Mewujudkan Keluarga Bahagia

Mewujudkan Keluarga Bahagia

Irwan Sani, S.E., M.PdI.

(Santri Ma’had Nurul Haromain Pujon Malang)

Keluarga sakinah adalah idaman setiap manusia. Akan tetapi, tidak jarang dari mereka menemukan jalan buntu, baik yang berkecukupan secara materi maupun yang berkekurangan. Apa sebenarnya penyebab itu semua? Mengapa kebanyakan manusia sulit menemukannya? Mengapa sering terjadi percekcokan di dalam rumah tangga, yang kadang-kadang mengakibatkan keruntuhan rumah tangga?

 

MEWUJUDKAN KELUARGA BAHAGIA

daulahislam.com

Melihat kenyataan seperti itu, keluarga sakinah sebagai idaman setiap manusia memang tidak mudah diwujudkan sebagaimana tidak mudahnya mewujudkan misi kenabian oleh setiap manusia. Diperlukan persyaratan-persyaratan yang ketat dan berat. Mengapa? Hal itu dikarenakan dua persoalan tersebut bertujuan mewujudkan kesucian, yakni kesucian berpikir, mengolah hati, bertindak, dan generasi penerus umat manusia. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala menetapkan hak dan kewajiban dalam bangunan rumah tangga. Tujuannya jelas, yakni menghantarkan manusia pada kebahagiaan, damai dan tenteram sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kunci Kesuksesan

Kunci sukses mewujudkan keluarga bahagia adalah komunikasi dan hubungan suami istri yang sesuai dengan fungsi dan perannya. Suami sebagai kepala keluarga hendaknya mampu menempatkan diri secara bijak sesuai dengan tuntutan agama. Seorang kepala keluarga bukanlah seorang yang otoriter dan dominan, tetapi yang lebih utama adalah mengayomi semua anggota keluarga sehingga keberadaannya bukan ditakuti, tetapi selalu menjadi orang yang dihargai, ditunggu keberadaannya dan dihormati. Setiap keputusan yang diambilnya hendaknya keputusan yang bijak tanpa ada keinginan untuk menyakiti anggota keluarga.

           
Kedudukan shalat dalam agama bagaikan kedudukan kepala di dalam tubuh manusia. Manusia tak dapat hidup tanpa kepala. Begitu juga agama tak akan hidup (survive) pada diri orang-orang yang tidak shalat

Sementara itu, wanita sebagai ratu, istri pendamping suami dan ibu dari anak-anak-hendaknya mampu menjadi penentram, penyejuk, dan sumber terciptanya rasa damai dan bahagia dalam keluarga tersebut. Sikap yang penuh keibuan dan rasa kasih sayang yang diberikan oleh istri atau seorang ibu sangat diperlukan oleh anggota keluarga sebagai tempat curhat dalam menghadapi berbagai persoalan hidup di masyarakat. Sebagai ratu rumah tangga, mereka hendaknya mampu mengelola keuangan dan kebutuhan keluarga secara bijak agar selalu tercukupi kebutuhan keluarga dan tercapai kehidupan keluarga yang lebih layak.

Berkaitan dengan hal ini, ada doa spesial dan populer yang suka dibaca oleh hamba-hamba pilihan (ibadurrahman), yaitu:

رَبَّناَ هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk hati dari pasangan-pasangan hidup kami dan anak-anak keturunan kami, dan jadikanlah kami pelopor (dalam kebaikan) bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Al-Furqan: 74)

Agar ada keselarasan, doa yang amat luhur ini mestilah dibarengi dengan ikhtiar atau amalan yang akan membuat masing-masing pengantin, suami-istri, dan anggota keluarga akan menjadi penyejuk mata dan penenteram hati bagi pihak lainnya. Berikut hal-hal yang telah diajarkan oleh Rasulullah untuk mewujudkan kebahagiaan rumah tangga:

  1. Menegakkan shalat lima waktu

Shalat adalah pertama dan utama. Kewajiban shalat lima waktu ini merupakan perintah yang sangat agung, yang menjadi penegak agama seseorang. Karena menjadi penegak agama, ibarat sebuah rumah, shalat adalah tiang penyangganya. Adakah rumah berdiri tanpa tiang? Abuya Prof. Dr. As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani mengibaratkan, “Kedudukan shalat dalam agama bagaikan kedudukan kepala di dalam tubuh manusia. Manusia tak dapat hidup tanpa kepala. Begitu juga agama tak akan hidup (survive) pada diri orang-orang yang tidak shalat.”

Dalam hal ini, kita bisa menarik sebuah kesimpulan, orang yang tidak menjaga dengan baik perintah shalat lima waktunya, maka bisa dipastikan mereka akan mengalami jiwa yang gelisah, hati yang kering, layu, memudar dan bahkan bisa mati. Pada akhirnya, hal itu menyebabkan kehidupan rumah tangga seseorang akan banyak menemukan kesulitan dan kepelikan hidup.

  1. Melazimkan beristighfar

Perselisihan dan pertengkaran dalam sebuah rumah tangga banyak disebabkan oleh kotornya hati, karena dosa-dosa yang kita lakukan. Oleh karena itu, kita wajib selalu mengobati hati kita dengan memperbanyak beristighfar dan bertaubat kepada Allah dengan taubatan nasuha.

Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَازِمَ اْلإِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِب.

“Barang siapa melazimkan (merutinkan) istighfar, maka Allah akan menjadikan baginya di setiap kesusahan ada kelapangan, di setiap kesulitan ada jalan keluar, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (H.R. Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan al-Hakim)

Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus di dalam kitabnya Al-Kibritul Ahmar wa Iksirul Akbar, mengatakan: “Tobat merupakan jenjang pertama yang harus dilewati oleh seorang mu’min. Tanpanya, seseorang tidak akan pernah bisa menggapai kedekatan dengan Allah.”

Oleh karena itu, orang-orang yang membiasakan diri memohon ampun kepada Allah setiap harinya akan menjadi orang-orang yang optimis dan punya semangat serta bersangka baik kepada nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan dalam rumah tangganya sehingga mereka tidak mengenal sifat berkeluh-kesah.

  1. Berdzikir dan bershalawat

Hendaknya bagi anggota keluarga tidak mengenal lelah dalam berdzikir dan bershalawat, karena hal itu akan menjadi “penyejuk-penyejuk ruhani” yang dapat menjadikan rumah tangga yang mampu menghantarkan penghuninya selamat di dunia dan akhirat.

Anggota keluarga yang larut dalam keheningan berdzikir akan meraih kedamaian yang mendalam; begitu pula mereka yang gemar bershalawat. Bershalawat banyak sekali manfaatnya, antara lain shalawat menjadikan amal, umur, dan kegiatan seseorang diberkahi. Yakinlah dengan gema shalawat, rumah tangga kita akan dikaruniai Allah keberkahan yang melimpah.

Demikianlah amalan yang sangat dibutuhkan dalam rumah tangga. Siapapun dari kita tentu berharap menjadi pasangan yang harmonis, bahagia, dan abadi. Sebuah perjodohan yang tidak hanya sementara, tapi selamanya, di dunia dan di akhirat, langgeng, hingga dapat berkumpul bersama kembali dengan ceria di surga ‘Adn lengkap dengan anak-anak keturunannya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

[]