Perang Qadisiyah

[image_sliders][image_slider link=”http://lazisalharomain.com/perang-qadisiyah/” source=”http://lazisalharomain.com/wp-content/uploads/2016/03/Kaleidoskop1.jpg”]Ilustrasi Perang Qadisiyah | zainur.wordpress.com[/image_slider][/image_sliders]

 

Perang Qadisiyah (16-19 November 636 M )

Namun di tengah perjalanan di daerah Shirar, sekitar 3 mil dari Madinah, Abdurrahman bin ‘Auf t mengusulkan agar orang lain yang diutus memimpin pasukan itu. “Menurut pendapatmu, siapa orang yang tepat sebagai panglima perang di Irak?” tanya khalifah. “Aku telah menemukannya,” jawab Abdurrahman. “Siapa dia?” tanya khalifah kembali. “Singa yang menerkam dengan kukunya,” jawab Abdurrahman. “Sa’ad bin Malik Az-Zuhri.”

Khalifah Umar setuju menunjuk Sa’ad bin Malik Az-Zuhri t sebagai panglima. Maka, demikianlah pasukan itu berangkat ke Irak yang merupakan bagian dari imperium Persia, dengan panglimanya yang kemudian kita dikenal sebagai Sa’ad bin Abi Waqqash t.

Sepeninggal Abu Ubaid, sisa pasukan di Irak dipimpin Mutsanna bin Haritsah t. Meski dalam keadaan terluka, ia mampu membalaskan kekalahan pasukan muslim sebelumnya terhadap pasukan Persia pada pertempuran Buwaib di dekat Kufah dengan kekalahan besar di kubu Persia, termasuk terbunuhnya panglima Mahran. Namun sayang, sebelum pasukan Sa’ad datang, sang pahlawan Perang Persia itu telah syahid karena luka-lukanya terkoyak dan tidak tertolong lagi.

Pasukan Sa’ad kini genaplah 30.000 orang di mana dalamnya terdapat 70 veteran Badr, 300 shahabat yang ikut Fathu Makkah, dan 700 putra para shahabat Nabi r. Sementara itu, begitu mendengar pasukan muslim sudah berkemah sebulan di sekitar Qadisiyah dekat Hirah di Irak, kaisar Persia Yazdigird III segera menunjuk Rustam bin al-Farrakhzad al-Armani sebagai panglima dengan 120 ribu pasukan.

Khalifah Umar memerintahkan Sa’ad untuk mengirim misi diplomatik dakwah kepada Kaisar Yazdigird III di Ctesiphon. Tetapi, kaisar Yazdigird memilih perang daripada masuk Islam. Bahkan untuk mempermalukan utusan kaum muslimin, ia memberi mereka hadiah sekarung tanah Ctesiphon. Tanpa berpikir panjang, Asim bin Amr, salah seorang di antaranya langsung mengangkat karung itu dan membawanya pulang ke kemah pasukan muslim di Qadisiyah. Begitu sampai, Asim berkata kepada Sa’ad, “Ini berita bagus. Allah telah memberikan kunci kerajaan mereka kepada kita.”

Kaisar Yazdigird memerintahkan Rustam untuk segera menghadapi pasukan muslim. Ketika pasukan Rustam telah mendekat, panglima Sa’ad mengutus satu rombongan kecil untuk mengetahui kondisi musuh dengan cara membawa salah seorang pasukan musuh. Di antara rombongan itu terdapat Thulaihah al-Asadi yang menyerang barisan pasukan itu dan menewaskan banyak di antaranya, lalu menawan salah seorang dari mereka dan menggiringnya kepada Sa’ad. Darinya diperoleh keterangan bahwa Rustam membawa 120 ribu pasukan dan di belakangnya pasukan dengan jumlah yang sama. Akhirnya, tawanan ini masuk Islam.

Beberapa kali Rustam meminta Sa’ad mengirim utusan untuk berunding. Namun, perundingan itu seperti hanya untuk mengulur-ulur waktu saja. Tak kurang Mughirah bin Syu’bah, Rib’iy bin Amir ats-Tsaqafy, Hudzaifah bin Mihshan datang untuk berunding ke kemah musuh. Hingga tiba waktunya, perang tak dapat dielakkan lagi.

Pertempuran pun terjadi di medan perang Qadisiyah. Karena itulah, perang ini dinamakan Perang Qadisiyah. Tidak ada perang yang lebih besar sebelumnya terjadi di wilayah Irak selain perang ini. Ketika kedua pasukan bertemu, Sa’ad ditimpa penyakit bisul-bisul yang tumbuh di sekujur tubuhnya hingga tak bisa mengendarai kudanya dan memimpin perang. Dia hanya bisa menyaksikan pertempuran di dalam benteng dengan bersandar pada bantalnya, sambil mengatur tentaranya. Dia menyerahkan pimpinan di lapangan kepada Khalid bin Urthufah, panglima sayap kanan dipercayakan kepada Jarir bin Abdullah al-Bajili, dan di sayap kiri dipegang oleh Qais bin Maksyuh.

Peperangan berlangsung sengit hampir tanpa berhenti. Pasukan muslim mampu meladeni pasukan Persia yang berkekuatan empat kali lipat, bahkan lebih. Apalagi pada hari kedua, bala bantuan 6000 pasukan dari Syams yang dikirim Abu Ubaidah t di bawah pimpinan Al-Qa’qa’a ibn Amr at-Tamimi t telah datang dan diikuti pasukan berikutnya di bawah pimpinan Hashim ibn Uqbah t, sepupu Sa’ad. Mereka pasukan yang telah mengalahkan tentara Romawi di medan Yarmuk. Mereka datang sekelompok demi sekelompok hingga di mata tentara Persia jumlah mereka seperti tak ada habisnya hingga merontokkan moral tentara musuh.

Qa’qa’ maju menantang duel panglima Persia. “Aku Bahman Jadhuweh, sang Pengawal istana!” seru panglima Persia yang maju menghadapi Qa’qa’. “Saatnya pembalasan Abu Ubaid dan rekan-rekannya di Perang al-Jisr!” seru Qa’qa’. Keduanya pun perang tanding dan Bahman jatuh tersungkur dan mati di tangan Qa’qa’.

Pada hari ketiga, Sa’ad memerintahkan untuk menghancurkan pasukan gajah Rustam yang telah menyulitkan pasukan muslim. Berkat belajar dari kekalahan saat Perang al-Jisr, Sa’ad minta pasukan muslim menghancurkan pasukan gajah dengan cara membutakan matanya. Dan taktik itu berhasil. Menjelang sore, tidak ada lagi pasukan gajah yang tersisa di medan perang.

Pada hari keempat, ketika matahari tergelincir, tiba-tiba berhembus angin kencang badai pasir yang memporak-porandakan tenda-tenda Persia, termasuk tenda Rustam. Suasana menjadi kacau. Rustam bermaksud melindungi diri dari badai dengan merebahkan badannya di samping unta yang penuh muatan senjata. Hilal bin Ullafah tak sengaja memotong muatan unta itu. Rustam tertimpa senjata yang jatuh hingga punggungnya patah dan menyebabkan ia sekarat dan lumpuh. Mengetahui bahwa orang itu adalah Rustam, maka Hilal memenggal kepalanya dan memperlihatkan kepada tentara Persia sambil berteriak, “Aku bersumpah demi Tuhan Ka’bah bahwa aku, Hilal bin Ullafah telah membunuh Rustam!”

Pasukan Persia terkejut mengetahui kepala panglima legendaris mereka tergantung di tangan musuh, hingga runtuhlah moral mereka. Banyak dari mereka lalu melarikan diri melalui sungai Eufrat dan dikejar oleh pasukan muslim, termasuk panglima Jalinus yang terbunuh oleh Zuhrah at-Tamimi. Hari itu, pasukan Persia mengalami kekalahan dan kerugian yang teramat sangat.

Perang Qadisiyah membuka pintu penaklukan wilayah Persia berikutnya dengan menaklukkan Ctesiphon (orang-orang muslim menyebutnya: Madain), Istana Putih Kishra, tempat bersemayam kaisar Persia Yazdigird III, tak lama kemudian di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash.

[]

Diolah dari berbagai sumber oleh Bahtiar HS