Perang Mohacs

oleh

AHMAD SYARIFUDDIN*

Perang Mohacperang mohacs-1s terjadi pada 21 Dzulqa’dah 932 Hijriyah. Salah satu peperangan yang kiranya tidak pernah dilupakan Eropa. Di sanalah dengan taktik perang yang luar biasa, pasukan Kristen Eropa kalah telak. Perang Mohacs adalah kenangan pahit bagi bangsa Eropa hingga kini, dan sebaliknya menjadi kesyukuran tersendiri bagi kaum muslimin (umat Islam) hingga generasi sekarang.
Perang Mohacs bermula ketika duta (utusan) Kekhalifahan Turki Usmani yang waktu itu di bawah pimpinan Sultan Sulaiman Al-Qanuni hendak mengambil jizyah dari Raja Hongaria dan pemimpin Eropa ketika itu, Luis II. Namun, atas provokasi Paus di Vatikan, Raja Hongaria justru membunuh utusan Sultan. Kode etik dunia menyatakan utusan resmi kenegaraan haruslah dihormati tidaklah boleh dicederai apalagi dibunuh.
Pembunuhan duta itu mendorong Sultan Sulaiman Al-Qanuni mengambil kebijakan politik untuk menyerang Eropa. Sultan Al-Qanuni menyiapkan pasukan yang terdiri atas 100.000 prajurit, 350 meriam, dan 800 kapal perang. Sedangkan kekuatan Eropa terdiri 200.000 pasukan berkuda. Sebanyak 35.000 di antaranya bersenjata lengkap dengan baju besi.
Pasukan Khalifah Turki Usmani itu menempuh jarak 1.000 kilometer dan berhasil merebut benteng-benteng sepanjang perjalanannya guna mengamankan jalan ketika menarik pasukannya mundur jika terjadi kekalahan.
Sultan Sulaiman Al-Qanuni dan pasukannya melewati sungai yang terkenal dan menunggu di lembah Mohacs, selatan Hongaria dan timur Rumania, menanti pasukan Eropa yang merupakan koalisi Hongaria, Rumania, Kroasia, Buhemia, Kekaisaran Romawi, negara kepausan, dan Polandia.
Banyaknya pasperang-ssalib-1-3ukan berkuda Romawi dan Hongaria yang mengenakan baju besi menyulitkan pasukan Sultan. Usai shalat Shubuh, ia berdiri di hadapan pasukannya. Ia berkata disertai tangisan, “Sesungguhnya ruh Nabi Muhammad melihat kalian dengan kerinduan dan cinta.” Perkataan ini membuat pasukan kaum muslimin menangis.
Kemudian kedua pasukan saling berhadapan. Sultan memiliki taktik perang yang sangat brilian. Ia membagi pasukannya menjadi tiga barisan sepanjang 10 km. Pasukan Inkisyariyah (Janissary) berada di garis depan. Mereka ini adalah pasukan elit dan prajurit pilihan. Kemudian di barisan kedua, pasukan berkuda dengan senjata ringan dan pasukan pejalan kaki (infanteri). Di antara mereka adalah relawan. Adapun barisan ketiga adalah dirinya dan pasukan meriam.
Pasukan Eropa menyerang setelah waktu Ashar. Sultan memerintahkan pasukan Inkisyariyah (pasukan elit Khilafah) bertahan selama 1 jam saja. Kemudia ia memerintahkan mereka lari. Dan ia perintahkan pasukan lapis kedua untuk membuka jalan pelarian ke kiri dan ke kanan bukan ke belakang.
Sesuai arahan Sultan, para pahlawan pasukan Inkisyariyah bertahan dengan gagah berani. Mereka berhasil menghancurkan kekuatan Eropa dengan sempurna pada dua penyerangan bertubi-tubi. Dalam satu serangan saja habis 20.000 pasukan Eropa.
Kekuatan inti pasukan Eropa kemudian serempak menyerang. Tibalah saat melarikan diri dan dibukalah jalan untuk lari, maka mundurlah pasukan Inkisyariyah ke sisi kiri dan kanan diikuti pasukan infanteri, sehingga jantung pasukan muslim Turki Usmani benar-benar terbuka. Masuklah 100.000 pasukan Eropa berbondong-bondong sekaligus menuju (jebakan) jantung pasukan kaum muslimin.
Dan inilah awal kekalahan telak itu. Mereka langsung berhadapan dengan meriam-meriam pasukan Usmaniyah tanpa mereka sadari. Meriam-meriam itu langsung menyalak menyambut 100.000 pasukan Eropa yang tidak sadar telah masuk jebakan. Tidak sampai 1 jam musnahlah pasukan Eropa, dihantam meriam dari segala arah.
Raja Luis II dan uskup serta utusan Paus tewas dalam peperangan itu bersama lebih dari 70.000 pasukan Kristen Eropa. Sementara pasukan Muslim yang gugur hanya 150 orang. Pasukan Eropa kalah telak di lembah Mohacs.
Peperangan seperti ini akankah berulang kembali?! Perang Dunia Ketiga? Akankah muncul dari kaum muslimin pemimpin agung semacam Sultan Sulaiman Al-Qanuni? Ya Allah, begitu berat beban kaum muslimin di dunia kala mereka tidak memiliki seorang pemimpin.
Sultan Sulaiman dikenal dengan sebutan Al-Qanuni berasal dari katan Qanun yang berarti Undang-undang. Itu karena dia berhasil melahirkan kodifikasi hukum Islam bernama Multaqal Abhur untuk mengatur kehidupan bernegara berdasar Syariat Islam. Sementara di Eropa, ia dijuluki Sulaiman The Magnificent (Sulaiman Sang Pemimpin yang Agung) karena taktik militernya yang sangat hebat dan prestasi teritorialnya yang mirip Alexander The Great.
Selain mempersatukan kembali dunia Islam, ia berhasil membuka daerah-daerah baru di Eropa, seperti Ukraina, Rumania, Bulgaria, Beograd, dan Hongaria, di samping membuat tekanan berarti pada kekaisaran Austria. Perkataannya yang terkenal adalah, “Tanah yang pernah diinjak kuda Sultan adalah bumi Islam.” Dan kudanya pernah mencapai hingga pintu gerbang Wina.
Pemimpin kaum muslimin sedunia ini lahir tahun 900 Hijriyah (1494 M) dan wafat tahun 1566 Masehi di dekat kota Szigetvar, Hongaria, sewaktu ia memimpin pertempuran merebut kota itu. Jenazahnya dimakamkan di Masjid Agung Sulaiman, Istambul (Tahta Islam), Turki. Semoga Allah selalu merahmatinya. Puluhan tahun selepas wafatnya, ia disebut dalam karya William Shakespeare, Merchant of Venice, sebagai “seorang militer yang jenius”. Wallahu A’lam.

—————————————————————————————————————–
*Penulis adalah Pembina Al-Ghazali Islamic Study Club Surakarta.