteria apa yang sebenarnya mesti melekat pada anak agar bisa menyenangkan orang tua itu? Bagaimana pula upaya orang tua untuk mendapatkan kriteria itu?

PenyebutanAnakdi dalam Al-Qur’an

Di dalam Al Qur’an, kata anak(aulad/banuun) disebutbeberapa kali dandisandingkandengan kata harta (amwal/maal)dalam Al-Qur’an. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat At Taghaabun (64) ayat15:

إِنَّما أَموالُكُم وَأَولادُكُم فِتنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجرٌ عَظيمٌ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Allah juga berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi (18) ayat 46:

المالُ وَالبَنونَ زينَةُ الحَياةِ الدُّنيا ۖ وَالباقِياتُ الصّالِحاتُ خَيرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوابًا وَخَيرٌ أَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

Allah juga berfirman di dalam Al Qur’an surat Al-Isra (17) ayat 6:

ثُمَّ رَدَدنا لَكُمُ الكَرَّةَ عَلَيهِم وَأَمدَدناكُم بِأَموالٍ وَبَنينَ وَجَعَلناكُم أَكثَرَ نَفيرًا

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Perhiasan merupakan sesuatu yang indah dan menyenangkan. Jadi, harta dan anak bisa dikatakan bahwa keduanya adalah hal yang memang bisa menghantarkan pada kesenangan atau pun kehormatan seseorang dan atau orang tua. Karena itu pula dapat dimaklumi bahwa secara umum harta dicari atau diupayakan adalah agar mendapatkan kesenangan hidup di dunia; sedangkan anak dicintai, dirawat, diasuh, dilindungi, dipenuhi kebutuhannya hingga anak akan tumbuh menjadi sosok yang menyenangkan atau membahagiakan orang tua.

Tapi sudah seharusnya kita menyadari bahwa Allah sudah mengingatkan kalau harta dan anak itua dalah cobaan buat kita semua: apakah kita bersyukur karenanya dan atau bersabar atasnya. Selain itu, Allah juga sudah menegaskan bahwa terdapat hal yang lebih mulia dari pada perhiasan dunia yang berwujud harta dan anak tersebut, yakni amal shalih. Niat dan tujuan amal shalih hanyalah karena dan untukAllah semata.

 

Sederhananya, jangan sampai hanya karena anak, orang tua menjadi penakut, kikir, atau pun susah. Artinya, tidak dapat dibenarkan bahwa hanya karena anak, orang tua menjadi penakut, yakni takut kehilangan jabatan atau kedudukan. Karena jika tidak memiliki jabatan, orang tua merasa tidak akan dapat menghidupi anaknya dengan layak, orang tua tidak bisa menjadi kebanggaan anaknya, dan sebagainya. Jangan sampai pula, hanya karena anak, orang tua menjadi kikir, yakni berprinsip bahwa hartanya hanyalah untuk dirinya, keluarganya, dan atau anak-anaknya saja, sehingga orang tua tidak suka berderma, berinfaq, atau pun bershadaqah. Juga jangan sampai, hanya karena anak, orang tua menjadi susah, yakni susah tidak dapat menyekolahkan anaknya di sekolah favorit, susah tidak dapat memberikan fasilitas yang layak untuk anaknya, sedih tidak bisa memberi harta warisan yang melimpah buat anaknya, dan sebagainya.

KriteriaAnakmenjadiQurrotaA’yunOrangtua

Karena Allah sudah menyatakan bahwa anak adalah cobaan bagi orang tua dan yang lebih mulia adalah amal shalih, maka kriteria anak yang menjadi qurrotaa’yun atau kesenangan/ kebahagiaan orang tua sejatinya tidak didasarkan pada harta, kedudukan, ataupun ketenaran anak. Akan tetapi, kriterianya adalah keimanan dan ketaatan anak kepada Allah, yang pada akhirnya pasti akan membuahkan ketaatan anak kepada orang tua juga. Mereka tumbuh menjadi anak yang selalu mendoakan orang tua mereka agar Allah mengampuni dan menyayangi kedua orang mereka sebagaimana orang tua mereka mengasihi mereka pada saat masih kecil.

Dengan demikian, upaya yang seharusnya dilakukan oleh para orang tua adalah mendidik anak untuk mengenal Allah, untuk selalu mengingat Allah (berdzikir kepada Allah), untuk selalu bersyukur kepada Allah, dan untuk selalu beribadah kepada Allah dengan sebaik-baik ibadah. Sungguh kondisi tersebut merupakan kemuliaan tiada tara, jauh melampaui esensi harta, kedudukan, atau pun ketenaran anak.

Keberhasilan upaya tersebut tentu tidak lah dapat dicapai atas perjuangan orang tua semata, tapi berkat pertolongan dan kehendak Allah saja sehingga upaya dan harapan orang tua tersebut bisa terwujud. Oleh karena itu, orang tua sudah seharusnya senantiasa mengiringi upaya yang dilakukannya dengan doa, sebagaimana yang diajarkan Allah di dalam Al Qur’an surat Al-Furqan (25) ayat 74 berikut.

وَالَّذينَ يَقولونَ رَبَّنا هَب لَنا مِن أَزواجِنا وَذُرِّيّاتِنا قُرَّةَ أَعيُنٍ وَاجعَلنا لِلمُتَّقينَ إِمامًا

 

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan hidup kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Dengan segenap ketundukan hati, kita panjatkan doa tersebut kepada Allah setiap saat usai shalat agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang menyenangkan hati dan menyejukkan mata kita baik di dunia maupun di akhirat kelak. Bukankah doa orang tua untuk anaknya adalah bagaikan doa Nabi untuk umatnya?

Wallaahu a’lamu bish-shawab.