Nasihat Ali Zainal Abidin

Oleh: Nurcholis el-Jombangi

Seorang wanita berjalan agak terhuyung, kerongkongannya terasa kering kesat. Tak ada yang ia inginkan melebihi seteguk air penangkal haus. Di tengah perjalan, akhirnya dia menemukan sumur tua, cukup dangkal tetapi tak ada timba. Dengan susah payah ia mencoba mengambil air dari dalam sumur dan kemudian minum sepuasnya.

Nasehat Ali Zainal Abidin

Ketika dia hendak melanjutkan langkahnya, dilihatnya seekor anjing buluk tengah duduk dan menatap wanita itu seakan penuh harap. Si wanita menatap anjing, dan anjing pun menatap si wanita. Mengertilah wanita itu bahwa anjing itu pun haus seperti yang ia rasakan beberapa saat yang lalu. Hatinya tergerak untuk menolong anjing buluk tersebut. Sekali lagi, bersusah payah wanita itu masuk sumur, melepas salah satu sepatu terompahnya untuk wadah air. Setelah terisi ia pun susah payah naik ke atas dengan menggigit sepatu yang berisi air. Begitu sampai di atas sumur, disodorkannya air dalam sepatu kepada anjing buluk itu. Anjing pun minum sepuasnya. Peristiwa itu begitu membekas dalam dirinya dan mendorongnya untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala. Di akhir kisah tersebut, si wanita, yang konon adalah seorang pelacur, dikabarkan masuk surga lantaran keikhlasannya memberi minum kepada seekor anjing.

Di lain kisah, terdapat seorang wanita disiksa di neraka karena gemar mengurung kucing peliharaannya dan sering menelantarkannya. Dalam kisah hikmah yang lain, dikisahkan seorang yang menjadi wali “hanya” karena istiqamah menata sandal para jama’ah di masjid, sebuah kebiasaan “remeh” bagi kebanyakan orang.

Sekilas kita mendengar bahwa kisah-kisah di atas adalah kisah yang biasa. Tidak mengisahkan seorang yang melakukan amalan luar biasa sehingga ia masuk surga. Atau tidak mengisahkan seorang yang melakukan dosa yang besar sehingga ia dimasukkan neraka.

Janganlah sekali-kali merendahkan orang lain. Meskipun mereka adalah pembantu, orang miskin, juru parkir, tukang tambal ban, bahkan pengemis sekalipun, berhati-hatilah terhadap mereka. Karena bisa jadi di antara orang-orang yang kita anggap rendah tersebut terdapat wali kekasih Allah yang memang Allah sembunyikan di antara hamba-hambaNya

Memang remeh. Namun kita tidak menyadarinya bahwa hal remeh tersebut memiliki nilai yang besar di hadapan Allah dan berakibat sangat dahsyat terhadap kita. Kita tidak menyadarinya bahwa di dalam hal yang remeh itu terletak sumber keberuntungan kita atau bahkan sumber malapetaka. Salah satu cicit Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam, Sayyidina Ali Zainal Abidin bin al-Husain rahimahullah. Dalam kalamnya yang penuh hikmah, beliau berkata: “Sesungguhnya Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala menyembunyikan tiga hal dalam tiga hal; Menyembunyikan ridha-Nya dalam ketaatan kepada-Nya, maka janganlah meremehkan amal taat kepada-Nya sedikit pun, boleh jadi di dalamnya terdapat keridhaann-Nya. Menyembunyikan murka-Nya dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka janganlah meremehkan sesuatu dari kemaksiatan kepada-Nya, boleh jadi di dalamnya terdapat murka-Nya. Menyembunyikan Wali-Nya di dalam makhluk-Nya, maka janganlah meremehkan seseorang dari hamba-Nya, boleh jadi dia adalah wali Allah.”

Mari kita merenung sebentar:

  1. Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala menyembunyikan ridha-Nya dalam ketaatan kepada-Nya.

Betapa banyak hal remeh yang tergolong hal yang ma’ruf namun kita tinggalkan. Sebagai contoh misalnya, memberi uang lebih pada tukang parkir, memberi uang lebih pada tukang becak, memberi minum hewan yang kehausan atau memberi makan hewan yang kelaparan seperti kisah di atas. Padahal jika kita lakukan barangkali Allah memberi ridha-Nya pada kita. Betapa banyak sunnah Nabi yang kita tinggalkan. Misalnya, berkaitan dengan tidur: berapa banyak di antara kita yang melakukan wudhu sebelum tidur? Berapa banyak di antara kita yang mengibas-ngibas tempat tidur sebelum tidur? Berapa banyak di antara kita yang berdo’a sebelum tidur? Berapa banyak di antara kita yang berdo’a ketika bangun tidur? Berapa banyak dari kita yang membiasakan mengucapkan hamdalah setelah makan dan minum? Padahal Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala suka, Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala ridha kepada orang yang setelah makan dan minum mengucap tahmid. “Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (al-hamdulillah) sesudah makan dan minum.” (H.R. Muslim)

Demikian juga kita sering diingatkan oleh Guru kita, tentang sebuah hadits Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam:

(لَاتَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْأً (رواه مسلم

Jangan sekali-kali engkau menganggap remeh sebuah kebaikan.” (H.R. Muslim)

Banyak sekali amal-amal ma’ruf yang dapat kita laksanakan. Dan barangkali dalam salah satu di antara sekian amalan ma’ruf tersebut Allah meletakkan Ridha-Nya kepada kita. Dan kita tidak tahu dalam amalan yang manakah Allah meletakkan Ridha-Nya atas kita. Maka seyogyanya kita tidak meremehkan amalan, meski tampaknya kecil. Bukankah banyak kisah yang patut kita ambil hikmah. Seperti halnya kisah bagaimana Allah meletakkan Ridha kepada Sayyidina Umar Rodhiyallohu ‘anh atas belas kasihnya kepada seekor burung pipit, atau halnya Allah meletakkan ridha kepada Imam Ghazali atas belas kasihnya kepada seekor lalat yang hinggap di ujung penanya.

  1. Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala menyembunyikan murka-Nya dalam kemaksiatan kepada-Nya.

Sekecil apapun maksiat, tetaplah dosa. Sekecil apapun dosa jika kita lakukan berulang pastilah ia menjadi besar. Gunung pasir di gurun, terbentuk karena tumpukan butiran pasir. Begitulah sebuah dosa kecil, jika dilakukan terus menerus, pada akhirnya menjadi besar. Maka seorang mukmin tidaklah patut meremehkan sebuah maksiat meski ia anggap kecil. Barangkali di antara maksiat-maksiat itu terletak murka-Nya.

Imam Ahmad dalam Musnadnya menyebutkan satu riwayat dari hadits Sahal bin Sa’ad Rodhiyallohu ‘anh, ia berkata: Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah dosa-dosa yang dianggap kecil, karena dosa-dosa itu akan berhimpun pada seseorang, sehingga akan membinasakannya.” (H.R. Ahmad dan lainnya).

  1. Allah Subhanahu waRodhiyallohu ‘anha’ala menyembunyikan wali-Nya di antara Hamba-Nya

Janganlah sekali-kali merendahkan orang lain. Meskipun mereka adalah pembantu, orang miskin, juru parkir, tukang tambal ban, bahkan pengemis sekalipun, berhati-hatilah terhadap mereka. Karena bisa jadi di antara orang-orang yang kita anggap rendah tersebut terdapat wali kekasih Allah yang memang Allah sembunyikan di antara hamba-hambaNya. Janganlah sampai kita dihinakan Allah lantaran merendahkan kekasih Allah.

 

Wal iyaadzu billah. Wallahu a’lam bish-shawaab.

 

[]