Pejuang Islam dan Pohon Sawo

Oleh : Ahmad Syarifuddin

Buah Sawo Desa Sedahkidul Kecamatan Purwosari - BojonegoroDi Masjid Pathok Negara Ploso Kuning Sleman Yogyakarta, pohon sawo kecik raksasa masih menjulang tinggi. Masjid ini dulu menjadi salah satu tempat mengaji Pangeran Diponegoro ketika menjadi santri dengan berguru kepada Kyai Mustofa yang mengasuh Pondok Pesantren (PP) tersebut.

Di PP Al-Kahfi Somalangu begitu pula ditemukan pohon sawo tua, baik jenis sawo kecik maupun sawo biasa. Kyai Mahfud Al-Hasani atau Kyai Somalangu di masa revolusi kemerdekaan mewarisi spirit perjuangan Pangeran Diponegoro.

Pada masa revolusi kemerdekaan, pohon sawo kecik di belakang keraton Yogyakarta menjadi tempat berkumpul para pejuang. Jika hendak melapor Sultan Hamengkubuwono IX di keraton, para pejuang menyamar sebagai abdi dalem dengan berpakaian Jawa, lalu berkumpul di bawah pohon sawo kecik di belakang keraton.

Pakubuwono X (1893-1939) menanam 76 sawo kecik di lingkungan Kasunanan Surakarta. Sebagaimana di Kesultanan Yogyakarta, pohon sawo kecik banyak ditemukan di Kasunanan Surakarta (2 wilayah pecahan Kerajaan Mataram Islam).

Setelah Perang Jawa (1825-1830) berakhir, Pangeran Diponegoro tertangkap, para pengikutnya menyebar. Mereka umumnya kaum intelektual dan pejuang, para kyai, para santri, para haji, para guru, serta desersi pasukan tentara kesultanan. Meski menyebar dan berdispora ke berbagai daerah, mereka tetap membangun jaringan (jaringan keulamaan).

Di PP (Pondok Pesantren) dan masjid yang mereka dirikan serta tempat tinggal masing-masing, mereka tanami pohonsawo. Pohon sawo itu pertanda atau sandi bahwa mereka merupakan jaringan Pangeran Diponegoro. Hal ini diungkap oleh Peter Carey dalam karyanya, ‘Kuasa Ramalan’.

Bila di depan kediamannya ada pohon sawo, maka itu pertanda atau sandi bahwa sang penghuni merupakan anggota jaringan pejuang. Mereka siap sedia bergerak lagi, manakala sewaktu-waktu ada komando. Mereka dapat mengenali kawan maupun lawan dari isyarat sandi pohon sawo ini.

Pohon sawo menjadi pertanda, perlambang, dan simbol para pejuang Islam (kaum mujahidin) ketika itu. Sebagaimana kini pohon kelapa menjadi lambang Pramuka dan pohon ….. menjadi simbol Kristen.

Adapun umat Islam secara global dan universal, perlambang mereka adalah Pohon Kurma (An-nakhlah), seperti ditegaskan oleh Nabi Besar Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dalam hadits Beliau yang terkenal.

Kembali kepada pohon sawo sebagai perlambang pejuang Islam. Ada apa dan mengapa pohon ini?

Konon pohon sawo diserap dari bahasa Arab: sawwu, yang bermakna: luruskan. Lengkapnya adalah ‘Sawwu shufufakum‘, luruskanlah barisan kalian.

Para pejuang Islam kita terdahulu memahami bahwa perjuangan (jihad) –dan perjuangan dalam bentuk yang real berarti pertempuran (qital)– haruslah disertai kelurusan barisan, barisan yang lurus, gerakan yang disiplin, kokoh, kuat, solid, kompak, dan tidak cerai-berai. Satu komando. Satu kepemimpinan. Disertai ketundukan dan kepatuhan dari para warga (makmum/prajurit).

Kita perhatikan seruan Allah Subhanahu wata’ala dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaff ayat 4.

Jika barisan tidak lurus (tiada mengikuti perlambang sawo), dipastikan perjuangan Islam akan kalah sebelum terkembang.

Suatu hal yang menakjubkan adalah jaringan yang dilambangkan dengan pohon sawo ini telah ada dan siap-siaga di berbagai daerah.

Kita cermati tiap-tiap keraton, masjid, PP, dan rumah hunian yang berumur lebih dari 100 tahun, banyak terdapat tanaman pohon sawo. Hal ini adalah jejak jaringan perjuangan Pangeran Diponegoro. Perhatikanlah kawasan di daerah Purworejo, Banyumas, Cilacap, Klaten, Magelang, Purwokerto, Kediri, Trenggalek, Mojokerto, Malang, Gresik, Kudus, Semarang, bahkan Bandung, Banten, dan lain-lain.

Masalahnya adalah siapa yang dapat mengontak, menyeru, dan mengomando mereka seluruhnya untuk bergerak dan berbaris lurus kembali menuju medan laga?

Sesungguhnya kita berharap besar bahwa TNI adalah penerus cita-cita perjuangan Pangeran Diponegoro tersebut. Karena mereka terlatih, siaga, satu komando, solid, lurus barisan mereka, dan bersenjata. Mereka diamanahi untuk mempertahankan Indonesia berikut tumpah darah di dalamnya. TNI, amanat rakyat ada di pundak kalian.

Wallahu a’lam.