Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Perjodohan, Poligami, dan Jalan-Jalan Kemudahan dari Allah subhanahu wata’ala Q.S.‘Abasa:20 | LAZIS AL HAROMAIN

Perjodohan, Poligami, dan Jalan-Jalan Kemudahan dari Allah subhanahu wata’ala Q.S.‘Abasa:20

 

Oleh: K.H. M. Ihya Ulumiddin

Aminul  ‘Am Persyadda Al Haromain

Pengasuh Ma’had Nurul Haromain

Pujon – Malang

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهُ…

“Kemudian Dia memudahkan jalannya.”

 Analisa Ayat

Sudah menjadi kehendak Allah subhanahu wata’ala bahwa di antara banyak sekali nikmat pemberian-Nyakepada manusia, ada nikmat yang bisa menyebabkan beban-beban dan bahkan risiko kematian sebagaimana halnya nikmat anak yang kelahirannya bisa menjadi sarana kematian sang ibu yang melahirkanatau risiko harus operasi caesar,kecuali jika kelahiran itu disertai dengan kemudahan dari Allah subhanahu wata’ala. Demikianlah penegasan dari ayat di atas yang oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu ditafsirkan: “Allah memudahkan kelahiran manusia dari perut ibunya.”

Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu anhu ini, maka ayat ‘Abasa: 20 di atas bisa diambil berkah dengan dibaca sebanyak-banyaknya ketika seorang ibu hamil sedang dalam proses melahirkan. InsyaAllah proses kelahiran akan berjalan lancar karena mendapatkan kemudahan dari Allah subhanahu wata’ala.

Tafsiran ini selaras dengan kenyataan yang telah dimaklumi bahwa proses kejadian manusia adalah dari sperma yang membuahi ovum, kemudian menjadi segumpal darah yang melekat pada dinding rahim, kemudian menjadi segumpal daging, dan akhirnya berwujud jabang bayi hingga akhirnya terlahir ke dunia. Artinya, dalam ayat ini Allah subhanahu wata’ala menegaskan bahwa kelahiran bayi ke dunia adalah sebuah keajaiban. Ada proses yang sulit untuk bisa dinalar oleh pikiran manusia. Bayi sebesar itu bisa keluar melalui mulut rahim yang sesempit itu. Tentu ada perjuangan dari sang ibu yang melahirkan,di samping pasti karena dimudahkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itulah, meski berat, sakit, dan penuh risiko, tidak ada wanita yang bosan melahirkan. Ibaratnya kalau orang Jawa bilang, tidak ada wanita yang kapok lombokmelahirkan. Meski merasakan pedas, tetapi tetap terus ingin menikmati lagi.

Sementara Imam Mujahid menjelaskan bahwa ayat ini seperti firman Allah subhanahu wata’ala:

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيْلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُوْرًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukkannya jalan (yang lurus); ada yang bersyukur dan ada yang sangat mengingkari.”[1]

 

Di antara makna yang bisa dipetik dari penjelasan ini adalah bahwa seorang hamba tidak akan pernah mencapai suatu amalan atau tujuan apapun yang diinginkan selama Allah subhanahu wata’ala tidak berkehendak memberikan kemudahan kepadanya. Segala upaya semaksimal apapun akan sia-sia. Sebaliknya, jika Allah subhanahu wata’ala sudah memberikan jalan kemudahan, maka amalan atau tujuan itu begitu mudah terlaksana dan dalam waktu yang begitu singkat. Semua proses berjalan dengan begitu cepat.

Jodoh misalnya, terkadang seseorang sudah merencanakan untuk melaksanakan pernikahan dengan begitu detil dan segala usaha telah dilakukan, akan tetapi ketika Allah tidak berkehendak memberikan kemudahan, maka rencana dan usaha itu gagal total. Sebaliknya, ketika Allah sudah memberikan kemudahan, maka proses perjodohan berjalan dengan begitu cepat dan tidak terduga. Inilah hak istimewa Allah yang berupa tadbiir (mengatur segala urusan) sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ…

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi….”[2]

 

Oleh karena perjodohan adalah hak istimewa Allah, maka sama sekali tidak ada hak bagi siapapun untuk berkomentar menanggapi perjodohan yang menurut pikirannya tidak selaras dan tidak semestinya dilakukan. Misalnya  ia mengatakan“Wong ganteng (cantik) kok dapat jelek”ketika melihat ada lelaki yang buruk rupa mempersunting wanita yang begitu cantik rupawan atau sebaliknya.Komentar seperti ini secara langsung berarti memprotes hal yang telah diatur dan dimudahkan oleh Allah subhanahu wata’ala, yang berarti harus benar-benar dihindari, karena bisa berakibat fatal mengakibatkan kemarahan Allah (na’udzu billah) dan termasuk komentar yang dalam bahasa Jawa disebut lambe luwe (mulut lebih).

Allah subhanahu wata’ala adalah Dzat yang memudahkan segala keinginan dan tujuan. Apapun keinginan tidak akan tercapai jika tidak dimudahkan oleh-Nya. Termasuk poligami yang menjadi keinginan mayoritas lelaki.Hampir tidak ada lelaki normal jika ditanya apakah ingin menikah lagi kecuali jawabannya pasti ya, meski poligami bukan tanpa risiko. Selain kesenangan, dalam poligami ada beban dan risiko yang harus ditanggung oleh suami, seperti beban nafkah yang bertambah, harus membagi waktu secara adil, dan sebagainya. Dan kelak di akhirat juga dimintai pertanggungjawaban, sehingga disebutkan dalam satu riwayat, kelak di akhirat ada seorang lelaki yang berjalan dengan tubuh miring ke satu sisi(Jawa: sengkleh), yaitu lelaki yang tidak berbuat adil kepada isteri-isterinya.Jadi poligami secara akal adalah sesuatu yang berat dan sulit, yang apabila tidak dimudahkan oleh Allah juga tidak akan terjadi dan berjalan terus, sehinggapara isteri tidak perlu khawatir suaminya menikah lagi.

Sebaliknya jika poligami itu terjadi, maka meski tidak mudah, ia harus belajar menerima dan tidak merasa ini sebagai musibah. Ini semata-mata adalah kehendak Allah subhanahu wata’ala, Dzat yang memudahkan segala keinginan dan tujuan.Ketika ia berhasil menerima dan menyadari hal ini, maka ia termasuk wanita yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْغَيْرَةَ عَلَى النِّسَاءِ وَالـْجِهَادَ عَلَى الرِّجَالِ فَمَنْ صَبَرَ مِنْهُنَّ احْتِسَابًا كَانَ لَهَا أَجْرُ شَهِيْدٍ

“Sesungguhnya Allahmenuliskan rasa cemburu pada para wanita dan jihad kepada para lelaki. Maka barang siapa dari mereka bersabar semata mencari pahala Allah, maka baginya pahala lelaki yang mati syahid.”[3]

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa hadits ini bermula ketika seorang wanita dengan pakaian seadanya sehingga auratnya tidak tertutup seluruhnya, tiba-tiba datang ke majlis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Seorang lelaki segera bangkit dan merangkulnya untuk menutup auratnya, sambil mengatakan: “Wahai Rasulullah, ini isteri saya.”

 

=والله يتولي الجميع برعايته=

 

[1]Q.S. al-Insan:3

[2]Q.S.as-Sajdah:5

[3]H.R.ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir (Lihat Kitab Ahkam an-Nisa’, Imam Ibnul Jauzi, hal 151, cet. Darul Fikr, 1989)