Menyiapkan Diri Menjadi Ibu Para Mujahid

Oleh

Masitha Achmad Syukri

Ketua DPP Anshoriyyah Yayasan Persyada Al Haromain

Dosen Linguistik Dept. Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya UNAIR

images (6)Saya tidak bisa membayangkan ketabahan dan ketegaran para ibu di Palestina, di Rohingya, di Syiria, dan sebagainya saat melihat anaknya terluka atau terbunuh dalam perang ataupun gerakan biadab pemusnahan orang-orang Islam oleh kaum kafir, para musuh-musuh Islam. Kelelahan saat mengandung, ketegangan dan kesakitan mempertaruhkan nyawa saat melahirkan seolah tidak pernah terjadi. Rasa itu seolah hilang begitu saja tergantikan dengan rasa sedih yang tak terperi akan ketidakberdayaan melindungi si kecil yang mati ataupun yangterluka. Tapi saya yakin, kesedihan itu bermuara pada kerelaan dan doa seperti yang dialami oleh sahabat al Khansa, yakni seorang ibunda para mujahid sejati.

Wahai anak-anakku … kalian telah masuk Islam dengan taat, dan berhijrah dengan penuh kerelaan … Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, kalian adalah putra dari laki-laki yang satu sebagaiman kalian juga putra dari perempuan yang satu … Aku tidak pernah menghinati ayah kalian … Tak pernah mempermalukan paman kalian … tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian … dan tak pernah menyamarkan nasab kalian.

Kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang-orang yang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negri akhirat yang abadi jauh lebih baik dari negri dunia yang fana. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (Q.S. Ali Imran (3): 200)

Andaikata besok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani … mintalah kemenangan atas musuhmu dari ilahi …

Apabila pertempuran mulai sengit dan api peperangan mulai menyala, terjunlah kalian ke jantung musuh … habisilah pemimpin mereka saat perang berkecamuk … Semoga kalian meraih ghanimah dan kemuliaan di negri yang kekal dan penuh kenikmatan …”

Petikan di atas adalah wasiat Al Khansa  kepada keempat puteranya sebelum merekamati syahid pada perang Al-Qadisiyyah, yakni nama sebuah tempat kira-kira 45 mil dari Lufah, Iraq. Di lokasi itu terjadi pertempuran hebat antara kaum muslimin (dibawah komando Sa’ad bin Abi Waqqash) melawan Persia (dibawah komando Rustum) pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab (16 H) yang diakhiri dengan kemenangan kaum musliman dan keruntuhan kerajaan Persia.

Saat mendengar syahid keempat putranya, al Khansa berkata sambil tersenyum, “Segala puji hanyalah bagi Allah yang memuliakanku dengan kesyahidan mereka. Aku berharap kepadaNya agar mengumpulkanku kelak bersama mereka dalam naungan rahmatNya …

*****

Para generasi sahabat telah memberi teladan kepada orang tua dalam menyiapkan mujahid-mujahid Islam yang tangguh dan gagah berani. Mereka telah melahirkanputra-putra mereka yang memiliki keberanian yang luar biasa, kepahlawanan yang tiada tara, dan kegagahan dalam berjihad. Mereka mempelajarinya dari teladan pendidikan Rasulullah. Para shahabiyah juga menjadi ibu yang selalu mendorong putra-putra mereka untuk selalu ikut terjun ke medan perang untuk meraih panji-panji kemenangan umat Islam.

Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Kami mengajari anak-anak kami seni berperang Rasulullah sebagaimana kami mengajarinya surat di dalam Al Qur’an.”

Apa yang disampaikan Sa’ad bin Abi Waqqash sangat luar biasa. Hal itu berarti para sahabat memandang mengajarkan seni berperang Rasulullah sama pentingnya dan melakukannya dengan sama seringnya dengan mengajarkan Al Qur’an. Tentu saja hal itu dapat dipahami karena pada dasarnya berperangnya Rasulullah adalah untuk menjunjung tinggi dan menegakkan Al Qur’an di muka bumi.

Sudah selayaknya para ibu yang beriman menginginkan dan menyiapkan diri untuk bisa melahirkan generasi dengan mental pejuang, yang menyadari tanggungjawabnya terhadap Islam, yakni mengemban dakwah Islam dengan membawa Islam ke seluruh dunia dengan jihad, pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan.

Berikut pernyataan Abdullah Nashih ‘Ulwan dalam kitabnya yang berjudul Tarbiyatul Aulad fil Islamtentangupaya yang harus dilakukan oleh para pendidik dalam menanamkan semangat jihad  kepada anak-anaknya.

  1. Menumbuhkan kesadaran pada diri anak bahwa kemuliaan Islam dan kejayaannya hanya bisa terwujud melalui jihad dan menegakkan kalimat Allah.
  2. Memahamkan kepada anak beberapa jenis jihad, yakni jihad harta (berinfaq), jihad tabligh (menyampaikan Islam secara lisan), jihad ta’lim (jihad pendidikan), jihad politik, dan jihad perang.
  3. Selalu mengingatkan anak tentang kisah kepahlawanan anak-anak para sahabat agar bisa ditiru oleh anak.
  4. Menugasi anak untuk menghafal Qur’an surat al Anfal (8), at Taubah (9) al Ahzab (33) dan ayat-ayat lainnya tentang jihad, bersama asbabun nuzulnya, penjelasan maknanya, dan kejadian-kejadian yang menggambarkan keberanian pada ayat-ayat tersebut yang dialami dan dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya yang mulia. Dengan itu, anak akan menjadi pemberani dan terdorong untuk berjihad dengan berbagai bentuknya dan bahkan berharap mati syahid di jalan Allah.
  5. Memperdalam aqidah qadha dan qadar dalam diri anak, yakni hanya Allah yang menghidupkan dan mematikan, memuliakan dan menghinakan, memberi madharat dan manfaat, serta yang merendahkan dan meninggikan; atas kuasaNyalah semuanya terjadi.

Karena anak harus tumbuh menjadi sosok yang bermental pemberani, mereka harus dididik untuk bergaul dengan teman-teman sebayanya, kerabatnya, dan orang lain. Mereka harus dikenalkan biografi para pahlawan dan panglima muslim. Mereka juga harus diajari berenang dan berkuda. Mereka harus dididik untuk berani mengajukan pendapat dan selalu tampil penuh percaya diri alias tidak minder.Mereka dibiasakan untuk diajak menghadiri berbagai pertemuan khalayak ramai, baik formal maupun informal, serta diajari bicara kepada orang dewasa dengan sopan dan  jelas.

Jadi, di tangan para ibu yang cinta dan taat kepada Allah dan RasulNya dan sungguh-sungguh pula menolong agama Allah, insyaAllah anak akan berubah dari kondisi: kelemahan menjadi berkekuatan, kekurangan menjadi berkelebihan, keraguan menjadi berkeyakinan diri, kerendahan diri menjadi bermartabat, kekhawatiran menjadi tenang dirinya, kehinaan menjadi berkemuliaan.Wallahu a’lam bishshawab.