Pemimpin Ideal

Oleh: Dr. Adian Husaini

(Pembina Pesantren Shoul-Lin al-Islami, Depok)

downloadSebuah doa yang sering kita baca: “Rabbanā hab lanā min azwājina wa-dzurriyyatinā qurrata a’yunin waj’alnā lil-muttaqīna imāmā.” Ya Allah, karuniakanlah istri-istri dan anak-anak kami sebagai ‘penyejuk mata’ dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa! (Q.S. al-Furqan: 74).

Ini bukan doa sembarangan. Kita memohon kepada Allah agar kita dijadikan pemimpin (imam) bagi manusia-manusia terbaik, yaitu manusia yang bertaqwa. Sebab, Allah menegaskan dalam Q.S. al-Hujurat: 13, bahwa manusia paling mulia adalah yang paling bertaqwa. Doa ini memberikan inspirasi bagi kita, kaum muslim, bahwa kita harus bekerja keras untuk menjadi yang terbaik, menjadi pemimpin di berbagai bidang kehidupan.

Rasulullah SAW pun menyebut kita semua adalah pemimpin, pengayom, ‘penggembala’. “Setiap kamu adalah pemimpin dan kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu pimpin.(H.R. al-Bukhari).

Jadi, sebagai khalifatullah di muka bumi dan pengikut para Nabi yang mulia, umat Islam memang mendapat tugas khusus dari Allah untuk mewujudkan rahmatan lil alamin, memakmurkan bumi dan mewujudkan keselamatan bagi manusia, di dunia dan akhirat. Umat Islam akan menjadi saksi atas manusia. Sebab kata Nabi SAW, Al-Islamu ya’lu wal yu’la. Islam itu tinggi. Tidak ada yang lebih tinggi dari Islam.

Karena itulah, Nabi Muhammad SAW diperintah membangun satu generasi, satu umat terbaik, agar mampu menjalankan fungsi kepemimpinan atas umat manusia. “Wahai Nabi, siapkanlah orang-orang mukmin untuk berperang. Jika ada 20 orang mukmin yang sabar di antaramu, maka akan mengalahkan 200 orang (orang kafir), dan jika ada 100 orang mukmin yang sabar di antaramu, maka akan mengalahkan 1000 orang kafir, karena mereka kaum yang tidak paham.” (Q.S. al-Anfal: 65)

Salah satu ciri bangsa hebat adalah bangsa yang memiliki kekuatan perang terhebat.  Amerika Serikat contohnya. Saat ini Amerika Serikat merupakan negara dengan tentara dan persenjataan terhebat dalam sejarah manusia. Bangsa Amerika, Jepang, Singapura, Israel, Korea, dan sebagainya, sampai saat ini menerapkan kebijakan wajib militer untuk rakyatnya. Itu artinya, mereka menyiapkan perang. Kekaisaran Romawi dulu dikenal dengan jargonnya: si vis pacem para bellum! (Jika Anda mau damai, siapkan perang!).

Dalam bukunya, American Dream, Global Nightmare (2004), Ziauddin Sardar dan Merryl Wyn Davies, mencatat adanya 10 hukum dalam mitologi Amerika (the ten laws of American mythology). Di antaranya ialah: “America is the idea of nation” dan “American tradition and history are universal narratives applicable across all time and space.” Bahwa, Amerika adalah negara terbaik, dan bahwa tradisi dan sejarah AS adalah bersifat universal yang lintas zaman dan lintas budaya.

Amerika seperti mau menyaingi misi dan tugas Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk  menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sayangnya, hukum pertama dalam 10 mitologi AS itu adalah: “Fear is essential”. “Ketakutan”, tulis Sardar dan Davies, “adalah esensial bagi AS”. Tanpa ‘ketakutan’ tidak ada eksistensi AS. Ketakutan adalah energi yang memotivasi kekuatan dan menentukan aksi dan reaksi. Ketakutan dapat menghilangkan logika sehat. Isu keamanan menjadi sentral, bahwa rakyat AS memang selalu berada dalam ancaman. Dulu oleh komunis, sekarang oleh teroris.

Jika AS begitu bersemangat dalam membangun kebanggaan atas tradisi dan sejarahnya, maka sepatutnya umat Islam – yang diamanahi menjadi khaira ummah –  lebih bersemangat dari AS, dan berbagai bangsa lainnya, dalam usaha menjadi umat terbaik dan pemimpin umat manusia. Rasulullah SAW telah berhasil mewujudkan generasi terbaik itu. Generasi hebat yang kualitasnya 10 kali lipat kekuatan Romawi saat itu.

Bukti Sejarah

Peradaban Islam, setelah Nabi Muhammad SAW wafat, telah melahirkan manusia-manusia hebat yang menjadi teladan bagi umat manusia. Dunia pernah menyaksikan kehebatan kepemimpinan Abu Bakar ash-Shiddiq ra, pemimpin negara yang enggan menggantungkan hidupnya pada negara. Beliau tetap berdagang, sampai akhirnya dinasihatkan berhenti oleh para penasihat Khalifah seperti Umar bin Khathab ra dan Ali bin Abi Thalib ra.

Lihatlah Umar bin Khathab ra, seorang pemimpin negara yang begitu perkasa, cerdas, zuhud, dan berani. Umar t membuat sejarah baru dalam kebijakan politik di Kota Jerusalem, yang belum pernah dibuat penguasa sebelumnya. Penaklukan Kota Jerusalem yang tidak berdarah-darah dan kebijakannya memberikan toleransi beragama di Jerusalem dipuji oleh Karen Armstrong, mantan biarawati terkenal di Inggris.

 “Umar also expressed the monotheistic ideal of compassion more than any previous conquerer of Jerusalem, with the possible exception of King David. He presided over the most peaceful and bloodless conquest that the city had yet set seen in its long and often tragic history,” tulis Karen Armstrong dalam bukunya, A History of Jerusalem: One City, Three Faiths, (1997).

Belum kita bicara tentang kehebatan Umar bin Abdul Aziz, Harun al-Rasyid, Muhammad al-Fatih, dan sebagainya. Di Nusantara ini, kita mengenal sosok-sosok ulama pejuang yang tangguh: Wali Songo, Syekh Yusuf al-Maqassari, Syekh Abdus Shamad al-Falimbani, Syekh Nawawi al-Bantani, K.H. Hasyim Asy’ari, dan sebagainya. Sebutlah kehebatan Sunan Ampel yang mendidik anak Raja Majapahit sampai akhirnya menjadi Raja muslim pertama di Tanah Jawa. Sebut pula Syekh Yusuf al-Maqassari, yang memimpin sekitar 5000 pasukan Banten melawan Belanda.

Syekh Abdus Shamad al-Falimbani (lahir tahun 1116 H/1704 M, di Palembang), merupakan ulama sufi pejuang yang menulis puluhan kitab. Di antara kitab karyanya adalah: Zahratul Murid fi Bayani Kalimatit Tauhid, Risalah Pada Menyatakan Sebab Yang Diharamkan Bagi Nikah, Hidayatus Salikin fi Suluki Maslakil Muttaqin, Siyarus Salikin ila ‘Ibadati Rabbil ‘Alamin, Al-‘Urwatul Wutsqa wa Silsiltu Waliyil Atqa, Ratib Sheikh ‘Abdus Shamad al-Falimbani, Nashihatul Muslimina wa Tazkiratul Mu’minina fi Fadhailil Jihadi wa Karaamatil Mujtahidina fi Sabilillah, Ar-Risalatu fi Kaifiyatir Ratib Lailatil Jum’ah, Mulhiqun fi Bayani Fawaidin Nafi’ah fi Jihadi fi Sabilillah, dan sebagainya.

Kitab Syekh Abdus Shamad yang berjudul ‘Nashihatul Muslimina wa Tazkiratul Mu’minina fi Fadhailil Jihadi wa Karaamatil Mujtahidina fi Sabilillah’ menerangkan kewajiban orang Muslim berjihad melawan kaum kafir. Dalam The Achehnese, seperti dikutip Azyumardi Azra, Snouck Hurgronje menyebutkan bahwa karya Syekh al-Falimbani merupakan sumber rujukan utama berbagai karya mengenai jihad dalam Perang Aceh yang sangat panjang melawan Belanda, mulai 1873 sampai awal abad ke-20. Kitab ini menjadi model imbauan agar kaum Muslim berjuang melawan kaum kafir. (Lihat, Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, (Jakarta: Prenada Media, 2005).

Bangsa Indonesia masih terus berutang jasa kepada K.H. Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan fatwa jihadnya, tahun 1945.  Fatwa jihad Kyai Hasyim itu berdampak besar dalam menggerakkan umat Islam berjihad melawan tentara penjajah. Ribuan kyai dan santri berperang melawan tentara Sekutu, yang baru saja memenangkan Perang Dunia kedua. Lima belas ribu tentara Sekutu dengan persenjataan serba canggih tak mampu menghadapi pasukan perlawanan pasukan kyai dan santri. Bahkan, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas di tangan laskar santri.

Sejarah Indonesia pernah mencatat lahirnya ulama pemimpin dan cendekiawan hebat seperti Hamka dan Haji Agus Salim. Mereka telah menggoreskan tinta emas bagi sejarah kehidupan manusia. Kita kenal pribadi Hamka, yang dengan tegas menolak permintaan pemerintah agar fatwa haramnya muslim menghadiri Perayaan Natal Bersama, dicabut. Demi menjaga kemandirian sebagai ketua MUI, sejak awal Hamka menolak berkantor di Masjid Istiqlal dan digaji sebagai ketua MUI. Maka, tatkala situasi menuntut mundur dari MUI, bukan masalah baginya. Keteguhan, keberanian, keikhlasan, dan kecerdikan senantiasa menyatu pada diri tokoh-tokoh panutan umat.

Haji Agus Salim, yang tak lain salah satu guru Hamka, dikenal sebagai cendekiawan hebat dan mandiri. Kesepuluh anaknya dididik sendiri. Tidak disekolahkan. Ia bertahan dengan identitas Islamnya. Gelar haji, jenggot, dan sarung menjadi ciri khasnya.  Ia dikenal teguh pendirian dan pandai berargumen. Saat beliau sedang berorasi, lawan-lawannya mengejeknya dengan cara mengembik, mengejek jenggotnya seperti jenggot kambing. Di tengah-tengah orasinya, beliau diam memandangi sebagian orang yang menghinanya. Lalu berkata, “Maaf, para kambing. Saya sedang berbicara dengan manusia. Saya paham Anda tidak mengerti bahasa manusia. Oleh karena itu, silakan kalian tunggu di luar. Setelah selesai bicara dengan manusia, saya akan melayani Anda dengan bahasa Anda. Sebab, saya ahli dalam berbagai macam bahasa.”

Ketika berdebat dengan orang Belanda di konsulat Jeddah Arab Saudi, Agus Salim yang sangat cerdas dan menguasai banyak bahasa asing itu disentil, “Anda jangan merasa pintar sendiri. Banyak orang pintar selain Anda.” Dengan santai Agus Salim menjawab, “Memang banyak orang pandai di dunia ini. Tapi sampai saat ini saya belum bertemu dengan orang tersebut.” Demikian ungkapan beliau secara diplomatis untuk mengatakan bahwa orang Belanda tersebut bukan orang pintar. Itu yang diceritakan Hamka dalam bukunya, Pribadi.

Adakah kini orang-orang seperti mereka? Tentu jawabnya: “Ada!” Namun repotnya barangkali jumlah mereka terlalu kecil dibanding kebutuhan. Yang jelas, kita merasakan orang-orang yang layak menjadi panutan semakin langka. Kalaupun ada, tak jarang integritasnya pun diragukan dengan sikap dan pernyataan-pernyataan mereka yang plin-plan dan membingungkan umat. Padahal secara alami harus kita akui orang-orang yang memiliki bakat sebagai ulama pemimpin jumlahnya tidak banyak.

Pendidikan Pemimpin

Ulama adalah pewaris Nabi. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, maka amanah kepemimpinan umat diserahkan kepada ulama. Maka, ulama bertanggung jawab atas kepemimpinan umat. Ulama bukan hanya “tukang doa” atau “tukang ngajar”. Ulama harus peduli dengan masalah umat. Ulama harus tampil di depan untuk menyelesaikan masalah umat Islam. Itulah amanah Rasulullah SAW.

 Tapi, ulama tidak dilahirkan. Artinya, tidak ada jaminan bahwa ulama pasti melahirkan ulama. Ulama pun tidak turun dari langit. Ulama lahir dari proses pendidikan. Ketika umat menghadapi problema krisis kepemimpinan, lihatlah kondisi pendidikannya. Apakah pendidikan Islam mampu melahirkan ulama pemimpin umat? Apakah pendidikan Islam melahirkan manusia-manusia beradab yang cinta Allah, cinta Rasul, cinta ilmu, cinta ulama, dan cinta perjuangan? Atau, pendidikan kita lebih banyak melahirkan manusia-manusia cinta dunia?

Maka, saatnya, kita renungkan sungguh-sungguh rumus Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin: Rakyat rusak karena penguasa rusak; penguasa rusak karena ulama rusak; ulama rusak karena cinta harta dan kedudukan!

Jika keluarga, pesantren, madrasah, masjid, dan sekolah kita gagal melahirkan pemimpin ideal, maka jangan heran, jika yang tampil adalah pemimpin kafir, fasik, atau zalim! Wallahu A’lam.

(Depok, 20 Oktober 2016).