Narkoba — Sumber Keburukan dan Malapetaka

Narkoba Sumber Keburukan dan Malapetaka

Oleh: Ust. Fahd Abdurrahman

Narkoba

tangerangrayaonline.com

Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

اِجْتَنِبُوا الْخَمْرَ فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ

“Jauhilah sesuatu yang memabukkan, sesungguhnya yang memabukkan adalah pembuka seluruh keburukan.

ARTI KALIMAT:

  1. ( اجْتَنِبُوا ): Jauhilah. Mengisyaratkan larangan bukan hanya mengkonsumsi sesuatu yang bisa merusak akal saja, akan tetapi juga melakukan hal-hal yang dapat mengantarkan kepada mengkonsumsi sesuatu yang memabukkan. Seperti halnya isyarat dari firman Allah Subhanahu wata’ala dalam al-Qur’an surat al-Isra’: 32,

Artinya: “Janganlah kalian mendekati perbuatan zina (melakukan hal-hal yang mengantarkan kepada zina), sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan seburuk-buruknya jalan yang ditempuh.

  1. ( الْخَمْرَ ): Tutup-tutup, karena mengkonsumsinya dapat menutupi akal sehat manusia, menjadi tidak sadar dan buntu. Yaitu cairan terbuat dari sari buah-buahan (khususnya anggur), dengan melalui proses tertentu dapat mempengaruhi akal atau memabukkan. Namun yang dimaksud di sini adalah hal yang lebih umum, yaitu: setiap sesuatu yang dapat memabukkan, baik cair (yang dikategorikan dalam minuman keras), seperti: arak, tuak, bir, alcohol, dan sejenisnya, maupun padat (yang dikategorikan dalam obat-obatan terlarang), seperti: heroin, sabu-sabu, narkotika, narkoba, dan sejenisnya. Demikian kata pakar bahasa Arab Imam Fairuz Abadi dalam kamusnya. Seorang pakar tafsir abad keempat Hijriyah, Imam ath-Thabari berkata:

وَمَا خَامَرَ الْعَقْلَ مِنْ دَاءٍ وَسُكْرٍ فَخَالَطَهُ وَغَمَرَهُ فَهُوَ”خَمْرٌ”

Artinya: “Sesuatu berupa penyakit dan mabuk yang dapat mempengaruhi dan menutupi jernihnya akal sehat, itu disebut khamr.

  1. ( مِفْتَاحُ ): Kunci, yang dimaksud adalah penyebab utama.
  2. ( كُلِّ شَرٍّ ): Setiap atau seluruh keburukan. Tapi yang dimaksud adalah berbagai keburukan atau sebagian besar.

PERAWI HADITS:

Hadits ini dengan teks sedemikian rupa hanya diriwayatkan langsung dari Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam oleh shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallohu ‘anh. Akan tetapi banyak riwayat lain yang searti dengan hadits ini sebagai penguat, namun menggunakan teks berbeda pada bagian kedua (فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ شَرّ). Seperti dalam hadits Mauquf atau atsar dari shahabat ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallohu ‘anh:

اجْتَنِبُوا الْخَمْرَ فَإِنَّهَا أُمُّ الْخَبَائِثِ

Artinya: “Jauhilah sesuatu yang memabukkan, sebab ia menjadi biang keladinya beberapa perilaku kotor.” Hadits riwayat an-Nasa’i, al-Baihaqi, dan Abdur Razzaq dalam Mushannafnya.

PENGORBIT HADITS:

Adapun para pakar hadits yang ikut serta mengorbitkan hadits ini adalah: Imam al-Hakim dalam kitab “AlMustadrak“ miliknya dan al-Baihaqi dalam “Syu’ab alIman“ miliknya, serta Ibnu ‘Adi dalam kitab “AlKamil“ karyanya.

STATUS DAN DERAJAT HADITS:

Hadits agung yang berisikan warning dari Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam terkait larangan keras mengkonsumsi sesuatu yang dapat merusak akal sehat manusia ini tergolong dalam deretan hadits yang berstatus hasan. Disebabkan adanya dua perawi yang bernama Muhammad bin Ishaq dan Nu’aim bin Hammad yang menurut sebagian pakar ilmu riwayat hadits, seperti Imam Adz-Dzahabi, Yahya bin Ma’in, dan Abu Dawud, periwayatan keduanya kurang sempurna. Sekalipun mereka berdua termasuk perawi hadits-hadits shahih, seperti dalam Shahih Muslim yang menjadikan Imam al-Hakim mengangkat hadits ini ke deretan derajat hadits shahih dan menghukuminya shahih.

URAIAN HADITS:

Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam memberikan peringatan dan larangan keras kepada ummatnya (khususnya kawula muda yang menjadi incaran utama para perusak moral karena rentan terpengaruh budaya kotor dan rusak) agar tidak melakukan hal-hal yang dapat menyeret mereka melakukan sesuatu yang dapat merusak akal sehat mereka dengan menghindar dari persahabatan rusak moral, ajang-ajang hiburan, pesta-pora bernuansakan aura setan, perayaan-perayaan berworo-woro hawa Iblis, dan sejenisnya. Terlebih lagi mengkonsumsi Miras (minuman keras) atau obat-obatan terlarang tersebut. Hal ini beliau lakukan karena mengharap kehidupan ummatnya sejahtera, dipenuhi dengan rahmat dan ridha Allah Subhanahu wata’ala baik di dunia maupun kelak di akhirat. Sebab terjerumus ke lembah perbuatan di atas merupakan pintu awal terbukanya lorong-lorong perbuatan buruk dan keburukan lain yang akan berkepanjangan. Hal ini terjadi dikarenakan ranjau setan yang terpasang memang seluruhnya dibumbui dengan kemanisan yang menjanjikan ketenangan dan kebahagiaan hidup. Akan tetapi di balik itu terdapat kepahitan, siksaan, kesengsaraan, kegalauan yang tiada hentinya. Ini arti ungkapan seorang Profesor Tasawwuf murni kalangan muta’akhkhirin Ahmad bin ‘Atha’illah as-Sakandari dalam kalimat-kalimat hikmahnya:

 كُمُوْنُ الْمِحْنَةِ فِي عَيْنِ الْمِنَّةِ

Artinya: Terselubungnya malapetaka di balik tampaknya kenikmatan.”

Atau kalau boleh dikata “Tersimpannya bara api di balik indahnya tumpukan sekam.”

KANDUNGAN HADITS:

Dengan kecaman dan ancaman siksa di balik mengkonsumsi sesuatu yang dapat memabukkan, serta klaim yang dilontarkan oleh Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bahwa khamr sebagai sumber malapetaka dan keburukan hidup, kiranya kita sebagai ummatnya betul-betul wajib menjauhkan diri dan keluarga serta orang-orang dekat dan sekitar kita, bahkan saudara kita seiman dan se-Islam dari barang terlaknat tersebut. Di samping itu ada beberapa isyarat Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam terkait kenegatifan barang mudharrat tersebut, sekalipun dalam al-Qur’an surat al-Baqarah: 219 Allah menegaskan adanya kemanfa’atan (yang dimaksud duniawi), namun juga pada dasarnya merupakan kerugian ukhrawi. Sebab terlaknatnya khamr dan hukum haramnya, merembet kepada beberapa unsur yang menjadi jaringannya. Yaitu: pengkonsumsinya, penuangnya, penjualnya, pembelinya, pembuatnya, yang dibuatkan, pembawa (pengedarnya), penadahnya (penerima), serta penikmat hasilnya. Sebagaimana dalam hadits shahih riwayat Ahmad dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallohu ‘anh. Adapun isyarat-isyarat baginda Nabi tersebut adalah:

  1. Mengkonsumsi narkoba dan sejenisnya adalah haram dan termasuk perbuatan dosa besar peringkat atas, karena memiliki efek negatif yang tidak terhitung dan terbayangkan. Sebagaimana pengakuan Iblis sendiri dalam hadits Marfu’ riwayat ad-Dailami dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallohu ‘anh:

تَزَوَّجَ شَيْطَانٌ إِلَى شَيْطَانَةٍ فَخَطَبَ إِبْلِيسُ اللَّعِينُ بَيْنَهُمَا فَقَالَ: أُوصِيكُمْ بِالْخَمْرِ وَالْغِنَاءِ وَكُلِّ مُسْكِرٍ فَإِنِّي لَمْ أَجْمَعْ جَمِيعَ الشَّرِّ إِلَّا فِيهِمَا

Artinya: “Setan lelaki mengawini setan perempuan, lalu Iblis yang dilaknat berceramah di antara mereka berdua, seraya berkata: Aku berpesan kepada kalian berdua, khamr, nyanyian, dan setiap sesuatu yang memabukkan, karena aku tidak mengumpulkan seluruh keburukan, kecuali di dalam keduanya (nyanyian dan sesuatu yang memabukkan).’

Sehingga Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam memerintah untuk menjauhinya, sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala memerintah untuk menjauhi perbuatan zina.

  1. Mengkonsumsi barang terlaknat tersebut pertanda kadar keimanan menurun, bahkan sangat drastis. Karena keimanan dan kecanduan barang tersebut, selamanya tidak akan pernah bersatu. Sebagaimana disebutkan dalam kelanjutan hadits Mauquf Sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallohu ‘anh di atas. Dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan lain-lain, dari Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallohu ‘anh, Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Artinya: “Tidak akan mengkonsumsi barang memabukkan, jika ketika dia mengkonsumsinya dalam keadaan iman sempurna.”

  1. Setiap keburukan akan membuahkan aura keburukan yang lain, sebagaimana pula kebaikan akan menghasilkan aura kebaikan yang lain, dan demikian seterusnya.
  2. Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam menjuluki khamr dengan julukan “ أُمُّ الْخَبَائِثِ “ sebagaimana riwayat di atas, mengingat betapa banyak buah perbuatan buruk lainnya yang dihasilkan oleh khamr Seperti permusuhan, saling membenci, melupakan Allah, meninggalkan shalat, berzina, membunuh, mencuri, merampok, menipu, dan sebagainya.

Wallahu a’lam.

Al-Maraji’:

  1. Ath-Thabari: Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid al-Amili ath-Thabari, Tafsir athThabari: 4 / 320
  2. Al-Munawi: Muhammad ‘Abdur Ra’uf al-Munawi, Faidhul Qadir Syarh alJami’ ashShaghir: 1 / 200

Al-‘Asqalani: Ahmad bin Hajar al-‘Asqalani, Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari: 16 / 47