Perusak Amal itu Bernama Riya’ dan Sum’ah (Tasmi’)

Tausiyah Multaqo Sanawy Ke-18

18 Rojab 1438/ 15 April 2017

PP. Al Washoya Ngoro Jombang

Oleh :

download (20)

KH. M. Ihya Ulumiddin

 ‘Aminul’ Am Persyada Al Haromain dan Pengasuh Ma’had Nurul Haromain Pujon – Malang

Riya’ adalah tujuan meraih kerelaan manusia ketika melakukan pendekatan diri kepada Allah (qurbah).  Riya’ (pamer) termasuk amalan hati, bukan amalan lisan maupun anggota tubuh lain.

Esensi Riya’ adalah tujuan, baik berupa ucapan atau pekerjaan. Dalam riya’, pendekatan diri karena Allah berubah menjadi karena manusia. Jadi ucapan atau perbuatan (yang berupa amal-amal pendekatan diri/alqurab) bukanlah riya’, amal-amal itu hanyalah sebagai tempat (terjadinya) riya’. Riya’ hanyalah tujuan dan bukan sasaran yang dituju karena sasaran yang dituju adalah kerelaan manusia. Jika tujuan terbagi di antara Allah dan manusia maka pendekatan diri kepada Allah (qurbah) pasti musnah tersia-sia. Dan lebih parah dari ini adalah jika qurbah itu murni karena manusia dan sama sekali bukan karena Allah ta’ala.

Pembatasan riya’ dalam al qurab,  karena riya’ tidak terjadi dalam selain al qurab sebagaimana melaksanakan akad jual beli di hadapan banyak orang, atau penampilan bersih dan indah yang memang disyariatkan dsb. Adapun catatan berupa kerelaan manusia,  maka untuk mengecualikan tujuan-tujuan lain seperti orang yang memang sengaja ingin mendapat manfaat-manfaat (contoh: haji sambil mengambil keuntungan finansial).

images (17)Al qurab, terkadang berupa (amalan-amalan) ibadah, dan juga bisa berupa yang lain. Seorang yang memperpanjang sujud agar diperhatikan oleh orang lain, dia adalah orang yang pamer. Seorang yang mendermakan hartanya untuk berinfak agar disebut sebagai seorang dermawan, dia adalah orang yang pamer. Seorang yang menulis makalah dengan bagus agar dikatakan sebagai orang yang pandai, dia adalah orang yang pamer. Seorang yang menyampaikan pidato untuk meraih simpati manusia, dia adalah orang yang pamer. Seorang yang berkhutbah agar diakui sebagai khathib (yang hebat), dia adalah orang yang pamer. Seorang yang berjihad (berperang) agar dikatakan sebagai seorang pemberani, dia adalah orang yang pamer. Seorang yang memakai pakaian tambalan agar disebut sebagai seorang zuhud, dia adalah orang yang pamer. Seorang yang memanjangkan jenggot dan bersarung setengah betis (cingkrang.jawa) agar disebut sebagai seorang yang suka menjalankan sunnah, dia adalah orang yang pamer. Seorang yang terus menerus hidup dalam menjauh dari kesenangan duniawi agar disebut sebagai seorang sufi, dia adalah orang yang pamer. Seorang yang mengeluarkan zakat dan memanggil ribuan orang agar disebut sebagai seorang yang dermawan, dia adalah orang yang pamer. Seorang yang menundukkan kepala ketika berjalan agar dikatakan sebagai orang yang khusyu’, dia adalah orang yang pamer.  Seorang yang mengeraskan dan melagukan bacaan Alqur’an agar disebut sebagai seorang ahli membaca Alqur’an (Qaari’), dia adalah orang yang pamer. Dan begitu pula seterusnya (dari berbagai hal) yang memang sengaja (dilakukan) mencari kerelaan manusia.

Demikianlah riya’ yang memang menyertai amal dan tidak bisa dimengerti (oleh siapapun) kecuali Allah ta’ala. Tak ada sedikitpun jalan bagi manusia untuk bisa mengidentifikasi, sehingga orang yang berbuat riya’ pun tidak mengerti bahwa dirinya telah berbuat riya’, kecuali jika ia orang yang ikhlas. Imam Syafii, seperti dinukil oleh Imam Nawawi dalam al Majmu’ mengatakan: “Tidak bisa mengerti akan riya’ kecuali orang yang ikhlas.

Ikhlas membutuhkan usaha keras dan memerangi nafsu, di mana hal ini tidak mampu dilakukan kecuali oleh orang yang mengerti dirinya. Barang siapa mengerti dirinya maka ia mengerti Tuhannya”.

Adapun sum’ah atau tasmi’ adalah menceritakan al qurab kepada orang lain untuk mendapat kerelaan mereka. Perbedaan riya’ dan tasmi’ adalah bahwa riya’ menyertai amal, sedang tasmi’ terjadi setelah amal. Tasmi’ terkadang (terjadi) dengan menceritakan ibadah yang dilakukan secara rahasia sebagaimana orang yang shalat malam lalu pada pagi hari ia menceritakan hal itu kepada orang lain. Atau bisa (terjadi) dengan ibadah yang dilakukan secara terbuka di suatu tempat lalu menceritakannya di tempat lain, di mana semua itu dengan tujuan meraih kerelaan manusia. Riya’ dan sum’ah, keduanya haram, tanpa ada perbedaan pendapat (para ulama) berdasarkan firman Allah: “…Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”(QS al Kahfi:110) “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’. Dan enggan menolong (dengan barang yang berguna) “(QS al Ma’un:4-7)

Oleh Nabi Muhammad Saw, riya’ disebut pula dengan syirik khafi (syirik yang samar) sebagaimana riwayat Imam Ibnu Majah dan Imam Baihaqi dengan sanad hasan dari Abu Said al Khudri ra. Ia berkata:

Rasulullah Saw mendatangi kami yang sedang berdiskusi tentang al masih Dajjal. Lalu beliau Saw bersabda: “Maukah kalian ku beritahu tentang hal yang lebih menakutkan atas kalian daripada al masih Dajjal?” kami menjawab: Ia, wahai Rasulullah. Beliau Saw bersabda: “Syirik khafi, seseorang bangkit melakukan shalat, lalu ia memperindah shalatnya ketika mengerti ada seseorang memperhatikannya”.

Apabila hadir dalam suatu amal yang semestinya sebagai media pendekatan diri kepada Allah maka riya’ akan membatalkan amal tersebut. Jadi riya’ adalah termasuk perusak amal, artinya amal itu dianggap seperti tidak ada ( belum pernah dilakukan), di samping juga terdapat dosa di dalamnya. Berdasarkan riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw bersabda: “Allah tabaaraka wata’alaa berfirman: ‘Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan di antara orang-orang yang bersekutu. Barang siapa menjalankan suatu amal dan menyertakan selainKu bersamaKu di dalamnya maka Aku meninggalkan amal itu dan persekutuannya’”

jadi riya’ syirik saja bisa membatalkan amal, maka sudah barang tentu amal menjadi batal disebabkan oleh riya’ yang murni.

images (16)

Ketika Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa menceritakan amal kebaikan nya maka Allah membukakan aibnya di hadapan semua makhluk (kelak di hari kiamat). Barang siapa pamer maka Allah Swt memperdengarkan kepada seluruh makhluk bahwa ia telah berbuat pamer”[1] dan kita telah mengetahui bahwa antara riya’ dan tasmi’ ada perbedaan, maka tasmi’, tidaklah seperti riya’ yang bisa membatalkan amal, meski keduanya sama-sama diharamkan.

Tasmi’ terkadang dengan amal yang tercampur riya’ yang berarti amal ini sudah batal sebelum tasmi’ sehingga tasmi’ semakin menambah dosa amal tersebut.

Dan terkadang pula dengan amal yang baik, tulus ikhlas karena Allah ta’ala, lalu setelah itu pelakunya melakukan tasmi’ sehingga ia berdosa, hanya saja tidak sampai membatalkannya.  Dosa ini adalah seperti dosa-dosa pada umumnya yang masih mungkin dimohonkan ampunan, ditaubati, ditutupi pada hari kiamat, atau diletakkan dalam timbangan sehingga mengurangi kebaikan-kebaikan sebagai hukuman atas tasmi’ yang dilakukan, dan tidak sampai pada tarap membatalkan amal seperti terjadi dalam riya’.

Tasmi’ tidak bisa disamakan dengan riya’ dalam membatalkan amal karena amal yang tercampur riya’ dianggap seakan-akan tidak terjadi. Amal itu batal. Berbeda dengan amal yang ikhlas karena Allah yang kemudian diikuti dengan tasmi’, maka tetap dianggap sah. Jadi pendekatan diri yang sah tidak bisa disamakan dengan pendekatan diri yang dinilai batal.

images (15)

Imam al Munawi mengatakan: “Di sini adalah pelajaran berupa anjuran menyamarkan amal shaleh”

Imam Izzuddin bin Abdussalam mengatakan: “Tetapi ada yang dikecualikan yaitu seseorang yang menampakkan amal agar diteladani dan diambil manfaatnya sebagaimana menulis buku berisi ilmu. Jadi bagi pemimpin yang ilmunya dijadikan panduan dan mengerti akan hak Allah atas dirinya dan bisa mengalahkan setannya, maka sama saja baginya antara menampakkan ilmu atau menyamarkan karena tujuannya sudah benar. Dan yang paling utama bagi orang selain dia adalah menyamarkan amal secara mutlak”

“Ya Allah, kami memohon perlindunganMu dari menyekutukanMu dengan sesuatu yang kami mengetahuinya. Dan kami memohon ampunanMu untuk sesuatu yang tidak kami mengerti. Amin”

= وَالله يَتَوَلَّي الـْجَمِيْعَ بِرِعَايَتِه =

[1]HR Ahmad – Muslim (Lihat al Jami’ as shaghir nomer 8758)