Pesona Masjid Biru SULTAN AHMET CAMII Turki

Pesona Masjid Biru

Akhmad Rofii Damyati, M.A.

Ph.D Candidate at Süleyman Demirel Üniversitesi, Türkiye

PESONA MASJID BIRU

dok. penulis

Di sela-sela rutinitas kuliah di kota Isparta, Turki, pada akhir Desember yang lalu, saya bersama beberapa teman antara lain; Ridwan dari Riau, Sadrul Islam dari Afganistan, dan Abdurrouf dari Bangladesh menyempatkan diri untuk berkunjung ke Istanbul. Daftar kunjungan salah satu di antaranya adalah Sultan Ahmet Camii. Setelah 8 jam perjalanan dalam bis dan menyeberangi selat Bhosporus, alhamdulillah akhirnya sampai juga di Istanbul.

Sultan Ahmet Camii, atau juga dikenal dengan Blue Mosque, berdiri megah tidak seberapa jauh dari gagahnya Hagia Sofia, yaitu sebuah Masjid bekas gereja terbesar peninggalan kerajaan Kostantinopel. Masjid Sultan Ahmet ini dibangun antara tahun 1609-1617 M. Proses pembangunannya menghabiskan waktu 7,5 tahun di bawah arsitek Sedefkar Mehmet Ağa melalui mandat dari Sultan Ahmet I.

Sultan Almet I merupakan Sultan kekhalifahan Usmaniyah ke-14 yang dinobatkan di usianya yang masih belia, yaitu usia 14 tahun. Ia meninggal dunia juga masih tergolong sangat muda, yaitu 28 tahun. Konon ketika menginstruksikan pembangunan masjid ini kepada Sedefkâr Mehmet Ağa, sang Sultan masih berusia 19 tahun. Ia juga ikut ambil bagian dalam pembangunannya.

(inset: Mimar Sinan)

Karya besar Masjid Sultan Ahmet ini tidak lepas dari bayang-bayang arsitek besar Turki Usmani di abad ke-17 lainnya, yaitu arsitek Sinan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mimar Sinan. Arsitek Mehmed Ağa merupakan master arsitektur di bawah bimbingan sang arsitek besar Mimar Sinan sejak usianya 21 tahun. Setelah meninggalnya Mimar Sinan, ia menjadi arsitek utama di Turki Usmani menggantikan seniornya itu. Setelah menggantikan posisi Mimar Sinan, pekerjaan pertamanya adalah merenovasi bangunan Ka’bah dan pemasangan Talang Emas yang terkenal itu.

Sudah menjadi tradisi pada kesultana Turki Usmani, ketika membangun masjid, maka ada komplek yang ikut dibangun termasuk di dalam pembangunannya. Komplek ini biasa disebut Külliye (dari bahasa Arab Kulliyyah) yaitu suatu kompleks bangunan yang luas. Oleh karena itu, kompleks masjid Sultan Ahmet ini mencakup rumah sakit (hastane), madrasah (medrese), dapur umum (mutfak), pasar (bazar), dan pemakaman keluarga besar kerajaan (Kraliyet ailesi mezarı).

PESONA MASJID BIRU

dok. penulis

Yang menarik, di masjid ini dahulunya ada ruangan khusus buat para astronom yang tugas utama mereka mengontrol waktu shalat. Sebab, sebagaimana diketahui, di negara-negara dengan empat musim, Turki memiliki perubahan waktu yang sangat ekstrem. Selain itu, pengaturan kalender selama setahun banyak diatur dari ruangan itu. Tempat untuk mereka biasa disebut dengan Muvakkithane (Time House).

Komplek-komplek bangunan itu sekarang tidak berfungsi layaknya dahulu. Selain digunakan untuk sekolah dasar Ottoman (Sıbyan Mektebi), kini digunakan juga bagi para turis yang hendak melihat-lihat masjid besar ini dari dalam, sambil berkonsultasi dan menanyakan informasi seputar masjid secara khusus atau Islam secara umum langsung dari Imam Masjid.

Tentang Nama

Walaupun nama masjid ini sudah dikenal dengan Sultan Ahmet Camii, namun dalam sejarahnya sering lebih dikenalnya dengan “The Blue Mosque” (Masjid Biru). Hal itu karena para pengunjung, terutama turis-turis dari Barat, melihat interior dinding-dinding masjid didominasi oleh keramik biru dari Iznik (Nicaea).

Iznik merupakan sejenis tembikar yang biasa dibuat di Anatolia Barat yang dihiasi dengan ornamen kaligrafi Arab, bunga-bunga, pohon-pohon, dan lain sebagainya. Iznik sangat masyhur di kuartal terakhir abad ke-15 sampai akhir abad ke-17. Menurut jumlahnya, iznik-iznik yang menghiasi interior masjid itu tidak kurang dari 21.000 buah. Karena didominasi warna biru itulah kemudian orang-orang menyebutnya Masjid Biru.

Tentu saja ornamen-ornamen indah itu ada maksudnya. Konon, pola bunga dan pohon itu mewakili bumi di kala musim semi serta menggambarkan Taman Firdaus. Indahnya dekorasi di dalam ruang doa dengan percikan cahaya dari jendela memberikan kesan ketenangan dan menarik orang datang ke masjid.

Orang Barat memang lebih suka memanggilnya “Blue Mosque”. Namun bagi orang Turki, “Sultan Ahmet Camii” lebih memikat. Hal itu karena nama sultannya memberi kesan sejarah lebih mendalam lagi. Menyebut “Sultan Ahmet Camii” akan mengingatkan pada proses islamisasi di Turki. Kalau di periode Bizantium, bangunan besar seperti ini biasa disebut Hippodrome, yaitu tempat berkumpulnya sejumlah besar massa untuk mendengarkan ceramah raja. Sultan Ahmet Camii bisa menggantikan fungsi Hippodrome saat itu.

PESONA MASJID BIRU

dok. penulis

Sebagaimana masjid-masjid Turki pada umumnya, lantai dalam masjid ini ditutupi karpet tebal dan lembut. Turki memang terkenal dengan kualitas karpetnya. Di mana-mana karpet menghias lantai-lantai bangunan, termasuk masjid. Setiap pengunjung diwajibkan melepas sepatunya dan memasang kaos kaki dari plastik yang disediakan pihak masjid ketika memasukinya. Terkecuali bagi mereka yang mau shalat, maka mereka boleh melepas kaos kaki plastiknya namun, tetap memakai kaos kaki sebagaimana biasanya. Di mana-mana, orang Islam di Turki ketika memasuki masjid hampir tidak kita temukan mereka yang bertelanjang kaki baik dalam kehidupannya sehari-hari maupun ketika memasuki suatu masjid. Biasanya kaos kaki selalu membalut kedua kaki mereka.

Masih dalam interiornya, kaligrafi-kaligrafi indah yang bertuliskan ayat-ayat al-Quran karya Qasim Ghubari menghiasi interiornya. Salah satu ayat di antara kaligrafi-kaligrafi itu adalah surat An-Nur ayat yang ke 35.

Jika kita masuk ke dalam masjid, kita akan dihadapkan dengan empat pilar besar dengan diameter 5 meter. Orang turki menyebutnya dengan ‘fil paye’ atau kaki gajah. Disebut demikian karena keempat pilar tersebut yang kokoh tersebut merupakan penyangga utama dari masjid ini. Pilar ini seratus persen terbuat dari batu marmer yang dikupas bulat dan disusun ke atas. Di ujung atas masing-masing pilar dihiasi dengan kaligrafi ayat-ayat al-Quran berwarna kuning emas dengan latar biru.

PESONA MASJID BIRU

dok. penulis

Menara Masjid

Masjid Sultan Ahmed adalah satu dari dua masjid di Turki yang memiliki enam menara. Masjid kedua setelah Sultan Ahmet adalah Masjid Sabanci di Adana. Konon ada yang mengkritik Sultan gara-gara memasang menara yang jumlahnya menyamai Masjidil Haram di Makkah. Karena itulah, Sultan Mehmet kemudian memesan menara ketujuh untuk dipasang di masjid Mekkah tersebut.

Empat menara berdiri di sudut-sudut masjid biru itu. Sebagaimana khas menara Turki, menara itu berbentuk pensil yang menjulang tinggi. Dulunya, untuk mengumandangkan azan, seorang muadzin mesti menaiki menara melalui tangga yang terdapat di dalam menara tersebut. Kini, dengan adanya pengeras suara, panggilan untuk shalat dapat menggema ke setiap sudut-sudut Istanbul.

Bagi mereka yang berziarah ke Turki, rasanya tidak sah ziarahnya kalau melewatkan berkunjung ke Masjid Sultan Ahmet yang indah ini.

[]