Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Pernak-pernik Ramadhan di Makam Sunan Ampel | LAZIS AL HAROMAIN

Pernak-pernik Ramadhan di Makam Sunan Ampel

Pernak-pernik Ramadhan di Makam Sunan Ampel

Sore itu saya bersama seorang teman berkesempatan untuk ziarah ke komplek makam salah satu anggota Walisongo yang ada di surabaya. Makam Sunan Ampel tepatnya. Sekitar pukul empat sore saya sampai di parkiran depan pintu gerbang menuju masjid Ampel. Dibandingkan dengan hari-hari biasa,  pintu gerbang masuk masjid atau lebih tepatnya pintu masuk gang menuju masjid terlihat agak sepi. Di gang yang dipenuhi berbagai macam barang jualan di kanan dan kirinya ini hanya terlihat beberapa orang yang mondar-mandir, itupun terlihat bukan pegunjung dari jauh. Mungkin saja karena bulan puasa dan sekitar jam empat itu adalah jam untuk siap-siap berbuka, membuat pengunjung dari luar menunda kunjungannya di jam tersebut.

Pernak-pernik Ramadhan di Makam Sunan Ampel

doc. Lazis

Sesampainya di depan masjid masih terlihat sepi, tapi kondisi agak kontras saat saya menuju sebelah kiri masjid untuk mengambil air wudhu. Di area sekitar tempat wudhu masjid banyak sekali orang yang berseliweran. Mulai dari penjual makanan, orang shalat, atau bahkan yang hanya sekedar duduk-duduk menunggu buka puasa. Di bagian kiri teras masjid terdapat juga puluhan orang yang terdiri dari bapak dan ibu yang sedang konsentrasi mendengarkan ceramah dari seorang kiyai. Saya kemudian masuk masjid untuk shalat.

Saya terpesona melihat arsitektur bangunan yang ada di dalam masjid. Bangunan dalam masjid ini sangat menarik karena semua tiang dari masjid masih terbuat dari kayu, mengingat bangunan dari kayu di jaman sekarang ini sudah sangatlah langka. Di tengah-tengah tiang yang berjejer rapi terdapat sebuah lampu tua menggantung yang menambah pesona di area dalam masjid. Bagian kiri dalam dari masjid, terdapat pula kaki dari bangunan  menara dengan pintu di tengah-tengahnya. Kaki bangunan menara ini juga di lapisi kayu sehingga terlihat serasi dengan tiang-tiang kayu yang ada di dalam masjid.

Seusai melihat keindahan dalam masjid, saya segera bergegas munuju ke teras masjid sebelah kiri. Saya bergabung dengan puluhan orang yang sedang mendengarkan ceramah. Entah dimulai dari jam berapa, tapi saat saya sampai di masjid Ampel sekitar jam setengah lima pengajian ini sudah dimulai. Setelah hampir setengah jam mengikuti pengajian, jam lima tepat pengajian selesai. Petugas dari masjid segera membersihkan karpet yang ada dan kemudian mengatur jamaah untuk merapat ke depan.

Pernak-pernik Ramadhan di Makam Sunan Ampel

doc. Lazis

Barisan rapat telah terbentuk, dan sesuai dugaanku beberapa orang keluar membawa plastik di tangan yang di dalamnya terdapat nasi kotak. Itulah nasi takjil yang akan dibagikan kepada para jamaah yang ada di masjid. Ratusan nasi kotak di bagikan berurutan dari shaf depan hingga belakang, dan setelah persediaan nasi habis, semua jamaah segera membubarkan diri dan mencari tempat makan yang nyaman sembari menunggu adzan maghrib.
Adzan maghrib berkumandang di masjid Ampel. Semua orang yang ada di masjid sibuk dengan nasi bungkusnya. Mereka membuka dan memakan nasi takjilnya. Setelah adzan usai, semua orang yang ada segera mengambil wudhu untuk melakukan shalat Maghrib. Semakin malam semakin penuh dengan orang. Itulah yang terjadi dengan masjid Ampel di malam hari ketika bulan Ramadhan. Gang menuju masjidpun seusai maghrib telah dipenuhi lautan manusia.

Shalat telah usai, kemudian kami berlanjut untuk ziarah ke makam sang wali. Di dalam komplek ini masih belum terlalu banyak orang bila dibandingkan dengan yang ada di depan masjid. Belum banyaknya orang bisa membuat komplek makam lebih nyaman. Gerbang besar penanda masuk makam telah kami lalui. Di sebelah kanan jalan (setelah masuk gerbang) terdapat makam Mbah Sonhaji. Mbah Sonhaji sendiri lebih terkenal dengan sebutan Mbah Bolong, karena konon dulu Mbah Sonhaji melubangi tempat imam masjid. Mbah Sonhaji melakukan itu karena diamanahi oleh Sunan Ampel untuk menentukan arah kiblat. Karena orang-orang di sekitarnya masih meragukanya, Mbah Sonhaji melubangi tempat imam dan meminta orang-orang yang ragu tersebut melihat Ka’bah dari lubang tersebut. Karena karamah beliau, Ka’bah dapat terlihat dari lubang terebut.

Pernak-pernik Ramadhan di Makam Sunan Ampel

doc. Lazis

Setengah jam saya di dalam komplek makam. Orang-orang mulai banyak yang berdatangan. Komplek makam yang awalnya sepi menjadi sangat ramai. Karena doa kepada ahli kubur telah selesai kami lakukan, kami pun beranjak  keluar komplek makam.

Tepat jam tujuh malam, ta’mir masjid melakukan dzikir bersama di dalam masjid. Dzikir ini dilakukan hingga jam tujuh lebih seperempat, dan kemudian dilanjutkan dengan adzan Isyak. Tepat jam tujuh lebih tiga puluh, sholat isyak sudah selesai dilakukan. Takmir masjid melanjutkan dengan shalat tarawih berjamaah sebanyak dua puluh rakaat dan ditutup dengan witir tiga rakaat. Tarawih dan witir dilakukan sepanjang satu jam setengah, karena tiap malam dalam shalat tarawih harus membaca al-Qur’an sebanyak satu jus.

Jam sembilan lebih tarawih telah selesai dilakukan dan di dalam masjid dilanjutkan dengan pembacaan al-Qur’an. Kami keluar masjid untuk menuju salah satu makam orang tersohor di zamannya, tapi kali ini makamnya tepat di sebelah kanan masjid. Itulah makam mbah Sholeh. Mbah Sholeh sendiri adalah santri Sunan Ampel yang bertugas sebagai tukang sapu masjid. Konon dulu Mbah Sholeh mempunyai sembilan nyawa, dan dibuktikan dengan adanya sembilan kuburan berjejer dengan nama yang sama. Kami segera mendekat sembilan kuburan tersebut dan mengirim do’a untuk sang ahli kubur.

Kami juga ke makam K.H. M. Mas Mansyur. Makam salah satu tokoh nasional ini juga ada di komplek masjid Sunan Ampel. Tepat di sebelah utara dari makam Mbah Sholeh pengunjung dapat melihat makam penasihat Serikat Islam ini. K.H. M. Mas Mansyur adalah pahlawan nasional yang lahir di surabaya dan diangkat menjadi pahlawan nasional karena perjuangannya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Jam setengah sebelas malam kami kembali ke masjid setelah melakukan ziarah ke K.H. M. Mas Mansyur. Dan dari sinilah terlihat perbedaan masjid Sunan Ampel di bulan biasa dan bulan Ramadhan. Di bulan biasa, masjid Sunan Ampel tidak banyak orang yang tidur di dalamnya, sedangkan di bulan Ramadhan terlihat banyak sekali orang yang tidur di masjid. Kebanyakan mereka menunggu dini hari untuk melakukan i’tikaf di masjid ini. Sempat kami berbincang dengan salah satu pengunjung yang ada, kemudian kami menanyakan tujuanya menginap di masjid. “Biar bisa i’tikaf di masjid saat dini hari mas. Soalnya bila tidur di rumah sering keblablasan.“ Demikian pengunjung itu menjawab pertanyaan kami.

Di malam hari terutama di malam ganjil, masjid Sunan Ampel dipenuhi oleh pengunjung yang malakukan i’tikaf. Kebetulan di malam hari itu bertepatan dengan diadakannya i’tikaf bersama yang dipimpin oleh K.H. M. Ihya’ Ulumiddin, khadimul ma’had Nurul Haromain Pujon. Kami melaksanakan shalat tasbih 4 rakaat pada dini hari itu dan dilanjutkan dengan sahur bersama. Kami kemudian pulang ke kediaman setelah shalat Shubuh.

Pernak-pernik Ramadhan di Makam Sunan Ampel

doc. Lazis

Banyak hal yang kami petik dari perjalanan semalam di komplek makam Sunan Ampel ini. Salah satu di antaranya adalah ketekunan Mbah Sonhaji, karena diamanahi mencari arah kiblat, Mbah Sonhaji bekerja dengan tekun sehingga menghasilkan karomah yang luar biasa. Mbah Sholeh yang karena keistiqamahannya membersihkan masjid hingga bisa “bernyawa sembilan”. Dan yang terpenting adalah pelajaran tentang kedekatan para wali Allah dengan tuhannya, sehingga saat sudah wafatpun masih bisa memberi manfaat kepada orang-orang di sekitarnya.

Ya Allah, jadikanlah kami tekun, istiqamah, dan bermanfaat bagi orang-orang sekitar kami sebagaimana para orang-orang shaleh itu. Aminnn..

 

Oleh: Dandik