Pemberdayaan Santri di Era Milenium

Oleh:

Ainul Yaqin, M.Si

Sekretaris MUI Jatim dan Anggota Komisi Pengkajian MUI Pusat

maxresdefault

Dari asal usulnya, kata santri menurut Nurcholis Madjid (1997: p. 19-20) sekurang-kurangnya ada dua pendapat. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa “santri” itu berasal dari perkataan “sastri”, sebuah kata dari bahasa Sansekerta, yang artinya melek huruf. Argumennya bahwa dahulu pada permulaan tumbuhnya kekuasaan politik Islam di Demak, kaum santri adalah kelas “literary” bagi orang Jawa. Mereka adalah kelompok  terpelajar yang mampu menguasai ilmu agama yang bersumber dari  kitab-kitab bertulisan dan berbahasa Arab. Atau paling tidak seorang santri itu bisa membaca al-Qur’an. Kedua, pendapat yang rnengatakan bahwa perkataan santri berasal dari bahasa Jawa, dari kata cantrik, yang artinya seseorang yang selalu mengikuti seorang guru ke mana guru ini pergi menetap untuk dapat belajar darinya mengenai suatu keahlian. Kata cantrik bahkan masih digunakan sampai sekarang. Misalnya orang yang sedang belajar silat pada seorang guru disebut sebagai cantriknya.

Terlepas dari kedua pendapat tersebut, jika dicermati penggunaan kata santri dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat dari dua hal. Pertama untuk pengertian yang sempit, kata santri digunakan untuk menyebut seseorang yang sedang belajar agama kepada kiai baik belajar di pesantren maupun belajar di luar pesantren, misalnya di majelis taklim. Seorang yang sedang belajar kepada kiai disebut santri dari kiai tersebut.

Pengertian yang lebih luas, kata santri digunakan sebagai pembeda dari abangan. Biasanya dikenal sebutan kaum santri, atau disingkat kaum. Wilayah atau daerah yang dihuni mayoritas santri disebut daerah kauman yang dicirikan dengan adanya tradisi keislaman yang kental. Sementara itu, kata abangan biasanya untuk menyebut kelompok msyarakat yang tidak terlalu kental dengan tradisi keislaman walaupun umumnya jika ditanya tentang agama biasanya juga beragama Islam. Berbeda dengan masyarakat santri, masyarakat abangan biasanya lebih akrab dengan tradisi lokal seperti tradisi kejawen dan sebagainya dari pada tradisi keislaman.

Clifford Geertz (1983: p 172-173) menggambarkan perbedaan antara santri dan abangan dengan mengambil latar penelitiannya di sebuah daerah dengan nama samaran Mojokuto. Bahwa kaum abangan mempunyai ciri; mereka tetap mengikuti tradisi seperti selamatan, membuat kue apem ketika kematian, membuat bubur ketika kelahiran. Mereka mempunyai pandangan jika ikut membuat selamatan di bulan puasa ia bukan kafir. Namun soal kepercayaan itu adalah urusan masing-masing. Sementara kaum santri sangat kental dengan peribadatan pokok, seperti sembahyang (shalat -pen) dan puasa. Kaum santri juga menunjukkan sikap yang tidak toleran menyikapi praktik kepercayaan dan kejawen.

Baik santri dalam pengertian luas maupun dalam pengertian sempit sebenarnya sama-sama mempunyai keterkaitan dengan sosok ulama atau kiai yang dijadikan rujukan atau panutannya. Khususnya di pesantren, hubungan kiai dan santri tidak semata-mata hubungan antara guru dan murid yang kemudian terputus ketika santri telah menyelesaikan studi di pesantren, namun hubungan itu masih berlanjut terus sampai kapan pun. Hubungannya tidak hanya bersifat lahiriyah tetapi juga batiniyah atau spiritual. Karena itulah sekalipun seorang santri yang telah lulus dari pesantren bahkan sudah menjadi kiai, namun terhadap sang kiai gurunya dia tetaplah santri. Hubungan patron dan klien antara kiai dan santri ini mempunyai makna penting dalam dinamika perubahan sosial. Kiai adalah agent of change yang merupakan motor perubahan sosial. Kedudukan kiai sebagai pemegang pesantren menawarkan agenda perubahan sosial keagamaan baik yang menyangkut masalah interpretasi agama dalam kehidupan sosial maupun perilaku keagamaan santri yang kemudian menjadi rujukan masyarakat. Hubungan inilah yang selalu mewarnai di setiap episode perjuangan sejak awal.

index

Dalam perjuangan di era kolonial, kaum santri yang dibimbing oleh kiai banyak memainkan peran di garis depan. Di masa awal kemerdekaan dan masa orde lama, peran hubungan keduanya juga nampak jelas. Sebagai gambaran, sejak awal kemerdekaan usaha untuk mempertahankan NKRI dari penjajahan juga dilakukan oleh kaum santri atas bimbingan para Kiai. Usaha untuk menumpas gerakan yang dianggap separatis juga banyak memanfaatkan peran kamu santri kendati dalam beberapa kasus ada pasang surutnya ketika terdapat kesan pemerintah melakukan politik belah bambu. Demikian pula ketika menghadapi pemberontakan G30S PKI, peranan kaum santri terlihat begitu jelas.

Di masa pembangunan atau era orde baru, eksistensi hubungan santri dan kiai masih memainkan peran yang signifikan. Banyak program pemerintah kandas ketika dijalankan dengan melakukan konfrontasi dengan para kiai yang menjadi panutan santri. Sebaliknya banyak program pemerintah dengan mudah dapat disosialisasikan ke masyarakat dengan melalui kiai pula. Sebagai contoh, ketika pemerintah hendak mensosialisasikan undang-undang perkawinan yang dipandang bertentangan dengan nilai agama, dalam hal ini adalah fiqih Islam, yang menjadi penentang pertama adalah kaum santri. Demikian pula upaya sosialisasi terhadap azas tunggal mengalami hal serupa ketika berhadapan dengan pesantren. Tetapi, ketika pemerintah menggunakan pendekatan lebih akomodatif dengan kaum santri khususnya para kiai, beberapa program dapat disosialisasikan dengan lebih baik.

***

Saat ini dunia sedang memasuki era baru yang dikenal dengan era milenium atau biasa juga disebut era globalisasi. Globalisasi yang didominasi oleh dunia Barat telah menjadi sarana proses homogenisasi, yaitu menyatukan pemikiran dan memfokuskan pandangan masyarakat dunia untuk menggunakan kode etik dan nilai-nilai bersama yang bersumber dari Barat sebagai pionernya. Implikasinya adalah terjadinya liberalisasi di berbagai aspek kehidupan yang pada akhirnya juga mengintervensi kehidupan kaum santri.

Dalam konteks hubungan santri dan kiai, adanya semacam gerakan kebebasan berpikir dan berpendapat secara bebas yang merupakan buah dari liberalisasi, pelan dan pasti telah mengurangi peranan kiai sebagai filter budaya di masyarakat. Proses liberalisasi telah melucuti peran kiai sebagai panutan. Masyarakat yang notabene kaum santri yang sebelumnya selalu merujuk pada kiai dan pesantren ketika hendak menerima atau menolak sesuatu yang baru, sehingga ketika ditanya selalu menjawab terserah Pak Kiai, pelan-pelan sudah mulai meninggalkan hal tersebut. Dalam banyak hal masyarakat sudah mulai meninggalkan budaya konsultasi pada kiai untuk memutuskan sesuatu. Contoh dari fenomena ini adalah terkait dengan fenomena pemilu, baik saat pemilihan legislatif, pemilihan kepala daerah, maupun pemilihan presiden. Adanya dukungan kiai terhadap calon tertentu ternyata tidak otomatis mendorong masyarakat untuk turut serta mendukung calon tersebut. Fenomena ini sampai batas tertentu dapat mengkhawatirkan, karena di saat peran pesantren dan kiai sebagai benteng moral dan filter masyarakat sudah mulai tidak berfungsi, berbagai pemikiran dan adat istiadat yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam, akan dengan mudah masuk tanpa bisa disensor.

Liberalisasi keagamaan yang telah melahirkan berbagai wacana pemikiran, pandangan, dan tafsiran yang bebas terhadap Islam, ternyata juga mempengaruhi kaum santri. Orang-orang seperti Ulil Abshar Abdalla, Abdul Muqshid Ghazali, Zuhairi Misrawi, dan lainnya merupakan contoh kecil orang-orang yang selama ini menggerakkan wacana liberalisme merupakan sosok santri dari pesantren. Pengaruh liberalisasi agama sampai pada mempengaruhi pola metode studi Islam terutama di perguruan tinggi. Studi Islam yang semestinya menjadi pondasi malah terhegemoni oleh metode studi Barat yang bercirikan skeptis. Akibatnya, pendidikan Islam yang semestinya menghasilkan manusia-manusia yang bertaqwa, tetapi yang terjadi malah menciptakan orang-orang yang ragu pada ajaran agama.

Untuk menyikapi berbagai tantangan tersebut, pesantren sebagai tempat utama dalam pengkaderan santri semestinya tetap memperteguh peran yang telah dijalaninya sejak awal yaitu sebagai tempat untuk pendalaman ajaran agama (bertafaqquh fi al-din) dan sekaligus lembaga perjuangan. Ketika pesantren tergoda dan mengubah fungsinya tidak menyelenggarakan pendidikan untuk bertafaqquh fi al-din atau menurunkan tensinya sebagai lembaga pendidikan bertafaqquh fi al-din hanya karena menuruti pasar, justru semakin melenyapkan jati diri pesantren itu sendiri.

Dalam hal ini pesantren harus tetap berperan sebagai tempat  penyeleksi berbagai budaya maupun pemikiran yang masuk baik yang bersifat lokal seperti aliran-lairan sempalan, maupun yang bersifat global seperti fenomena liberalisme. Untuk itu, para santri di pesantren di samping dibekali dengan kemampuan untuk menyerap pemikiran para ulama terdahulu melalui kitab-kitab klasik, juga perlu dibekali kemampuan lebih untuk peka, cermat, dan kritis membaca berbagai fenomena budaya, ide, dan pemikiran yang berkembang yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan sekaligus secara sistematis mampu memberikan jawabannya. Misalnya ketika mencermati sebuah tayangan iklan di televisi para santri seharusnya mempunyai kepekaan bahwa ternyata ada tayangan iklan yang secara tidak langsung menyusupkan paham sekular bahkan ateis. Contoh, sebuah iklan produk air minum dalam kemasan menyebutkan bahwa air yang diproduksi adalah merupakan kebaikan alam. Kata ‘kebaikan alam” sebenarnya merupakan kata yang bernuansa sekular bahkan ateis. Kenapa si pembuat iklan tidak mengatakan dengan kalimat ‘kebaikan Tuhan’ atau lebih eksplisit kebaikan Allah atau karunia Allah. Penyebutan kata ‘kebaikan alam’ berarti menafikan eksistensi Tuhan yang berada di balik eksistensi alam semesta.

Kepekan santri untuk menyikapi berbagai hal yang ada di sekitarnya perlu terus diasah sehingga menjadi tajam dan cermat. Untuk itu para santri perlu dibekali pemahaman terhadap Islamic woldview. Menurut Prof. Naquib Al-Attas, ilmu pengetahuan modern saat ini telah diresapi elemen-elemen pandangan hidup Barat, yang dapat mengandung unsur agama, kebudayaan, serta peradaban Barat (Wan Daud: p 115-116). Pengetahuan modern yang diresapi dengan pandangan dunia (woldview) Barat menjadi sangat problematik. Karena itulah, untuk penguatan pendidikan Islam harus diawali dengan memberikan pemahaman terhadap woldview Islam, yaitu pemahaman tentang asas yang melandasi setiap aktivitas manusia termasuk aktivitas ilmiah dan teknologi. Woldview Islam akan menjadi alat analisis yang dapat digunakan untuk membaca berbagai fenomena budaya maupun pemikiran. Dengan analisis menggunakan woldview Islam dapat diketahui mana pemikiran yang sejalan dengan nilai Islam dan yang tidak, selanjutnya hanya pemikiran yang sejalan dengan nilai Islam saja yang bisa diambil dan yang tidak sejalan dengan nilai Islam harus ditinggalkan. Kaum santri terpelajar perlu dibekali agar selektif  dan kritis terhadap berbagai pemikiran yang menyimpang serta secara aktif melakukan telaah sebagai bentuk penolakan atas pemikiran yang menyimpang tersebut. Dalam hal ini khususnya pesantren yang menyelenggarakan pandidikan tinggi perlu secara cermat dalam mengelola kurikulum sehingga tidak terkooptasi oleh kepentingan eksternal yang merugikan, di samping itu juga perlu selektif dalam memilih tenaga pengajarnya.

Selain itu, para santri dalam arti luas perlu terus mendapatkan pembinaan melalui majelis-majelis taklim sehingga mereka tidak begitu gampang terpengaruh dengan arus perubahan yang terus-menerus menggerus lewat berbagai media. Dalam merespon tuntutan masyarakat agar santri alumni pesantren juga mempunyai kesinambungan dengan dunia kerja, selain bertafaqquh fi al-din para santri juga perlu dikenalkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta kewirausahaan. Dengan pengenalan iptek diharapkan output pesantren mampu mengikuti perkembangan yang ada dan tidak gagap teknologi, sementara itu dengan wawasan kewirausahaan diharapkan para santri lulusan pesantren memiliki kemampuan dan kemandirian untuk berkiprah di masyarakat.

penge-080720131072

Sebagai penutup, momentum hari santri haruslah menjadi tonggak untuk memantapkan kembali peran santri sebagai benteng moral bagi bangsa ini dalam menghadapi derasnya arus modernisasi yang tidak saja membawa kebaikan, tetapi juga membawa ekses negatif. Kaum santrilah yang seharusnya bisa menfilternya.

Wallahu a’lam.

[]