Pelajaran dari Dua Oreng Madhure

Pelajaran dari Dua Oreng Madhure

Oleh: Bahtiar HS, Pimred

Madura

doc. bahtiar

Saya lebih dulu check-in dan tiba di ruang tunggu gate tujuan luar negeri bandara Juanda keberangkatan Internasional Sabtu sore itu. Perjalanan ke luar negeri adalah sesuatu yang selalu saya nantikan, seperti anak-anak menantikan mainan baru. Ini kepergian saya kedua kalinya ke negeri jiran itu, setelah sebelumnya sempat menyusuri Malaysia mulai pelabuhan laut Pasir Gudang di ujung selatan hingga Perlis dekat Thailand di pucuk utara beberapa tahun lalu.

Tak lama kemudian rombongan yang lain datang. Dr. Ghofir, dr. Jamal, Mas Anwar, dan teman-teman lainnya. Kami akan melakukan rihlah ilmiah dengan mengikuti kuliah Prof. Naquib al-Attas, berkunjung ke CASIS, silaturahim dengan Dr. Syamsuddin Arif, ke kampus IIUM, dan mengunjungi teman-teman Indonesia yang ada di Kuala Lumpur.

“Kok cuma bawa tas satu saja?” tanya saya pada dr. Jamal. Yang ditanya tersenyum dengan senyumnya yang khas itu. Saya lihat tasnya penuh sekali isinya, hampir-hampir resletingnya hendak lepas. Tas-tas teman-teman yang lain, Mas Anwar dan sebagainya, juga demikian. Saya sampai mengira isi dua tas mereka masukkan paksa ke dalamnya, termasuk laptop dan perangkat komunikasi lainnya.

“Lho, bukannya hanya boleh bawa satu tas?” tanya dokter spesialis mata itu balik pada saya.

Saya kini yang tersenyum. Pasti beliau tidak membaca seksama keterangan di tiket pesawat. Memang hanya boleh membawa 1 tas di cabin pesawat.

“Ya, tapi kan boleh membawa tambahan 1 tas laptop, Mas?” kata saya. Saya lalu memperlihatkan keterangan di tiket pesawat itu. Beliau mengangguk-angguk dan tersenyum. Saya lantas menunjukkan tas laptop yang saya bawa beserta 1 tas perjalanan. Tas laptop saya yang cukup besar bisa pula dimasuki barang lain, bukan? Namanya tak lantas berubah, tetap “tas laptop”.

“Wah, tahu gitu bawa 2 tas,” kata beliau diamini yang lain.

“Mana bawanya berat lagi,” sahut Mas Anwar. Tasnya yang besar seperti bom hendak meledak. Saya yakin di dalam tasnya beliau membawa serta laptop pula. Justru saya akan heran seorang penulis seperti beliau jika tak membawa serta “istri keduanya” itu ke mana pun pergi.

***

Madura

doc. bahtiar

Di Kuala Lumpur kami menginap di sebuah hotel sederhana di kawasan Tun Sambantham di bilangan KL Sentral. Saya satu kamar dengan Mas Anwar dan dr. Jamal di lantai III.

Ketika pertama kali masuk kamar, saya langsung memeriksa kamar mandi. Alhamdulillah, disediakan 2 handuk di dalamnya. Handuk seperti harta karun buat saya, karena biasanya saya tidak suka membawa handuk di dalam tas. Menuh-menuhin. Koper menjadi berat. Toh di hotel biasanya disediakan. Kalaupun lagi apes tidak disediakan, kita masih bisa bertahan hidup tanpa perlu pakai handuk selepas mandi, bukan?

“Mas, handuknya ada dua,” kata saya pada mereka berdua. “Saya pakai satu, ya?” pinta saya. Sungguh perilaku yang “su’ul adab” pada orang yang lebih tua. Tetapi kalau tidak demikian, mungkin saya tidak kebagian handuk. Siapa tahu salah satu atau kedua beliau bawa handuk semua dari rumah.

“Pakai aja,” kata dr. Jamal. “Saya bawa handuk, kok.”

“Saya juga bawa sendiri. Pakai aja, Bahtiar,” sambung Mas Anwar. “Antum nggak bawa handuk?”

Saya nyengir kuda. Tas saya tidak berat-berat amat seperti mereka berdua. “Nggak, Mas,” kata saya malu-malu. “Kan biasanya kalau nginap di hotel sudah disediakan handuk, sikat gigi, pasta gigi, sabun, sampo … Jadi saya jarang bawa sendiri, kecuali sikat gigi.”

Uh, masih untung bawa sikat gigi sendiri!

“Kalau saya mesti bawa sendiri handuk dari rumah,” kata dr. Jamal. “Entah ya. Saya nggak bisa pakai handuk dari hotel. Risih. Kita kan nggak pernah tahu handuk itu sudah dipakai siapa saja?”

Duh! Saya seperti baru tahu informasi ini. Padahal ya sudah otomatis tahu, bahwa handuk yang disediakan di hotel itu pasti bekas dipakai tamu-tamu mereka. Laki, perempuan, besar, kecil, muslim, non-muslim, sehat, atau… kudisan! AIDS? Aduh!

“Tapi kan dicuci lagi tho Mas?” sergah saya.

“Ya, meskipun namanya dicuci atau apa. Kita nggak pernah tahu ada bekas apa saja di sana,” kata dr. Jamal. “Dari pada mikir yang nggak-nggak, saya mending bawa sendiri.”

Beliau lalu membuka kopernya yang hendak meledak. Benar saja. Di sana ada handuk, sarung, baju koko, peci. Sajadah juga bawa! Alamak! Sementara saya handuk nggak bawa, juga sarung. Apalagi sajadah segala!

“Mas bawa sajadah segala?” selidik saya.

Dr. Jamal tersenyum. “Ya. Kalau gak bawa sajadah, kita shalat pakai alas apa?”

Aduh kuno banget?

“Kan biasanya disediakan hotel, Mas?” kata saya. Tapi saya celingukan dan buka laci meja-meja di kamar ini tidak ada selembar pun sajadah. Meski di Malaysia, negara muslim, tetapi hotel ini memang hotel umum. Kelihatannya yang punya juga orang India Malaysia, bukan Melayu. Ya, jangan harap disediakan sajadah di hotel mereka. “Ya, …kalau nggak ada bisa pakai koran, atau seprai atau selimut tempat tidur, atau sarung ….”

Giliran Mas Anwar dan Dr. Jamal yang kini tertawa. Mungkin kini mereka yang menganggap saya “kuno”. Shalat kok alasnya sembarang ketemu?

***

Perjalanan bersama mereka berdua kali ini membuat saya banyak menimba pelajaran. Kok ya kebetulan keduanya oreng Madhure. Satu dari Bangkalan, satu lagi Pamekasan atau Sumenep. Saya hanya separo Madura, karena istri dari Madura, sementara saya dari Jawa. Untuk urusan “infrastruktur” atau perbekalan seperti ini, saya kalah jauh dengan mereka. Tidak usah jauh-jauh, mertua saya sendiri selalu menyiapkan makanan, meski itu berupa nasi bungkus, dalam setiap perjalanan jauh kami. Buat makan di jalan, kata beliau. Sementara orang seperti saya lebih suka praktis: di jalan kan banyak warung makan? Kenapa mesti repot-repot bawa makanan?

Hanya karena alasan praktis-ekonomis, banyak hal saya andalkan dari tempat lain atau orang lain. Padahal belum tentu itu bagus buat saya. Ekonomis mungkin, karena kita nggak perlu membawa segala hal hingga malah memberatkan di perjalanan. Tetapi ketika makan di warung dalam perjalanan mungkin malah menghabiskan duit lebih banyak dari nasi bungkus. Ekonomis? Nggak juga.

Praktis mungkin, tetapi ketika itu berhubungan dengan kebersihan diri untuk persiapan bersujud kepada-Nya? Inilah yang kemudian membuat saya sungguh merenung: bersujud kepada-Nya kok seadanya? Sak cethuk-e, kata orang Jawa (saya nggak tahu bahasa Indonesianya apa).

Demikianlah ketika malam itu kami shalat Maghrib dan Isya’ jama’ secara berjamaah, dr. Jamal beralas sajadahnya, Mas Anwar juga dengan sajadahnya, sementara saya harus puas beralas sujud jaket saya dengan kaki berpijak pada lantai kamar (yang semoga suci). Shalat malam itu menjadi shalat paling mengesankan bagi saya, sekaligus mengenaskan!

Saya jadi malu dengan tas saya yang ringan dan tak berani lagi mengatai tas kedua beliau sebagai mau meledak karena kepenuhan.

Wallahu a’lam.

[]