Pendidikan Islam dan Kepemimpinan Islam (Bagian II -Tamat)

Oleh

Masitha Achmad Syukri

Dosen Linguistik Dept. Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya UNAIR

images-3Bagaimanakah mega fitur kepemimpinan Rasulullah SAW dan bagaimana pula implementasinya di lingkungan sekolah sehari-hari? Dalam hal itu, yang menjadi landasan utama adalah meneladani pola pendidikan wahyu seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad, yakni semua upaya dilakukan sesuai dengan arahan atau petunjuk dari Allah. Jadi, kita mesti mengutamakan Al Qur’an dan As Sunnah dalam menjalankan peran dan atau kedudukan sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Kepemimpinan Rasulullah meliputi kepemimpinan sebagai sosok pribadi dan sebagai pemimpin umat. Sebagai pribadi, Rasulullah merupakan pribadi yang sangat mulia dan sebaik-baik manusia. Artinya, beliau menjadi teladan dalam hal kepemimpinan diri sendiri. Sementara itu, sebagai nabi pun, beliau merupakan nabi yang mulia dan paling mulia di antara nabi yang lain dan itu berarti Rasulullahjuga menjadi teladan dalam memimpin umat.

Teladan Kepemimpinan Diri Sendiri

Sabda Rasulullah SAW bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya (HR. Bukhari-Muslim) menunjukkan bahwa setiap dari kita adalah pemimpin diri sendiri yang akan dimintai pertanggungjawaban. Hadits tersebut pada dasarnya menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan ihwal kepemimpinan diri sendiriatau self leadership yang sebenarnya juga merupakan dasar dari segala bentuk kepemimpinan.

Kepemimpinan diri sendiri merupakan kemampuan untuk mengelola dan mengarahkan dinamika hati dan pikiran diri sendiri dengan memperhatikan aspek ketenangan diri, kedisiplinan diri, kepercayaan diri,semangat diri, dan keberanian diri. Dalam hal itu, Rasulullah menjadi teladan dalam hal membuat diri untuk selalu tenang, disiplin,  percaya diri, semangat, dan berani.

Untuk menjadi pribadi yang tenang, beliau mengajarkan untuk selalu berdzikir kepada Allah.

Untuk menjadi pribadi yang disiplin, beliau antara lain mengajarkan untuk selalu sholat tepat waktu.

Untuk menjadi pribadi yang percaya diri, beliau mengajarkan dengan memberi kepercayaan dan tugas-tugas khusus kepada beberapa sahabatnya.

Untuk menjadi pribadi yang semangat, beliau antara lain mengajarkan untuk selalu mengajak orang lain berbuat kebaikan agar memperoleh kebahagiaan yang abadi.

Untuk menjadi pribadi yang berani, beliau telah mengajarkan keberanian mengambil risiko dakwah, baik risiko untuk diri beliau (yang diancam dibunuh) maupun risiko untuk keluarga beliau (yang mengalami embargo) dan risiko-risiko lainnya.

Teladan Kepemimpinan Umat

Rasulullah memiliki empat sifat utama sebagai nabi, yakni shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Shiddiq berarti benar, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Amanah berarti dapat dipercaya, yakni setiap urusan yang diberikan akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan tidak mungkin Rasulullah berkhianat terhadap pihak pemberi amanah.Tabligh berarti menyampaikan semua risalah yang diemban dan tidak ada yang satupun yang disembunyikan. Fathanah berarti cerdas, yakni cerdas dalam menyampaikan risalah Islam, menjelaskan firman Allah dan mampu berargumentasi dengan kuat dalam mengajak kepada Islam.

ponpes-nurul-haromain-2

Terkait dengan itu, pihak sekolah atau lembaga penyelenggara pendidikan sebaiknya menyusun kurikulum pemelajaran kepemimpinan sejak siswa TK-SD hingga siswa dewasa (SMP-SMA-PT). Minimal, anak harus dilatih untuk bisa memimpin diri sendiri dan kemudian berkembang memimpin teman-temannya dengan meneladani kepemimpinan diri Rasulullah dan kepemimpinan kenabian dengan empat sifat dasar nabi tersebut.

  • Melatih shiddiq kepada siswa sama artinya dengan melatih siswa untuk berkata dan berperilaku/bertindak jujur dan dapat dilakukan antara lain misalnya sekolah menyelenggarakan kantin kejujuran pada hari-hari tertentu.
  • Melatih amanah kepada siswa antara lain dapat dilakukan dengan misalnya guru A menyuruh siswa B pada hari Senin untuk menyampaikan surat kepada guru C pada hari Selasa. Pada hari Rabu, guru A mengecek pada guru C apakah sudah menerima surat tersebut atau belum. Bentuk latihan lain adalah dengan memberi amanah pengaturan kelas dalam kurun waktu tertentu kepada siswa, yakni misalnya ada yang diberi tugas menjadi ketua kelas, wakil ketua kelas, sekretaris kelas, bendahara kelas, dan sebagainya dalam waktu 6 bulan misalnya.
  • Melatih tabligh kepada siswa dapat dilakukan misalnya dengan meminta siswa D dari kelas A untuk menyampaikan informasi lomba kebersihan kepada siswa kelas B. Setelah itu guru kelas A menanyakan ke guru kelas B apakah siswa D sudah menyampaikan informasi tersebut. Selain itu guru kelas A juga mengajarkan siswa D untuk melaporkan kepada guru kelas A jika telah melaksanakan perintah tersebut.
  • Melatih fathanah kepada siswa antara lain dapat dilakukan dengan meminta siswa E dari kelas B menjelaskan arti penting menjaga ketertiban dan atau kebersihan bersama kepada siswa kelas C. Setelah itu guru kelas B menanyakan ke guru kelas C apakah siswa E sudah menjelaskan arti penting menjaga ketertiban dan atau kebersihan bersama tersebut. Selain itu guru kelas B juga mengajarkan siswa E untuk melaporkan kepada guru kelas B jika telah melaksanakan perintah tersebut.

Merancang dan Membangun Tradisi Kepemimpinan di Sekolah

Sekolah perlu membangun tradisi kepemimpinan di sekolah yang bisa dimulai dengan mencanangkan hari kepemimpinan. Didalamnya semua siswa diajari membuat visi, misi dan tujuan hidup. Mereka juga bisa dilatih ketrampilan manajemen dan kepemimpinan yang kerap diabaikan, misalnya ketrampilan membuat alternatif pemecahan masalah, membuat pilihan yang tepat, mengelola waktu, etika bergaul, menegakkan disiplin dan sebagainya. Kemudian, mereka diberi kesempatan untuk menerapkan keterampilan tersebut di kelas, disekolah, dan di masyarakat dengan arahan dan atau pengawasan dari para guru.

ponpes-nurul-haromain

Kurikulum kepemimpinan selanjutnya bisa dikembangkankan dengan mengenalkan dan bahkan memajankan siswa pada tokoh-tokoh pemimpin Islam, misalnya pemimpin Islam Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, Umar bin Abdul Aziz, Sholahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, dan sebagainya. Metode pun bisa menggunakan ceramah, diskusi, bermain peran, dan sebagainya. Dengan itu, insyaAllah akan muncul kebanggaan terhadap tokoh-tokoh pemimpin Islam dan pada akhirnya akan memunculkan keinginan kuat untuk meneladani mereka. Wallahu a’lam.