Perang Yamamah Desember 632 M

Oleh: Bahtiar HS

Departemen Media Lazis alHaromain

 

peta yamamah_dunia-islamku_blogspot_comKetika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat dan Abu Bakar radhiyallu anhu diangkat menjadi khalifah, nabi-nabi palsu pun bermunculan di berbagai wilayah, khususnya suku-suku pedalaman. Mereka mengaku menerima wahyu dan mengajak pengikut-pengikutnya murtad dari Islam.
Khalifah Abu Bakar mengutus sebelas ekspedisi dengan sebelas panglima perang untuk menyeru mereka kembali ke jalan yang benar. Paling besar pengikutnya di antara mereka yang murtad adalah seorang bernama Abu Tsumamah Musailamah bin Habib dari Bani Hanifah di wilayah Yamamah (Riyadh sekarang ini). Ia bergelar Rahmanul Yamamah (Yang Maha Pengasih dari Yamamah). Untuk menghadapi Musailamah, khalifah mengutus pasukan di bawah pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal. Namun, Ikrimah dan pasukannya yang tak seberapa berhasil dipukul mundur oleh Musailamah beserta 40.000 balatentaranya.
Pasukan berikutnya pun dibentuk khalifah di bawah pimpinan Khalid bin Walid radhiyallu anhu, sang Saifullahal-Maslul. Pasukan ini lalu bergabung dengan pasukan Ikrimah dan juga Syurahbil bin Hasanah radhiyallu anhu hingga terkumpul tak kurang dari 11.000 orang pasukan. Mereka menuju Yamamah pada Desember 632 M. Itulah mengapa peperangan ini disebut Perang Yamamah.
Mendengar kedatangan Khalid beserta pasukannya ke bumi Yamamah, Musailamah segera menempatkan pasukannya di Aqraba yang berada di pinggir Yamamah. Sementara perkampungan tepat di arah punggung mereka. Musailamah menempatkan pada dua sayap pasukannya masing-masing Al-Muhkam bin Thufail dan Ar-Rajjal bin Anfawah bin Nahsyal. Ar-Rajjal adalah shahabat Musailamah. Ia sebenarnya diutus Abu Bakar kepada penduduk Yamamah agar kembali ke pangkuan Islam. Tetapi ia justru bersaksi pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyatakan bahwa Musailamah telah mendapatkan wahyu seperti nabi. Akibat kesaksian palsunya itu, ia memiliki andil besar dalam menyesatkan penduduk Yamamah,hingga akhirnya penduduk Yamamah malah mengikuti Musailamah.
Pasukan Khalid garda depan dipimpin Syurahbil bin Hasanah, sementara sayap kanan dipimpin Abu Hudzaifah radhiyallahu anhu, dan sayap kiri dipimpin Zaid bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu. Pasukan Islam yang terdepan yanglebih dahulu menemui 40 prajurit musuh berkuda di malam hari di bawah pimpinan Majja’ah bin Murarah. Mereka hendak membalas dendam terhadap Bani Tamim dan Bani Amir. Namun, mereka tertangkap kaum muslimin dan dibawa kepada Khalid. Khalid bertanya kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian Bani Hanifah?” Mereka serentak menjawab,”Dari kami seorang nabi dan dari kalian seorang nabi pula.” Khalid memerintah mengeksekusi mereka seluruhnya kecuali seseorang yang bernama Majja’ah. Karena keahliannya dalam siasat perang dan juga pemimpin kaumnya yang disegani, ia dibiarkan hidup dalam keadaan terikat di sisi Khalid.
Ketika kedua pasukan bertemu, Musailamah berkata kepada kaumnya, “Hari ini adalah hari penentuan! Hari ini jika kalian kalah, maka istri-istri kalian akan dinikahi orang lain dan ditawan, atau mereka akan dinikahi dengan paksa. Oleh karena itu berperanglah kalian untuk mempertahankan harga diri dan kaum wanita kalian.”
Adapun kaum muslimin, mereka telah maju dan membuat pertahanan di perbatasan Yamamah. Di sana Khalid telah mendirikan tenda-tenda. Panji kaum Muhajirin dipegang oleh Salim Maula Abi Hudzaifah dan panji Anshar dipegang oleh Tsabit bin Qais bin Syammas radhiyallahu anhu. Orang-orang Arab juga membawa panji mereka, sementara Majja’ah terikat di dalam tenda.
Pertempuran pun berkobar.Tiba-tiba terjadi serangan balik oleh pasukan Musailamah. Kaum muslimin terdesak hingga Bani Hanifah berhasil memasuki tenda Khalid dan hampir membunuh Ummu Tamim, istri Khalid, kalau saja tidak dilindungi oleh Majja’ah yang terikat dan sempat berkata, “Sesungguhnya wanita merdeka ini sangat mulia.”
Pada saat serangan balik inilah ar-Rajjal tewas terbunuh oleh Zaid bin Al-Khaththab. Situasi semakin genting, sesama sahabat saling memberi semangat, saling berwasiat, dan saling berkata, “Wahai penghafal surat Al-Baqarah!Hari ini sihir akan hancur!” Tsabit bin Qais sendiri telah menggali dua lubang dan membenamkan kedua kakinya hingga sampai betis.Dia mengenakan kain kafan berikut wewangiandan tetap tegar di tempatnya hingga akhirnya terbunuh menggenggam panji Anshar. Para sahabat pun berguguran. Salim Maula Abu Hudzaifah, pemegang panji Muhajirin, bersama Abu Hudzaifah. Demikian juga Zaid bin Al-Khaththab.
Khalid masuk menyerbu ke tempat musuh hingga melewati mereka.Dia terus berjalan sambil mencari Musailamah.Dia berdiri di antara dua pasukan sambil menyeru untuk perang tanding. “Aku adalah putera Al-Walid Al-Aud! Aku anak Ibnu Amir dan Zaid!” Setiap kali ada yang maju melawannya pasti akan terbunuh olehnya.
Pasukan muslim terus maju ke arah musuh hingga Allah menaklukkan mereka dan mereka pun lari tunggang-langgang. Pasukan muslim terus mengejar mereka hingga akhirnya terdesak sampai ke kebun kematian. Al-Muhkam bin Thufailtelah memberi isyarat agar mereka masuk ke dalam kebun, yang di dalamnya terdapat Musailamah. Namun Abdurrahman bin Abu Bakar radhiyallahu anhu berhasil mengejar al-Muhkam dan membunuhnya dengan anak panah tepat di lehernya saat sedang berpidato di depan kaumnya.
Setelah seluruhnya masuk, Bani Hanifah mengunci pintu kebun tersebut. Pasukan muslim mengepung mereka. Barra’ bin Malik radhiyallahu anhu kemudian minta dilemparkan ke dalam kebun. Mereka membawanya di atas tameng besi dan melemparkannya beramai-ramai hingga melintasi pagar kebun. Lantas Barra’ bin Malik bertempur mati-matian hingga berhasil membuka pintunya. Akhirnya kaum muslimin berhasil masuk ke dalam kebun, dan menyerang musuh yang berada di dalamnya.
Akhirnya mereka sampai ke tempat Musailamah. Waktu itu dia sedang berdiri di salah satu pagar kebun yang bolong seolah-olah dia adalah seekor onta jantan yang gagah. Wahsy bin Harb –yang pernah membunuh Hamzah radhiyallahu anhu saat Perang Uhud dan kini masuk Islam—datangmendekati nabi palsu itu.Dengan cepat ia melemparkan tombaknya ke arah Musailamah tepat mengenai dadanya hingga tembus ke belakang. Dengan cepat Abu Dujanah Simak bin Kharasyah radhiyallahu anhu mendatanginya dan menebasnya dengan pedang hingga jatuh terkapar.
Perempuan-perempuan dari dalam istana Musailamah menjerit, “Aduhai malangnya nasib pemimpin kita!Dia dibunuh oleh budak hitam!”
Jumlah yang terbunuh dari pihak musuh yang berada di dalam kebun maupun dalam pertempuran sebanyak 10.000 orang (ada juga yang mengatakan sebanyak 21.000 orang). Adapun jumlah kaum muslimin yang terbunuh sebanyak 600 orang (ada yang mengatakan 500 orang). Diantara yang terbunuh banyak terdapat shahabat Nabi yang senior serta para penghapal Al-Qur’an. Wallahu a’lam.
Musuh pun ditaklukkan. Khalid mengajak mereka kembali kepada Islam, dan mereka pun seluruhnya menerima ajakan Khalid.
[]