Perang Yarmuk — 15-20 Agustus 634 M

Perang Yarmuk

15-20 Agustus 634 M

 Perang Yarmuk

Heraklius mengirimkan pasukan yang besar dan belum pernah sebesar itu sebelumnya untuk menghadapi pasukan muslim yang hendak merebut kembali Syams. Mereka berkumpul di al-Waqusah, sebuah lembah di tepi sungai Yarmuk yang berjurang-jurang. Sejarah Islam mencatat Kaisar Romawi itu mengirim 80.000 pasukan diikat dengan rantai besi (agar tidak lari dari perang), 80.000 pasukan berkuda, dan 80.000 pasukan infanteri. Total 240.000 pasukan. Sementara pasukan muslimin hanya berjumlah 40.000 orang saja.

Pada 15 Agustus 634 M kedua pasukan bertemu di lembah Yarmuk yang terbuka. Itulah mengapa perang ini dinamakan Perang Yarmuk. Saking banyaknya, pasukan Romawi memenuhi hampir semua tempat, baik yang lapang maupun sulit. Mereka berteriak-teriak mengangkat suara tinggi-tinggi, sementara para pendetanya berkeliling membacakan injil. Namun Khalid bin Walid Radhiyallohu anh memiliki ide brilian tak kalah cerdik. Ia membagi pasukannya menjadi 40 kontingen dan memerintahkan mereka untuk berjalan menampakkan diri satu demi satu. Dari kejauhan terlihat pasukan muslim keluar sambung-menyambung seperti tak ada habisnya. Pemandangan ini tak ayal meruntuhkan nyali pasukan Romawi.

Bahkan, salah seorang komandan pasukan Romawi, meminta kepada Khalid agar berjumpa dengannya di antara dua pasukan yang sedang berhadapan untuk berdamai. Bahkan berkata kepada Khalid dengan congkaknya, “Kami telah mengetahui bahwa perut laparlah yang telah mengeluarkan kalian dari negeri kalian. Maka maukah kalian jika aku berikan kepada setiap pasukan kalian 10 dinar lengkap beserta makanan dan pakaian, dengan syarat kalian harus kembali ke negeri kalian, dan pada tahun depan datanglah kembali padaku dan aku akan memberikan jatah yang serupa?

Khalid menjawab tegas hinaan ini, “Sesungguhnya bukanlah perut lapar dan kemiskinan yang mengeluarkan kami dari negeri kami sebagaimana yang kamu sebutkan tadi. Tetapi sebenarnya kami adalah sekelompok manusia peminum darah. Dan telah sampai kepada kami berita bahwa tidak ada darah yang lebih segar daripada darah kalian, bangsa Romawi. Untuk itulah kami datang kemari!

Perang pun pecah tak terelakkan. Khalid sempat duel satu lawan satu dengan Gregorius Theodore (Jarajah), salah seorang panglima Romawi. Tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Ketika istirahat, Gregorius sempat bertanya pada Khalid tentang motivasinya berperang. Subhanallah! Jawaban Khalid menyebabkannya masuk Islam dan bergabung dengan pasukan muslim. Ia sempat menunaikan shalat dua rakaat atas bimbingan Khalid. Dan itu adalah satu-satunya shalat yang pernah ia lakukan semasa hidupnya. Karena Gregorius akhirnya gugur sebagai seorang muslim melawan bekas pasukannya sendiri di perang ini.

Pada hari keenam, Abu Ubaidah bin al-Jarrah Radhiyallohu anh melayani tantangan duel Gregory (Al-Faiqar). Komandan pasukan Romawi yang tinggi besar dan berantai itu berkuda ke tengah-tengah pasukan muslim dan berteriak, “Tidak seorang pun kecuali Komandan Bangsa Arab!” Abu Ubaidah sudah dicegah oleh Khalid dan lainnya, karena melihat sosok dan reputasi Gregory. Tetapi al-Aminul Ummah itu bergeming. Katanya kepada Khalid, “Jika aku tidak kembali, engkau harus memimpin pasukan, sampai khalifah memutuskan perkaranya.” Tetapi demikianlah, Abu Ubaidah berhasil menebas batang leher Gregory hingga pedang komandan pasukan Romawi itu lepas dari tangan dan tubuhnya roboh berkalang tanah.

Dan demikianlah, kemenangan pun diraih oleh pasukan muslimin yang jumlahnya hanya seperenam dari pasukan Romawi dengan persenjataan yang kalah segalanya. Tak kurang 70.000 hingga 120.000 pasukan Romawi terbunuh, sementara kaum muslimin kehilangan 4.000 pasukan, termasuk Ikrimah bin Abu Jahal, al-Harits bin Hisyam, Ayyash bin Abi Rabiah, Amru bin Ikrimah, Salamah bin Hisyam, dan sahabat-sahabat terbaik lainnya Radhiyallohu anh.

Ketika kekalahan itu sampai ke telinga Kaisar Heraklius di Antioch, ia berkata dengan sedih, “Selamat tinggal Suriah, provinsiku yang indah. Kau adalah seorang musuh sekarang.” Heraklius lantas meninggalkan Antioch menuju Konstantinopel yang lebih aman untuk melakukan konsolidasi kekuatan Romawi Timur.

Kemenangan muslim di Yarmuk menjadi tonggak dan batu loncatan pencapaian kemajuan pasukan muslim berikutnya untuk menaklukkan Yerusalem dan Mesir.

[]

Disadur dari berbagai sumber oleh Bahtiar HS.