Meraih Anugerah Berlimpah

Allah SWT berfirman:

Q.S. Al-Kautsar: 01

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberimu al-kautsar.”

Analisa Ayat

Di sini Allah meneguhkan dan mengingatkan anugerah berlimpah-Nya (imtinan) yang telah Dia berikan kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW dengan kata al Kautsar yang memiliki makna :

  1. Sesuatu yang banyak

Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa Rasulullah SAW sangat berbeda dengan manusia biasa serta berbeda pula dengan para nabi yang lain. Berbeda dengan manusia biasa artinya Rasulullah SAW memiliki khasha’ish yaitu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia lain. Beliau terlahir dalam keadaan dikhitan dan tali pusar yang telah diputus. Secara fisik beliau adalah manusia yang paling tampan melebihi ketampanan Nabi Yusuf as. Wajah beliau cerah seperti bulan purnama.

Kekuatan yang dimiliki oleh beliau juga di atas rata-rata manusia biasa. Beliau bisa membanting Rukanah yang terkenal paling perkasa di Makkah dengan begitu mudah. Juga pernah membanting pegulat kuat lain semacam Abu Aswad al-Jumahi sehingga akhirnya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika menggali Khandaq semua sahabat menyerah untuk bisa memecahkan sebuah batu besar yang sangat keras. Akhirnya Rasulullah SAW tampil dan dengan sekali ayunan, maka batu itu pun berkeping-keping. Rasulullah SAW pun sanggup menggauli secara bergiliran sembilan isteri beliau hanya dalam waktu sepanjang dhuha.

Dalam hal non fisik yaitu budi pekerti, maka Rasulullah SAW dinyatakan oleh Allah benar-benar memiliki budi pekerti sangat tinggi. Allah SWT berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَي خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar di atas akhlak yang mulia.[1]

Aisyah ra memberikan kesaksian: “Tidak ada seorang pun yang lebih baik akhlaknya daripada Rasulullah SAW. Akhlak beliau adalah al Qur’an…”

Jadi dari aspek fisik maupun non fisik, Rasulullah SAW adalah manusia biasa yang tidak seperti umumnya manusia. Sungguh sangat luar biasa banyak keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada beliau. Di samping juga mendapatkan wahyu dari Allah. Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ…

“Katakanlah, aku hanyalah seorang manusia yang telah diberikan wahyu kepadaku…”[2]

  1. Sungai di Surga

Rasulullah SAW bersabda:

الْكَوْثَرُ نَهْرٌ فِى الـْجَنَّةِ…

“AlKautsar adalah sungai di surga…”[3]

Ubaidah bin Abdillah bertanya: “Apakah al-Kautsar?” Aisyah ra menjawab: “Sungai di tengah-tengah surga…” (H.R Ahmad)

  1. Anak-anak keturunan Rasulullah SAW.

Artinya Rasulullah SAW diberikan keturunan yang banyak dan langgeng selama dunia masih berputar. Melihat sejarah betapa banyak anak-anak keturunan Rasulullah SAW yang mengalami nasib dibantai sebagaimana dialami oleh Sayyidina al-Husen ra beserta seluruh keluarga serta sebagian putera Sayyidina Hasan ra. Saat itu beliau dan putera-puteranya semua dibantai oleh tentara Yazid bin Muawiyah kecuali hanya satu yang selamat, yaitu As-Sayyid Ali Zainal Abidin. Dari As-Sayyid Ali Zainail Abidin inilah kemudian marga al-Husen terus bersambung dan menurunkan para ulama-ulama besar yang memenuhi bumi dengan ilmu dan keshalihan, seperti Imam al-Baqir, Ja’far As-Shadiq, dan keturunan beliau berdua. Di Indonesia, mayoritas Wali Songo adalah anak cucu Sayyidina al-Husen bin Fathimah binti Rasulillah SAW. Dan hingga hari ini, cucu-cucu Rasulullah SAW juga masih memegang peranan penting dalam dakwah Islam.

Dengan tafsiran seperti ini, ayat pertama surat al-Kautsar ini menjadi dalil yang mematahkan anggapan salah sebagian kelompok umat Islam bahwa tidak ada lagi keturunan Rasulullah SAW.  Jelas anggapan ini berlawanan dengan sabda Rasulullah SAW :

يَآ أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا : كِتَابُ اللهِ ، وَعِتْرَتِيْ أَهْلُ بَيْتِي.

“Wahai manusia, sesungguhnya benar-benar kutinggalkan di antara kalian hal yang bila kalian mengambilnya (sebagai pegangan), maka kalian tidak akan pernah tersesat; kitab Allah dan keluargaku, anak keturunanku.[4]

  1. Ulama-ulama Islam

Ada banyak sekali ulama Islam yang meneruskan perjuangan Rasulullah SAW sejak beliau wafat hingga hari ini. Ulama-ulama ini dinyatakan dalam hadits yang artinya: “Ulama umatku adalah seperti para nabi Bani Israel.Jika para nabi Bani Israel sepakat pada satu dasar, yaitu mengenal Allah, maka mereka berbeda-beda dalam syariat yang diemban untuk dilaksanakan di kalangan umat. Demikian pula halnya dengan para ulama umat Rasulullah SAW, dalam aqidah seluruhnya sepakat pada satu dasar, yaitu tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Sedang dalam syariat ibadah dan sebagainya, maka mereka saling berbeda satu dengan yang lain, karena sekian banyak faktor baik dari situasi, kondisi atau masa saat mereka berada.

Wallahu yatawwal jami’ biri’ayatih

[1]Q.S. Al-Qalam: 04

[2]Q.S. al-Kahfi: 110

[3]H.R. at-Turmudzi no: 3361, Kitab Tafsir al-Qur’an dari Abdullah bin Umar ra. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya no: 400 dari Anas bin Malik ra. 

[4]H.R. at-Turmudzi no: 3795, Kitab al-Manaqib, bab (32) Manaqib Ahli Baitin Nabiyy SAW dari Jabir ra

download (20)

KH. M. Ihya Ulumiddin

 ‘Aminul’ Am Persyada Al Haromain dan Pengasuh Ma’had Nurul Haromain Pujon – Malang