Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Penjajahan Sejarah : Islamless Dalam Sejarah Bangsa | LAZIS AL HAROMAIN

Penjajahan Sejarah : Islamless Dalam Sejarah Bangsa

Oleh : Akh. Muwafik Saleh, S.Sos., M.Si.

Wakil Dekan III FISIP

Universitas Brawijaya Malang

“Sejarah adalah kekuasaan,

siapapun yang sedang berkuasa dan ingin meneguhkan kekuasaannya

maka berkepentingan untuk menuliskan sejarahnya.”

Sejarah adalah sebuah cuplikan fragmen perjalanan dari sekian banyak fragmen kehidupan. Sehingga penulisan sejarah sesungguhnya adalah framimg atas suatu realitas . Karena sejarah adalah framing maka hal ini sangat tergantung pada world view dari mereka yang menuliskannya. Seorang penulis sejarah akan sangat dipengaruhi oleh preferensi dirinya baik dalam mengeksplorasi waktu, tempat maupun realitas dari sekian banyak realitas yang tersebar dalam suatu batasan wilayah situs penulisan. Sehingga seorang penulis sejarah mencoba menfokuskan pada suatu pilihan tertentu yang sesuai dengan maksud dan kepentingannya. Pemilihan fokus penulisan fakta dan peristiwa dalam sebuah cuplikan realitas inilah yang membatasi ruang lingkup penulisan itu. Disinilah kepentingan pribadi ataupun kelompok berperan aktif dalam melakukan seleksi atas mana sebuah peristiwa yang dianggap layak dan tidak untuk diungkapkan dalam penulisan sejarah tersebut. Sehingga penulisan sejarah bukanlah menggambarkan sesuatu yang ‘apa adanya’ atas suatu realitas yang pernah terjadi melainkan akan selalu dilihat dari sudut ‘ada apa’ dibalik realitas tertentu itu. Disinilah menegaskan bahwa sejarah adalah hasil konstruksi pikiran atas realitas.

Dalam sejarah kebangsaan kita dapat melihat bahwa para penulis sejarah banyak di dominasi dari kalangan kolonial belanda sehingga tentulah dapat dipahami bahwa mereka para penulis sejarah hanya akan menuliskan berbagai hal yang sesuai dengan sudut pandang dan kepentingannya yaitu untuk dapat terus menancapkan kekuasaannya dan pilihan pemikirannya pada wilayah jajahan. Dan hal pasti yang dilakukannya adalah mereka akan mereduksi segala sesuatu yang bertentangan dengan kepentingan penguasa (penjajah), menganggap kecil dan tidak signifikan segala hal yang dapat melemahkan kepentingannya itu khususnya yang dilakukan oleh mereka yang bertentangan atau menentang penguasa. Kalaupun mereka harus menuliskan sejarah musuhnya maka hal itupun dilakukan dengan tujuan untuk melemahkan kekuatan dan masa depan musuh. Logika ini sangatlah rasional.

Coba perhatikan dalam sejarah kebangsaan kita yang lebih banyak ditulis oleh kalangan sejarawan kolonial Belanda sehingga mereka tidak menempatkan  islam (insignifikansi, islamless) dalam setiap perjalanan sejarah kebangsaan. Karena mereka melihat bahwa islam dan para pejuang islam adalah kelompok yang paling menentang eksistensi penjajah di bumi Indonesia. Hal senada disampaikan pula oleh Nancy K. Florida seorang filolog berkebangsaan Amerika Serikat yang menyatakan bahwa penjajah Belanda gagal melihat signifikansi islam dalam perkembangan sejarah kebudayaan nuswantara dengan menyatakan bahwa puncak keemasan kesusastraan jawa yang ditunjukkan dalam karya-karya para pujangga jawa pada abad kesembilan hingga keempat belas sebagai puncak kebudayaan Hindu – Budha. Para penulis barat (Belanda) bahkan menegaskan bahwa zaman keemasan tersebut diakhiri oleh kedatangan islam pada akhir abad kelimabelas.

Bahkan kalangan sejarawan kolonial juga menuliskan bahwa Islam datang ke nusantara pada ketiga belas melalui para pedagang gujarat india — dengan mengesampingkan para saudagar islam berkebangsaan Arab yang ada dalam rombongan kafilah dagang tersebut— . Sementara dalam pandangan yang lain islam telah pernah berinteraksi dengan nusantara pada abad ketujuh masuk melalui Barus dan membangun kesultanan Aceh pada abad ketujuh sekitar tahun 615 M, catatan china menyebutnya Ta Chi atau Ta jik, catatan nusantara menyebutnya sebagai Ta Ce atau Taceh (sekarang Aceh). Tentu pengaburan penulisan sejarah seperti ini yang dilalukan oleh kolonial Belanda berkepentingan untuk mengecilkan peran dan menganggap tidak ada peran islam (islamless) dalam perkembangan nusantara selanjutnya.

Demikian pula, islamless dalam penulisan sejarah oleh para kolonialis Belanda yang kemudian dijadikan rujukan oleh para penulis sejarah selanjutnya misalnya tampak pula pada peletakan peran icon kejayaan nusantara dengan menjadikan kerajaan majapahit (hindu) sebagai model yang benar tentang Indonesia Raya, dalam membangun inspirasi, kebangkitan dan kejayaan nusantara ini. Sementara kita ketahui bahwa majapahit berdiri pada tahun 1292 oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardana atau Prabu Brawijaya I meninggal pada tahun 1309. Kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Raden Kala Gemet, Jayanagara. Dan Gajah Mada diangkat menjadi mangkubumi pada akhir kekuasaan Prabu Brawijaya II. Hingga kemudian Gajah Mada diangkat sebagai Maha Patih Majapahit pada saat kekuasaan Raja Brawijaya III, Sri Gitarja yang bergelar Tribuwana tunggadewi Jayawisnuwardani. Dengan jabatan maha patih itu Gajah Mada menaklukkan Bali, Lombok, Sumbawa dan sebagian Sulawesi.

Sementara pada tahun 1078 telah berdiri kerajaan Perlak dan kerajaan pasai 1261  yang keduanya bercirikan islam serta pada masa itu pula Perlak pada masa kesultanan Sultan alaidin muhammad amin syah (1243-1267) telah membuka sebuah perguruan tinggi di Bayeuen (Aramiyah atau Cotkala)  serta telah melakukan hubungan baik dengan berbagai bangsa di timur tengah dan china pada masa itu.

Berdasarkan fakta sejarah ini, jelaslah kerajaan islam jauh lebih dulu berdiri (214 tahun) sebelum majapahit. Namun penulis sejarah kolonial “menganggap tiada” peran kerajaan islam ini dalam perkembangan nusantara.

Demikian pula dalam sejarah kebangkitan nasional para penulis sejarah barat kolonial dan pengikutnya mencoba untuk melemahkan dan mengaburkan sejarah islam (islamless) dengan menempatkan Organisasi Budi Utomo sebagai tonggak kebangkitan nasional. Sebagaimana diketahui bahwa Budi Utomo berdiri pada tanggal 20 Mei 1908 yang berorientasi kultur jawa hindu budha dengan keanggotaan terbatas pada golongan kelas menengah ke atas (priyayi, bangsawan, intelektual dan pegawai negeri).

Sementara disisi yang lain, Sarekat Dagang Islam sebuah organisasi yang berlandaskan islam berdiri pada 16 oktober tahun 1905 di Solo yang beranggotakan seluruh kalangan lapisan masyarakat tanpa memandang suku dan golongan. Ia merupakan organisasi perjuangan rakyat Indonesia dalam melakukan penentangan setiap bentuk ketidakadilan yang di dorong oleh semangat islam.

Kemudian pada tanggal 10 september 1912 SDI mengubah dirinya menjadi Syarekat Islam dalam rapatnya yang dilakukan di Surabaya. Pada kongres pertama tanggal 26 Januari 1913 jumlah  anggota SI telah mencapai lebih kurang 12.000 orang. Pada kongres itu pula HOS Tjokroaminoto sebagai pimpinan SI berpidato dengan menggunakan bahasa Melayu (Indonesia) sebagai bahasa persatuan, jauh sebelum sumpah pemuda tahun 1928.

Namun para penulis sejarah dari kalangan kolonial dan pengikutnya seakan menafikan peran kaum muslimin ini dalam referensi sejarah.

Bahkan dalam penulisan sejarah menuju kemerdekaan dan kemerdekaan juga telah terjadi pengaburan sejarah, misal perjuangan ulama kaum muslimin dan santri dalam kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan termasuk pula dalam penyusunan dasar negara, piagam jakarta, konstituante, perdebatan-perdebatan ideologis dalam menyusun dasar-dasar kebangsaan yang kemudian kesemua itu seakan tidak ada peran atau mengecilkan peran perjuangan kaum muslimin dalam sejarah kebangsaan ini. Hal ini dapat dipahami karena kebanyakan para penulis sejarah adalah berasal dari kalangan kolonialis ataupun mereka yang terpengaruh oleh cara pandang sejarawan kolonial itu.

Berdasarkan fakta-fakta sejarah ini akhirnya kita dapat melihat bahwa umat islam dan organisasi islam memiliki kesadaran yang tinggi dalam mengangkat nasib bangsanya namun semua ini seakan hilang dalam catatan sejarah. Ini semua karena sejarah adalah kekuasaan. Siapapun mereka yang sedang berkuasa dan berkeinginan untuk terus berkuasa memiliki kepentingan untuk menuliskan sejarahnya serta tentunya mereka juga akan mengecilkan peran musuhnya dalam sejarah bahkan menciptakan kesan menakutkan (demonologisasi) atas musuhnya tersebut dalam perjalanan sejarah.

Sehingga dalam konteks inilah diperlukan kehadiran para penulis sejarah dari kaum muslimin untuk menuliskan sejarahnya dari sudut pandang perjuangan keislaman sehingga hal ini dapat memberikan wacana alternatif bagi generasi untuk mengetahui sejarah bangsanya secara benar berdasarkan cara pandang bangsanya sendiri dan bukan dari sejarawan kolonial.

Saatnya membangun sejarah dan menuliskan sejarahnya sendiri.

Wallahu a’lam