Orang-orang yang Terperdaya

بسم الله الرحمن الرحيم

(QS. Al Hadid: 14)

يُنَادُوْنَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَّعَكُمْ قَالُوْا بَلَي وَلكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّي جَاءَ أَمْرُ اللهِ وَغَرَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُوْرُ

“Orang-orang munafik memanggil orang-orang mukmin, “Bukankah kami dahulu bersama kamu?” Mereka menjawab, “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri, dan kamu hanya menunggu (kekalahan kami), meragukan (janji Allah) dan ditipu oleh angan-angan kosong sampai datang ketetapan Allah; dan penipu (setan) datang memperdaya kamu tentang Allah”

 Analisa Ayat

Di dalam ayat ini Allah menyebutkan sifat orang-orang munafiq sekaligus juga menyebutkan terjadinya ghurur dalam diri mereka. Oleh karena itu barang siapa menyangka sesungguhnya dirinya berada dalam kebaikan dunia dan akhirat berdasarkan alasan yang tidak jelas (yang tidak bisa diterima), maka bisa dipastikan bahwa ia orang yang terperdaya (maghrur) sebab tidak ada alasan (apapun) merasa agamanya berada dalam keamanan.

Bagaimana bisa ia merasa aman, sementara al-Khalil Nabi Ibrahim as masih berdo’a:

 

…وَاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

…dan jauhkanlah diriku dan anak keturunanku (jangan sampai) kami menyembah berhala” [1] (QS Ibrahim: 35)

 

Bagaimana merasa aman sementara as Shiddiq Nabi Yusuf as masih berdo’a: “Wafatkanlah diriku sebagai seorang muslim dan gabungkanlah diriku bersama orang-orang shaleh”[2], dan Allah ta’ala pun (juga) berfirman: “dan (ingatlah) ketika Ibrahim dan Ismail ketika (telah) meninggikan pilar-pilar dari al bait (ka’bah) (maka mereka berdo’a): Ya Tuhan kami, terimalah dari kami karena sesungguhnya Engkau Maha mendengar Maha mengetahui”[3]

Dan sungguh telah dikatakan:

مَا طَارَ طَيْرٌ وَارْتَفَعَ إِلَّا كَمَا طَارَ وَقَعَ

Tiadalah burung terbang tinggi kecuali sebagaimana ia terbang, pasti juga hinggap (jatuh)

Imam Sufyan at Tsauri rahimahullah berkata:

مَا أَمِنَ أَحَدٌ عَلَى دِيْنِهِ إِلَّا سُلِبَ

Tiada seorangpun yang merasa aman agama pada dirinya kecuali dicabut kesempurnaan imannya

Ghurur adalah ketenangan jiwa pada sesuatu yang selaras dengan hawa nafsu sekaligus menjadi kecenderungan watak karena terdorong oleh syahwat, alasan tidak jelas, serta tipuan setan yang penuh rekayasa. Ghurur adalah sumber kecelakaan akhirat pada saat justru orang yang bersangkutan tidak merasa bahwa hal tersebut tercela dan bisa menghancurkan dirinya sementara ia tetap melakukan tanpa merasa harus mewaspadainya.

Dan sudah dimaklumi bahwa pintu kebahagiaan akhirat adalah tanggap, cerdas, waspada dan menjaga diri sebagaimana firman Allah; “Dan taatilah Allah, taatilah Rasulullah oleh kalian, dan waspadalah karena jika kalian berpaling maka ketahuilah bahwa utusanKu hanya wajib  melakukan  penyampaian yang bisa memberikan kejelasan”[4]

Orang-orang yang tertipu (al mughtarruun) terbagi menjadi banyak kelompok yang di antara mereka adalah:

  1. Para ahli maksiat (al Ushaat) dan para pendosa (al Fussaaq)

Dikatakan kepada Imam Hasan al Bashri: “Ada kaum yang mengatakan kami berharap rahmat kepada Allah. Sedang mereka menyia-nyiakan amal?”

beliau berkata: “Jauh, jauh. Itu hanyalah angan-angan di mana mereka bermimpi di dalamnya. Sebab barang siapa mengharap sesuatu maka ia pasti mencarinya. Barang siapa yang takut akan sesuatu maka pasti lari darinya”

Dan terkadang poros harapan mereka itu adalah berpegang  dan mengandalkan keshalehan dan ketinggian derajat orang-orang tua mereka meski mereka juga mengetahui bahwa Nabi Nuh as tidak bisa memberi manfaat apapun kepada puteranya, Nabi Luth as tidak bisa memberi manfaat kepada isterinya, Nabi Ibrahim as tidak bisa memberikan manfaat kepada ayahnya, dan Rasulullah Saw juga tidak bisa memberikan manfaat kepada pamannya.

  1. Orang-orang berilmu dan para cendekiawan

Di antara mereka ada orang-orang yang sangat profesional dalam urusan-urusan syariat dan ilmu-ilmu logika. Mereka sangat mendalami dan sibuk secara total di dalamnya. Akan tetapi mereka melupakan hal penting yang bisa membersihkan diri mereka yang berupa membiasakan diri dalam ketaatan-ketaatan,dan  menghidupkan sunnah-sunnah nabawiyyah, kendati begitu mereka menyangka telah memiliki kedudukan di sisi Allah.

Di antara mereka juga ada orang-orang yang profesional dalam berilmu dan beramal. Mereka konsisten dalam ketaatan-ketaatan yang zhahir, hanya saja mereka lupa tidak meneliti secara teliti hati mereka barangkali ada sifat-sifat tercela yang merusak seperti iri hati, pamer, mencari kekuasaan, popularitas dsb.

  1. Kelompok Ekstrim

Dengan segala tanda yang ditemukan pada mereka dan ciri yang menjadikan mereka berbeda bisa dipastikan bahwa mereka adalah kaum Khawarij masa kini sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits Rasulullah Saw.

Tanda dan ciri tersebut di antaranya adalah:

  1. Mencela dan menyatakan kesesatan mayoritas kaum muslimin. Ciri seperti ini sungguh telah muncul semenjak masa Rasulullah Saw dalam sikap Dzul Khuwaishirah at Tamimi kepada Rasulullah Saw, dan sikap kaum Khawarij kepada para sahabat Rasulullah Saw.
  2. Berburuk sangka kepada kaum muslimin dan melecehkan jamaah atau komunitas di luar mereka.
  3. Bertindak terlalu dalam beribadah dan menghidupkan sunnah seraya berbangga diri atas nama mencari kemuliaan agama, menampakkan kemuliaan ilmu, menolong agama Allah dan merendahkan orang-orang yang tidak sepaham yang menurut mereka adalah para ahli bid’ah.
  4. Bersikap keras kepada kaum muslimin dengan mengkafirkan dan bahkan memerangi. Di lain pihak mereka justru membiarkan saja para penyembah berhala.
  5. Kurang pengetahuan dan lemahnya wawasan mereka akan kitab Allah dan sunnah RasulNya Saw disebabkan buruk pemahaman, kurang bertadabbur, sedikit berfikir, dan tidak menempatkan nash sesuai tempatnya yang benar karena ilmu mereka yang sedikit dan lemahnya nalar Istinbath (kesimpulan hukum) mereka.
  6. Sungguh mereka adalah kaum yang muda usia dan berfikiran negatif. Artinya mereka adalah angkatan muda yang negatif cara berfikirnya. Hal ini menuntun kita pada sebuah kesimpulan akan urgensi melakukan langkah memperbaiki cacat-cacat usia muda ini dengan cara meneguhkan hati untuk bisa bersikap santun, penuh pertimbangan dan mencari petunjuk kepada orang-orang berilmu, para ahli dan orang-orang yang sudah berpengalaman, terkait hal yang masih mengandung problema.

=والله يتولي الجميع برعايته=

[1]QS Ibrahim:35

[2]QS Yusuf: 101

[3]QS al Baqarah: 127

[4]QS al Maidah:92

download (20)

( Penulis KH. M. Ihya UlumiddinKetua Umum Hai’ah Ash Shofwah Pengasuh Ma’had Nurul Haromain Pujon – Malang)