Pelajaran Senyum dari Loksado

Pelajaran Senyum dari Loksado

Oleh: Bahtiar H. Suhesta

Pelajaran Senyum dari Loksado

maeindonesia.com

“Siapa nama ikam?”

Pagi masih dingin menggigit. Burung Belibis beterbangan dari pohon ke pohon di hutan sekitar kami. Sinar matahari baru saja lepas dari balik pegunungan, menembusi kabut yang sedikit demi sedikit menyibak serupa panah-panah cahaya yang dilepaskan dari langit.

Kami berada di Loksado. Sebuah kawasan perkampungan Dayak di dataran tinggi pegunungan Meratus, 38 km dari Kandangan, Kalimantan Selatan. Di sinilah mengalir sungai Amandit yang berhilir ke kota Kandangan, tempat di mana kaki kami kini berpijak. Tepatnya di atas rakit yang disusun dari 25 batang bambu dan sekedar diikat erat di bagian pangkalnya. Di sana berdiri sesosok lelaki kerempeng tak berbaju, juga tak beralas, seperti sosok Tarzan si orang rimba yang pernah saya baca di buku-buku komik anak-anak. Tarzan itu hanya tersenyum membalas pertanyaan saya.

“Orang Dayak ini nggak ngerti bahasa Indonesia, Pak,” celetuk Pak Mustawi, teman seperjalanan saya kali ini. Dia lalu bertanya hal yang sama padanya dengan bahasa Banjar. Tetapi, nakhoda lanting itu juga cuma tersenyum. “Mungkin dia juga nggak ngerti bahasa Banjar, Pak,” kata Pak Mustawi seraya terkekeh.

Saya pun tertawa.

Lanting bergerak menyusuri sungai Amandit yang cukup deras pagi ini. Sesekali cericit burung terdengar di atas kami. Pohon-pohon besar masih sedemikian banyak tumbuh di tepi sungai. Dengan menggunakan sebilah bambu, orang Dayak itu mengatur jalan rakit bambu ini di antara bebatuan yang berserakan di hadapan kami. Saya sesekali membantunya dengan galah bambu yang sama. Seekor ular air tak seberapa besar melintas di hadapan kami.

“Apa masih ada ular besar di sungai ini?” tanya saya pada sang Nakhoda.

Ia cuma tersenyum.

“Buaya mungkin?”

Ia cuma tersenyum. Pak Mustawi saya lirik ikutan terkekeh. Katanya, “Ya kalau buaya mungkin sudah nggak ada, Pak. Tapi kalau bajul, ular air, nyambik… mungkin masih.”

Bajul satu mungkin tak masalah. Jumlah kami lebih banyak. Kalau rombongan bagaimana? Sementara si orang Dayak hanya membawa mandau, kecil pula. Mungkin lebih tepat untuk mencari ikan ketimbang berhadapan dengan buaya.

“Berapa anak ikam?” tanya saya lagi.

Lagi-lagi ia hanya tersenyum.

“Sudah punya istri?”

Kini giginya jauh lebih banyak yang terlihat. Saya yakin ia tahu pertanyaan saya, meski mungkin tak bisa menjawab dengan kata-kata. Apakah ia bisu? Entahlah.

Kini sungai menurun. Lanting langsung merangsek seiring cepatnya aliran air. Si Dayak sibuk memukulkan galah bambunya ke sana ke mari, sementara saya dan Pak Mustawi menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri, menghindari sulur ranting-ranting pohon yang begitu rendah menghalangi jalan kami. Saya perhatikan dengan seksama ranting-ranting itu. Siapa tahu bukannya ranting yang saya hadapi melainkan ular hutan yang sedang nyenyak tidur. Membayangkannya saja membuat saya bergidik.

Turunan itu lantas makin curam. Lanting melaju makin cepat. Tiba-tiba… brakk!! Saya serasa terbang untuk kemudian terlempar ke dalam air. Galah lepas dari tangan. Untuk beberapa saat saya merasakan hening dan gelap. Gelembung-gelembung air tampak ketika saya membuka mata. Perih rasanya mata saya. Lalu sebuah tangan yang kukuh mengangkat saya dari dalam air. Si Dayak kerempeng!

Saya lalu dibimbingnya duduk di lanting. Saya mengeluarkan air sungai dari mulut –beberapa teguk di antaranya saya minum. Saya lihat ia hanya tersenyum. Sialan! Mungkin buat dia ini kejadian biasa di antara hari-harinya. Padahal, buat saya ini antara hidup dan mati.

“Sungai ini biasanya deras waktu kapan?” tanya saya padanya setelah kesadaran saya pulih.

Ia tersenyum lagi. Tapi kali ini jemarinya terangkat memperlihatkan 4 jari.

“Empat?” tanya saya bingung. “Bulan keempat?”

Ia mengangguk. Sambil tersenyum. Bahkan kini mulutnya terbuka lebar, terkekeh tanpa suara.

“Bulan keempat dari mana? April?”

Pak Mustawi yang terkekeh. “Bulan keempat hitungan suku Dayak, Pak.”

Saya pun tertawa kecut.

Sungai kali ini tenang. Dan dalam! Saya mencoba menusukkan galah yang telah kembali ke tangan ke dalam sungai. Bahkan hingga tangan saya tercelup seluruhnya, dasar sungai belum juga tersentuh. Pantas saya merasakan gelap dan seperti melayang saat terjatuh tadi. Untung tak ada buaya atau ular besar!

***

Sejenak saya memandangi nakhoda kami ini. Dia suku Dayak. Mungkin suku Bakumpai atau lainnya. Mestinya ia hidup di sebuah Betang, rumah panggungnya yang panjang, di lereng pegunungan Meratus yang masih asri dan natural. Tetangganya adalah pepohonan, cicit burung, gemericik air sungai Amandit. Kesehariannya mungkin mencari ikan, bercocok tanam, sesekali mengirim bambu ke Kandangan bertaruh nyawa untuk mendapat upah 200 ribu rupiah atau lebih. Untuk semua kebersahajaan itu ia bisa senantiasa tersenyum tanpa beban.

Siapa yang bangun di pagi hari dalam keadaan aman, sehat jasmaninya, dan punya makanan pada hari itu, maka seolah-olah dia diberi dunia dengan berbagai kenikmatannya?

Sebaliknya saya, dikirim perusahaan untuk implementasi aplikasi komputer di sebuah cabang PLN di Barabai, 200 km dari Banjarmasin. Tiap hari berkutat dengan coding yang ruwet, komplain dari klien yang tak ramah, malam-malam panjang begadang mencari bug program, bekerja di belakang printer besar dengan suara berisik mencetak rekening listrik sepanjang malam. Betapa sibuknya saya! Memang saya mendapat upah berlipat ketimbang orang Dayak itu, tetapi saya telah melewatkan banyak waktu untuk banyak hal yang entah untuk apa. Saya, di atas lanting ini, tiba-tiba merindukan rumah panggung, cericit burung, rimbun pepohonan, asyiknya mencari ikan, sesekali balanting menyusuri sungai Amandit dan merasakan adrenalin yang terpompa penuh. O, lebih dari itu, saya merindukan bisa tersenyum tanpa beban seperti orang Dayak entah namanya siapa itu!

Bukankah Rasul Sholallohu ‘alaihi wasallam yang agung pernah mengatakan dalam riwayat al-Bukhari bahwa siapa yang bangun di pagi hari dalam keadaan aman, sehat jasmaninya, dan punya makanan pada hari itu, maka seolah-olah dia diberi dunia dengan berbagai kenikmatannya? Si Dayak ini contohnya. Betapa sederhananya hidup sesungguhnya, bukan? Tetapi yang sederhana itu sering kita buat menjadi sedemikian rumit.

***

Setelah menyusuri sungai yang tenang ini, lalu perkampungan suku Dayak yang dipenuhi pepohonan rambutan yang tengah berbuah dengan anak-anak mereka sedang bermain air dan berenang di tepian, dan beberapa tikungan sungai yang berbatu, akhirnya kami berhenti di daerah Tanuhi. Tak terasa hampir 3 jam lamanya kami balanting paring dengan si Dayak. Dan kini saatnya untuk berpisah.

Saya salami erat-erat tangan orang Dayak itu. “Terima kasih banyak, ya?” kata saya padanya. “Siapa nama ikam?”

Saya berharap ia akan membuka mulut dan mengucapkan sepatah nama. Tetapi, seperti saya duga, harapan saya sia-sia. Ia hanya tersenyum, seperti senyumnya ketika berangkat dari Loksado. Lantas melambaikan tangan pada kami, karena ia melanjutkan perjalanan balantingnya ke kota Kandangan. Mengantarkan batang-batang bambu itu, entah pada siapa.

[]