Orang Kafir Melecehkan, Allah Memberikan Pembelaan

Oleh:

download (20)

KH. M. Ihya Ulumiddin

 ‘Aminul’ Am Persyada Al Haromain dan Pengasuh Ma’had Nurul Haromain Pujon – Malang

Q.S. al-Kautsar: 03

Allah SWT berfirman:

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”

Analisa Ayat

downloadRasulullah SAW adalah kekasih Allah SWT.  Sebagai seorang utusan-Nya, beliau dijamin terjaga dari dosa baik sebelum maupun sesudah menjadi nabi. Beliau juga mendapatkan fasilitas jaminan keamanan dari Allah SWT: “Dan Allah menjagamu dari (bahaya) manusia.”[1]

Dalam ayat ke-3 Q.S. al-Kautsar inipun termasuk salah satu wujud dari kecintaan Allah kepada sang kekasih-Nya. Allah SWT secara langsung memberikan pembelaan ketika sang kekasih dihina dan dilecehkan. Setelah putera pertama Rasulullah SAW yaitu Sayyid Qasim wafat dan kemudian juga Sayyid Abdullah wafat, maka Ash bin Wa’il As Sahmi (ayah sahabat Amar bin Ash merendahkan Rasulullah SAW dengan kalimatnya: “Sungguh anak keturunannya telah terputus, dia orang yang tidak akan memiliki keturunan lagi.”[2]

Memang orang Arab ketika itu sudah biasa menjuluki (melecehkan) dengan kata Abtar (orang yang terputus) kepada seseorang yang memiliki anak-anak laki-laki dan perempuan tetapi kemudian keseluruhan anak lelakinya lalu meninggal dunia.[3]

Atau dalam versi lain setiap kali orang-orang kafir memperbincangkan tentang Rasulullah SAW dan gerakan dakwah beliau, maka Ash bin Wa’il dengan nada melecehkan berkata: “Biarkan saja, karena dia seorang yang tidak memiliki keturunan. Apabila ia mati, maka ia musnah dan tidak disebut lagi.”

download (1)

Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa ayat ini sebagai respon dari kejadian ketika tokoh Yahudi Madinah Ka’ab bin Al-Asyraf (dari Bani Nadhir) datang di Makkah, maka orang-orang kafir berkata kepadanya: “Anda adalah tokoh penduduk Madinah, lihatlah orang yang melenceng ini (Nabi Muhammad SAW). Ia merasa lebih baik daripada kami. Padahal kami adalah para pelayan haji, juru kunci Ka’bah dan yang menyiapkan keperluan minum jamaah haji”. Kaab lalu mengatakan: “Kalianlah yang lebih baik daripada dirinya.”[4]Peristiwa ini diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barang siapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.[5]

Ketika Rasulullah SAW dilecehkan, maka Allah SWT pun memberikan pembelaan. Seperti inilah sebenarnya sikap yang harus diambil oleh seorang muslim yang memiliki kecemburuan terhadap agamanya. Ia harus melakukan usaha pembelaan jika suatu saat terjadi ucapan ataupun tindakan yang melecehkan dan menghina Rasulullah Muhammad SAW. Menyakiti dan melecehkan Rasulullah SAW adalah sama halnya dengan menyakiti dan melecehkan Allah yang secara syariat hukumannya adalah dibunuh sebagaimana terjadi pada Yahudi bernama Ka’ab bin al Asyraf di atas dan juga Yahudi bernama Abu Rafi’.

Demikianlah kehidupan Rasulullah SAW sebagai seorang utusan yang mengemban misi dakwah hampir tidak ada perilaku dan kejadian yang dialami kecuali pasti dijadikan alat oleh musuh-musuh dakwah untuk melecehkan, menjatuhkan mental dan menjegal langkah dakwah.

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]Q.S. al-Maidah: 67

[2]Lihat Ad-Durr al-Mantsur,juz 06, hal 690, tafsir Q.S. Al-Kautsar, Cet. Darul Kutub al-Ilmiyyah, 2010

[3]Lihat Tafsir al-Qurthubi,juz 20, hal 151

[4]Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 04 hal 598 cet Darul Makrifat Beirut 1417 H

[5]QS An Nisa’:51-52