Pemberi, Bukan Peminta

Pelajaran Senyum dari Loksado

Oleh: Ust. Masyhuda Al-Mawwaz

Prinsip ajaran Islam adalah mengarahkan pemeluknya untuk memilih dua hal yang lebih mudah atau lebih mulia. Di antaranya adalah mengajak seorang muslim agar menjadi pribadi yang bisa memberi dan bukan menerima pemberian. “Tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan yang di atas adalah tangan yang berinfak dan tangan yang di bawah adalah tangan yang meminta.[1]

Jangan sampai seseorang memiliki mental ingin mendapatkan sumbangan dari orang lain, kecuali orang lain dengan kehendak sendiri memberikan sumbangan, maka tidak masalah dan harus diterima, tidak boleh ditolak. Qudamah bin As-Saidi bercerita:

[Khalifah Umar t menunjukku sebagai amil sedekah. Setelah selesai menjalankan tugas dan menyerahkan hasil kerjaku, oleh beliau diperintahkan agar aku diberi gaji. Aku menolak dan mengatakan: “Sungguh saya bekerja karena Allah, pahalaku hanya di sisi Allah.” Umar t berkata: “Ambil apa yang diberikan kepadamu, karena aku dulu juga menjadi amil pada masa Rasulullah r dan mengatakan seperti yang kamu katakan. Rasulullah r lalu bersabda:

إِذَا أُعْطِيْتَ شَيْئًا مِنْ غَيْرِ أَنْ تَسْأَلَهُ فَكُلْ وَتَصَدَّقْ

“Jika ada sesuatu diberikan kepadamu tanpa kamu memintanya, maka makanlah (terimalah) (dan jika tidak membutuhkan), maka sedekahkanlah!”[2]]

Bermental memberi, tidak tamak kepada orang lain dan meminta-minta,  tetapi harus menerima jika diberi tanpa meminta. Ajaran yang mulia ini supaya betul-betul diperhatikan dan dipraktikkan oleh seorang muslim. Oleh karena itu, Rasulullah r juga memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang memiliki kecukupan, tetapi bermental meminta-minta dan gemar menengadahkan tangan meminta uluran bantuan orang lain dengan ancaman-ancaman:

  1. Wajah Penuh Luka

Beliau r bersabda:

“مَنْ سَأَلَ وَلَهُ مَا يُغْنِيْهِ جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ خُمُوْشٌ أَوْ خُدُوْشٌ أَوْ كُدُوْحٌ فِى وَجْهِهِ”  فَقَالَ: يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْغِنَي؟ قَالَ: “خَمْسُوْنَ دِرْهَمًا أَوْ قِيْمَتُهَا مِنَ الذَّهَبِ”

“Barang siapa meminta-minta padahal ia memiliki harta yang mencukupi (kebutuhannya) kelak pada hari Kiamat wajahnya akan dipenuhi luka-luka.Abdullah (bin Mas’ud t) bertanya: “Wahai Rasulullah, berapa harta yang mencukupinya itu?” Beliau bersabda: “Lima puluh dirham atau emas seharga 50 dirham. [3]

Nilai kecukupan yang menjadikan dilarang meminta-minta juga dijelaskan dalam sabda Rasulullah r:

“مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيْهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ” قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَا يُغْنِيْهِ؟ قَالَ: “قَدْرُ مَا يُغَذِّيْهِ وَيُعَشِّيْهِ

“Barang siapa meminta sementara ia memiliki harta yang mencukupinya, maka sesungguhnya hanyalah memperbanyak (bara) neraka.Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang mencukupinya itu?” Beliau bersabda: “Sekedar untuknya makan pagi dan makan malam.[4]

 

  1. Wajah Buruk Keriput

Abdullah bin Umar t meriwayatkan bahwa Rasulullah r bersabda:

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّي يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

“Seseorang senantiasa meminta-minta sehingga kelak ia datang pada hari Kiamat dalam keadaan wajahnya tidak berdaging.[5]

Maksud wajah tidak berdaging memiliki sekian banyak tafsiran; 1) ia datang dalam keadaan sebagai orang yang rendah tidak memiliki kedudukan. Jadi bertolak belakang dengan do’a yang artinya Ya Allah jadikanlah saya orang yang memiliki kedudukan di dunia dan di akhirat. 2) ia disiksa di wajahnya sehingga rontoklah dagingnya. 3) kelak ia dibangkitkan dalam keadaan wajahnya hanya tulang sebagai syiar baginya sebagaimana seorang yang korupsi di pantatnya terdapat bendera yang berkibar bertuliskan orang yang korupsi. 4) wajahnya sama sekali tidak memiliki cahaya kebagusan, terlihat sangat buruk.

  1. Bara Neraka

 

Abu Hurairah t meriwayatkan bahwa Rasulullah r bersabda:

مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِر

“Barang siapa meminta-minta harta benda kepada orang lain untuk memperkaya diri, maka sesungguhnya ia hanyalah meminta bara api. Maka silahkan ia meminimalkan atau memperbanyaknya.[6]

 

Artinya setelah menderita wajah tidak berdaging, seseorang yang berprofesi sebagai peminta-minta, apapun caranya dengan tujuan untuk memperkaya diri juga harus menerima siksaan di neraka. Oleh karena beratnya siksaan inilah kemudian Rasulullah r memberikan bimbingan:  “Sungguh jika salah seorang kalian berangkat mencari kayu bakar, (memikul dan menjualnya lalu) bersedekah sebagian dan mencukupi dirinya sendiri agar tidak merepotkan orang lain, itu lebih baik daripada ia meminta-minta  yang terkadang diberi dan juga terkadang ditolak.[7]

 

  1. Pintu Kemiskinan

Abu Kabsyah al-Anmari t meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad r bersabda:

…وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ

“…dan seseorang tidak membuka pintu meminta-minta kecuali Allah pasti membuka atas dirinya pintu kefakiran.[8]

Secara zhahir hadits ini memberikan peringatan bahwa barang siapa yang meminta-minta tanpa hak, maka sungguh ia membuka pintu kemiskinan untuk dirinya sendiri. Atau jika dalam standar Rasulullah r: kekayaan sejati adalah kekayaan hati. Maka orang yang kaya karena meminta-minta tidak akan pernah bisa merasakan nikmat dan tenang dengan apa yang dimilikinya. Jiwanya akan semakin rakus seperti seseorang yang meminum air laut di mana semakin minum semakin haus. Ia makan tetapi tidak pernah kenyang.

Abdullah bin Abbas t juga meriwayatkan sabda Rasulullah r:

مَنْ فَتَحَ عَلَى نَفْسِهِ بَابَ مَسْأَلَةٍ مِنْ غَيْرِ فَاقَةٍ نَزَلَتْ بِهِ أَوْعِيَالٍ لَا يُطِيْقُهُمْ فَتَحَ اللهُ
عَلَيْهِ بَابَ فَاقَةٍ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِب

“Barang siapa yang membuka atas dirinya pintu meminta-minta tanpa ada kemiskinan yang dideritanya atau keluarga yang ia tidak sanggup menanggungnya, maka Allah pasti membuka atas dirinya pintu kemiskinan dari sisi yang tidak pernah disangkanya.[9]

(Bersambung)

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]H.R. Abu Dawud no: 1645

[2]H.R. Abu Dawud no: 1644

[3]H.R. Abu Dawud no: 1623

[4]H.R. Abu Dawud no: 1626

[5]H.R. al-Bukhari no: 1474. H.R. Muslim no: 1040

[6]H.R. Muslim no: 1041

[7]H.R. Muslim no:1042

[8]H.R. at-Tirmidzi no: 2325 Kitab az-Zuhdi, bab (17)

[9]H.R. Ahmad dalam al-Musnah musnad Abdullah bin Abbas t