Pemikiran Diabolis dalam Pelemahan Ketaatan Muslimah

Oleh

Masitha Achmad Syukri

Ketua DPP Anshoriyyah Yayasan Persyada Al Haromain

Dosen Linguistik Dept. Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya UNAIR

e0a81-muslimahUpaya pelemahan ketaatan seorang muslim maupun seorang muslimah sudah tentu menjadi target utama setan untuk dilakukan hingga ketaatan individu tersebut menjadi berkurang atau menjadi pseudo ketaatan (ketaatan palsu) atau bahkan hilang ketaatan. Beriman tanpa ketaatan telah terjadi pada iblis. Iblis tidak mengingkari Allah, tapi dia sombong dan membangkang terhadap perintah Allah sehingga dilaknat oleh Allah. Sudah menjadi target Iblis untuk selalu berusaha membuat manusia mengikuti pemikirannya (pemikiran diabolis), wataknya, dan atau perilakunya melalui pemikirannya agar bersama dia manusia masuk neraka. Diabolis berasal dari bahasa Yunani diabolos yang bermakna iblis. Menurut Dr. Syamsudin Arif dalam bukunya ‘Orientalis dan Diabolisme Pemikiran’ tahun 2008, diabolism bermakna pemikiran, watak, dan berperilaku ala iblis atau setan ataupun bentuk pengabdian kepadanya.

Dalam upayanya tersebut, iblis membuat manusia silau dengan perbuatan maksiat. Dia selalu berusaha  membuat kemaksiatan itu tampak baik sehingga manusia mencintai kemaksiatan.Artinya, logika berpikir manusia diputarbalikkan hingga terjadi kesalahan logika (logical fallacy) dalam memandang perbuatan salah mereka menjadi perbuatan (seolah) benar mereka.

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.(Q.S.Al-Hijr [15]: 39; juga pada Q.S. Al-An’am [6]: 43; dan Q.S. An-Nahl [16]: 63).

Mengenali Pemikiran Diabolis Pelemah Ketaatan Muslimah dalam Konteks Kekinian

Dengan karakterdasar iblis di atas, dapat dikatakan mudah untuk mengenali pemikiran diabolis. Pada intinya, pengingkaran terhadap perintah dan larangan yang sudah disampaikan dalam Al-Qur’an secara nyata adalah realisasi bentuk pemikiran diabolis. Pengingkaran tersebut kemudian dipoles sehingga tampak sebagai sebuah kebenaran yang harus diterima dan dilaksanakan melalui penafsiran yang liberal dan sesuai dengan kehendak mereka sendiri.

Pemikiran diabolis yang harus benar-benar diwaspadai seringkali dibungkus cantik dengan nama hak asasi manusia dan disebarkan secara massif dan berkelanjutan ke berbagai lini masyarakat. Dengan bungkus tersebut dia menjadi komoditi yang sangat menarik padahal pada dasarnya, dia mengelabui dan sekaligus merusak.

Secara khusus, terkait dengan kehidupan dan atau ketaatan muslimah, kita coba cermati pemikirandan target gerakan kaum feminis radikaldan atau kaum LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersexual, Queer).

  • Lesbian dan atau homoseks bukan kategori perilaku seks yang menyimpang.
  • Pernikahan dan atau keluarga tidak selalu harus antar heteroseks, tetapi bisa juga antar homoseks ataupun antar lesbian.
  • Perempuan harus mandiri, yakni bebas tidak terikat dan tertindas oleh laki-laki.
  • Perempuan bebas untuk bekerja, tak ada yang boleh menghalangi keinginan bekerja kaum perempuan.
  • Perempuan bebas memilih model pakaiannya dan bebas untuk selalu tampil cantik dimanapun dan kapanpun.
  • Perempuan bebas memilih menikah atau tidak menikah; jika memilih menikah, perempuan boleh menikah dengan laki-laki ataupun dengan perempuan.
  • Perempuan bebas memilih untuk memenuhi atau tidak memenuhi hasrat seksual suaminya; jika dipaksa, perempuan boleh melaporkannya sebagai bentuk pemerkosaan dalam rumah tangga oleh suami.
  • Perempuan bebas memilih untuk hamil atau tidak hamil; jika memilih tidak hamil, perempuan boleh menggugurkan bayinya.

Sepintas pemikiran-pemikiran tersebut tampak sangat membela perempuan dan atau memperjuangkan hak-hak perempuan agar terbebas dari tekanan laki-laki sehingga mendapatkan dukungan dari berbagai pihak secara internasional,yang antara lainadalah dukungan dari WHO (Badan Kesehatan Dunia) pada 17 Mei 1990 yang secara resmi telah menyatakan bahwa lesbian/homoseksualbukan penyakit/gangguan kejiwaan serta dukungan dana dari UNDP dan USAIDselain dukungan untuk membuka ruang dialog tentang hak-hak LGBT di Indonesia. Bahkan, beberapa negara telah melegalkan perkawinan sejenis, yakni negara Belanda (2000); Belgia (2003); Kanada dan Spanyol (2005); Afrika Selatan (2006); Norwegia (2006); Swedia (2009); Islandia, Portugal dan Argentina (2010); Denmark (2012); Uruguay, Selandia Baru, Brasil, Perancis, Inggris dan Wales (2013); Skotlandia dan Luksemburg (2014); Finlandia, Irlandia, Greenland, dan Amerika Serikat (2015).

Selain itu, perkembangan tehnologi dan informasi sangat memungkinkan gerakan LGBTIQ tersebut dilakukan secara massif dan tersistem sehingga berkembang menjadi tren budaya popular dan masuk tanpa filter. Media yang cukup ampuh untuk gerakan LGBTIQ disemua usia adalah melalui antara lain film, desain tas, emoticon, dan kartun untuk anak yang diproduksi Nickelodeon, Cartoon Network, dll. yang ternyata bertarget memperkenalkan keberagaman orientasi seksual sejak dini, misalnyaTeletubbies, Spongebob, The legend of Korra (book 4), The Simpsons, Sailor Moon (How to Train Your Dragon 2), Shingeki no Kyojin, the Loud House, Charlie, Clarence, dan sebagainya.

Secara khusus,mereka juga melakukan pemutarbalikan logika berpikir secara massif pula. Terhadap pihak-pihak yang berseberangan dengan mereka (yakni para kaum heteroseks), justru mereka sebut sebagai pihakhomophobia (istilah ini pertama kali dipergunakan oleh Kenneth Smith pada tahun 1971), yakniberbagai sikap negatif (antipati, penghinaan, prasangka, kebencian, dan ketakutan irasional) terhadap homoseksualitas atau orang yang diidentifikasi sebagai gay atau lesbian.  Ironisnya, mereka nyatakan bahwa pihak homophobia memiliki kecenderungan menjadi homoseks serta merayakan IDAHO atau International Day against Homophobia (Hari Melawan Homophobia Internasional) pada setiap tanggal 17 Mei yang diikuti oleh seluruh organisasi advokasi homoseksual di dunia.

Di Indonesia, kaum LGBTIQ juga mengadakan perluasan gerakan yang cukup intens. Dialog Komunitas LGBTIQ Nasional Indonesia yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, Indonesia pada bulan Juni 2013 menghasilkan 22 rekomendasi dengan rincian7 rekomendasi untuk Organisasi dan Komunitas LGBT di Indonesia, 11 rekomendasi untuk Pemerintah Republik Indonesia , 4 rekomendasi untuk Lembaga-lembaga Multilateral dan Bilateral dengan tujuan agar:

  • Diperoleh pengakuan secara resmi tetang keberadaan kelompok LGBT sebagai bagian integral dalam masyarakat Indonesia, serta menghargai dan melindungi HAM kelompok LGBT yang setara dengan warga Indonesia lainnya;
  • Dilakukan pengarusutamaan permasalahan hak asasi manusia dan orientasi seksual serta identitas gender di lingkungan lembaga-lembaga nasional serta sektor swasta;
  • Dilakukan pengarusutamaan permasalahan orientasi seksual serta identitas gender ke dalam kurikulum pendidikan nasional, mulai dari tingkat sekolah lanjutan:
  • Didorong kegiatan pendidikan tentang orientasi seksual dan identitas gender serta hak asasi manusia di lingkungan komunitas LGBTIQ dan kepada orang tua serta keluarga, baik melalui organisasi LGBTIQ maupun organisasi hak asasi manusia dan pendidikan nonLGBTIQ di tingkat nasional maupun daerah, dengan melibatkan lembaga hak asasi manusia dan lembaga hukum.

Mereka juga aktif menyuarakan perubahan beberapa regulasi yang mereka anggap diskriminatif terhadap LGBTIQ, antara lain misalnya perubahan terhadap:

  • UU Perkawinan No. 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.
  • UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi yang menyebutkan homosexual adalah persenggamaan yang menyimpang (abnormal)
  • Fatwa MUI no. 57 tahun 2014 tentang Lesbian, Gay, Sodomi, dan Pencabulan yang mengharamkan LGBT serta menyerukan berbagai hukuman, dari cambuk hingga hukuman mati, untuk para kaum homoseksual.

Kaum LGBTIQ sangat memanfaatkan dunia perguruan tinggi untuk mempropagandakan LGBTIQ karena memberi kesempatan yang cukup luas untuk mendiskusikan ihwal LGBTIQ dalam ranah ilmiah harus bebas nilai menurut mereka. Karena paparan terus-menerus pada pemikiran-pemikiran tersebut, dukungan akademisi pun diperoleh, misalnya melalui penerbitansebuah buku yang berjudul ‘Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-Hak Kaum Homoseksual’ tahun 2005 yang merupakan kumpulan artikel di Jurnal Justicia Fakultas Syariah IAIN Semarang. Dalam buku tersebut, dinyatakan bahwa pengharaman nikah sejenis merupakan kebodohan umat Islam yang memahami ajaran agama sebagai doktrin tanpa mengkajinya secara kritis. Bahkan dinyatakan juga bahwa yang terjadi pada kaum Nabi Luth dalam Q.S. Al-A’raf [7]: 80-84 tidak dapat dipisahkan dari kepentingan Nabi Luth yang gagal menikahkan putri-putrinya dengan dua laki-laki yang kebetulan homoseks. Untuk bencana alam terjadi padadasarnya adalah bencana alam biasa, tapi karena masyarakat dulu sangat tradisional dan mistis, mereka menghubung-hubungkannya sebagaiadzab bagi kaum Nabi Luth.

Selain itu, di dalam wawancara dengan Jurnal Perempuan edisi Maret 2008, Prof. Dr. Musdah Mulia dari UIN Jakarta, menyatakan bahwa Allah hanya melihat taqwa, bukan orientasi seksual manusia. Menurut beliau, “Menarik sekali  membaca ayat-ayat Al-Qur’an soal hidup berpasangan (Ar-Ruum 21; Adz-Dzariat 49, dan Yasin 26). Di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah jenis gender (jenis kelamin sosial). Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo dan bisa lesbian. Maha suci Allah yang menciptakan manusia dengan orientasi seksual yang beragam.”

Dampak Pemikiran Diabolis terhadap Ketaatan Muslimah

Feminism radikal menganggap bahwadalam keluarga (antar heteroseks), perempuan (baca istri) adalah pihak pemuas nafsu laki-laki (baca suami). Kehidupan rumah tangga selalu dianggap kaum feminis sebagai institusi yang mengukuhkan dominasi kaum laki atas diri perempuan karena perempuan hanya berada pada wilayah domestik, yakni antara tempat tidur, dapur, dan juga sumur. Akibatnya, tidak sedikit muslimah yang tampak mulai gamang untuk menikah atau berkeluarga. Terkait dengan itu, feminist radikal menyatakan bahwa perempuan dapat hidup dan memuaskan seksnya tanpa laki-laki dan bisa berkeluarga tanpa laki-laki, tapi dengan perempuan. Pandangan inilah yang melahirkan perilaku seks menyimpang antar perempuan, yakni lesbian yang juga tidak sedikit perempuan muslimah yang berperilaku seksual seperti itu (naudzubillah).

Bahkan beberapa akhirnya memilih tidak menikah, atau memilih sebagai wanita karier dengan pakaian yang membuka aurat ataupun berjilbab tapi dengan pakaian sangat ketat dengan make-up wajah yang sangat mencolok (atau menggoda), serta bergaul bebas dengan laki-laki. Berkerudung atau berhijab adalah sebuah bentuk ketaatan, tetapi tidak sedikit kemudian yang menodainya dengan perilaku-perilaku yang merendahkan kemuliaan perempuan, misalnya berjilbab tapi juga merokok, berjilbab tapi juga bermesraan dengan lelaki (yang bukan suaminya dan dilakukan di depan umum lagi). Dengan lain kata, tampaknya mereka taat sekaligus bermaksiat dan bahkan mereka bersikap masa bodo dengan kemaksiatan yang telah dilakukannya.

Bagaimana Seharusnya Muslimah Bersikap?

Terhadap pemikiran diabolis,muslimah tidak seharusnya menerima begitu saja pemikiran Barat, apalagi jelas-jelas berlawanan dengan ajaran Islam.Mereka harus bersikap kritis dan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap pemikiran diabolis yang sangat mengancam ketaatan mereka kepada Allah.

Ketaatan muslimah adalah ketaatan terhadap perintah dan larangan Allah secara utuh dan menyeluruh; bukan ketaatan semu, yakni dengan menggabungkan ketaatan kepada Allah dan ketaatan terhadap setan (menyetujui dan ikut menyebarluaskan pemikiran diabolis) yang tentu saja itu tidak bisa dibenarkan. Muslimah harus terus belajar dan mengkaji tentang Islam dari guru yang memiliki ilmu yang mendalam dengan jalur keilmuan yang bersambung kepada Rasulullah serta memiliki ghairah Islam yang tinggi, yakni menegakkan kalimat Allah di muka bumi.

Dengan menetapi dan selalu berupaya meningkatkan ketaatan yang sesungguhnya kepada Allah, insyaAllah kebahagiaan di dunia dan di akhirat akandapat diperoleh.

Wallahu a’lam bish-shawab.