Pendidikan Islam dan Kepemimpinan Islam (Bagian I)

Oleh:

Masitha Achmad Syukri

Dosen Linguistik Dept. Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya UNAIR

“Dia tidak belajar filsafat di sekolah Athena atau Roma, Persia, India, atau India, tapi beliau dapat memproklamirkan kebenaran yang tertinggi dari nilai abadi kepada umat manusia. Meski buta aksara, beliau dapat berbicara dengan kefasihan lidah dan perasaan yang kuat untuk menggerakkan manusia menuju tangis-tangis kebahagiaan. Kendati dilahirkan sebagai anak yatim dan diberkati, tanpa harta benda duniawi, beliau dicintai semua orang. Beliau tidak belajar di akademi militer, tetapi beliau dapat menyusun pasukannya melawan rintangan yang tidak seimbang dan memperoleh kemenangan-kemenangan melalui kekuatan moral yang beliau susun. Manusia berbakat dengan kejeniusan retorik memang jarang. Descartes memasukkan Muhammad sebagai orator yang sempurna diantara orator-orator yang jarang di dunia.” 

(Prof. K.S. Ramakhrisna Rao-seorang ahli filsafat India-dalam bukunya “Muhammad the Phrophet of Islam” tahun 1989, yang dikutip oleh Dr. Muhammad Syafii Antonio dalam bukunya “Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager”, 2007).

***

Apakah umat Islam sedang mengalami krisis kepemimpinan Islam sehingga seolah dipermaklumkan umat Islam dipimpin oleh non-muslim dalam sebuah negara yang notabene warganya adalah mayoritas muslim? Tanyaan di atas sejatinya menjadi tamparan yang cukup keras bagi dunia pendidikan Islam yang seharusnya merupakan agen penghasil pemimpin umat dan atau ulama pemimpin umat. Apakah pendidikan Islam memang belum mampu melahirkan pemimpin umat dan atau ulama pemimpin umat yang berkualitas?

a

Tentu juga tidak diinginkan bahwa pendidikan Islam hanya membincang kepemimpinan sebagai bagian sebuah studi atau sebuah teori dan atau sebagai sebuah bagian studi sejarah yang tidak menyentuh urgensi kelahiran pemimpin umat atau ulama pemimpin umat yang menjunjung tinggi perjuangan demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi ini. Artinya, sekolah-sekolah Islam sudah seharusnya memiliki dan menerapkan kurikulum pendidikan kepemimpinan secara teoritis dan praktis, yakni kurikulum kepemimpinan yang lengkap melingkupi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Di dalam Islam, kepemimpinan bukanlah barang baru. Urgensinya dapat dipahami sepenuhnya. Hal itu bisa dilihat dalam nash-nash berikut.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu…” (Q.S. Annisa (4):59).

Di dalam penciptaan Nabi Adam A.S. pun, Allah SWT menggunakan istilah khalifah yang sangat erat kaitannya dengan kepemimpinan.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (Q.S. Al Baqarah (2) ayat 30).

Sabda Rasulullah SAW berikut juga menunjukkan bahwa setiap dari kita adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban.

“Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya tentang hal yang dikerjakannya. Dan kamu semua adalah pemimpin dan akan diminta pertanggunganjawaban atas yang kalian pimpin. (HR. Bukhari-Muslim).

Islam juga menekankan keutamaan sholat berjamaah dibanding sholat sendirian. Di dalam konsep sholat berjamaah, tentu saja diharuskan adanya imam sholat atau pemimpin dalam sholat tersebut.

“Sholat berjamaah lebih afdhal daripada sholat sendirian sebanyak 27 kali lipat.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Keutamaan Saling Membangunkan untuk Shalat Malam

Firman Allah dalam Q.S. Al Maidah (5) ayat 51 menyiratkan bahwa pemimpin adalah harus dari umat Islam sendiri. Lantaran itu, umat Islam harus siap menjadi pemimpin.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu)…” (Q.S. Al Maidah (5) ayat 51).

Dengan demikian jelas bahwa ihwal kepemimpinan sangatlah urgen di dalam Islam. Oleh karena pemimpin tidaklah dilahirkan ataupun diwariskan tetapi dikarenakan sebuah proses, tentu sangat dibutuhkan curahan pemikiran yang fokus mengupayakan lahirnya pemimpin-pemimpin Islam tak terkecuali pemikiran untuk merancang pendidikan Islam yang menumbuhkembangkan jenis atau model sekolah yang melahirkan para pemimpin.

Pendidikan Islam haruslah memiliki cetak biru proses pendidikan Islam yang akan melahirkan pemimpin, mulai dari pendidikan usia dini hingga pendidikan tinggi. Kendati tentu tidak semua lulusan menjadi pemimpin, setidaknya sekolah sejak awal memroses untuk menghasilkan lulusan-lulusan yang memiliki jiwa dan ketrampilan/kemahiran kepemimpinan yang tinggi, siap memimpin dan siap dipimpin.

Model Cetak Biru Kepemimpinan dalam Pendidikan Islam  

Kutipan di awal tulisan ini merupakan salah satu dari sekian banyak pengakuan para ahli di dunia tentang kehebatan kepemimpinan sang Super leader, yakni, Nabi besar Muhammad SAW. Atas rahmat Allah, hanya dalam waktu 23 tahun, beliau telah membangun peradaban yang memimpin dunia. Sebuah capaian yang luar bisa yang mengalahkan perhitungan umum untuk kemapanan sebuah peradaban yang harus ditempuh minimal 100 tahun. Menurut Muhammad Syafii Antonio, hampir semua mega fitur ketrampilan kepemimpinan yang dinyatakan dalam berbagai teori kepemimpinan (oleh Kets de Vries, Steven Covey, Warren Bennis, Burt Nanus, James O’Toole, dan sebagainya) ada pada diri Nabi besar Muhammad SAW.

Yang lebih luar biasa lagi adalah bahwa Rasulullah bukan merupakan produk sekolah formal tapi justru memiliki kualitas yang jauh lebih unggul daripada produk sekolah formal. Rasulullah adalah produk ‘pendidikan wahyu’. Jadi, sudah selayaknya sekolah formal harus berkiblat pada pola ‘pendidikan wahyu’ untuk melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas. Dengan demikian, cukuplah pola kepemimpinan Nabi besar Muhammad SAW yang menjadi model kepemimpinan dalam cetak biru pendidikan Islam.

Bagaimanakah mega fitur ketrampilan kepemimpinan Rasulullah SAW dan bagaimana pula implementasinya di lingkungan sekolah sehari-hari? Wallahu a’lam. (Bersambung).

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *