Pintu-Pintu Penyebab Kesombongan

 

Pintu-Pintu Penyebab Kesombongan

 

Oleh: Muhim Kamaluddin

Guru di MA al-Washoya, Jombang

Muhim_km@yahoo.com

 “Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan walaupun sebesar dzarrah. Seorang laki-laki berkata, ‘Sesungguhnya seseorang menyukai pakaian dan sandalnya bagus. Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan. Sombong itu menolak hak dan merendahkan manusia.” (H.R. Muslim dan at-Tirmidzi)

Pintu-Pintu Penyebab Kesombongan

Dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin, hujjatul islam Imam al-Ghazali menasihatkan beberapa nasihat penting berkaitan dengan kesombongan. Sombong adalah sifat yang hanya patut untuk Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak untuk manusia. Cukuplah kita tahu bahwa iblis dilaknat sebab sifat sombong, dan setan akan senantiasa meniupkan perasaan ini dalam hati manusia sehingga hati manusia dihinggapi rasa ujub (bangga diri) dan kemudian kibr (sombong).

Imam al-Ghazali mendefinisikan sombong sebagai:

اِسْتِعْظَامُ النَّفْسِ وَرُؤْيَةُ قَدْرِهَا فَوْقَ قَدْرِ الْغَيْرِ

 

“Menganggap mulia dirinya dan melihat kemampuannya di atas kemampuan orang lain.

Inti dari definisi tersebut terletak pada dua hal, yaitu menganggap diri lebih baik daripada orang lain dan menyepelekan atau menganggap orang lain tidak ada apa-apanya.

Kesombongan ini, menurut imam al-Ghazali tidak lepas dari tujuh macam sebab ini:

  1. Banyaknya ilmu

Ini adalah ujian terberat dan berbagai bentuk ujian yang ada. Ini adalah ujian bagi para ulama’, guru, kiai, pendidik, professor hingga ustadz. Seringkali ilmu yang banyak membuat orang lain kagum kepadanya dan pada gilirannya mereka akan menghormati pemilik ilmu sedemikian rupa.

Penghormatan orang lain atas diri pemilik ilmu menjadikan pemiliknya rawan dihinggapi rasa ujub. Beratnya ujian ini dikarenakan susahnya membedakan antara hati yang ikhlas dan yang terkena ujub. Halusnya ujub yang terbungkus ilmu menjadikannya susah dideteksi. Padahal ilmu yang turun pada seorang manusia, pada hakikatnya adalah amat sedikit. Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam membandingkan ilmu seluruh manusia dan ilmu Allah Subhanahu wata’ala ibarat setetes air di antara lautan samudra maha luas. Maka ilmu yang manakah yang layak disombongkan?

Jamaluddin bin Muhammad al-Qasimi menjelaskan ada dua faktor mengapa ilmu menjadi penyebab kesombongan. Pertama, sibuk dengan ilmu, tetapi ilmunya bukan ilmu yang hakiki. Ilmu yang hakiki sejatinya akan membuat seorang hamba mengenal Allah yang kemudian ia memiliki rasa takut kepada Allah (khasyyah). Kedua, berinteraksi dengan ilmu tetapi melalui cara yang tidak baik, hati yang kotor, dan akhlak yang tercela. Maka, ilmunya akan membuatnya sombong.

  1. Banyak amal

Terhadap hamba Allah yang menyibukkan diri dengan amal ibadah, setan meniupkan perasaan ujub dan bangga diri ke dalam hati sang Hamba. Merasa bangga telah membangun masjid dari dana pribadi, membangun pesantren, membangun sekolah, berhaji berkali-kali, umroh tiap bulan, mampu melazimkan shalat sunnah puluhan rakaat, seribu satu cara dilakukan setan untuk mengugurkan pahala para ahli amal ini. Padahal dengan cara apapun seorang hamba beramal dan beribadah, tidaklah sebanding dengan nikmat yang Allah karuniakan. Sebagaimana dikisahkan ada seorang hamba yang beribadah selama ratusan tahun yang ditimbang dengan satu nikmat mata kiri, masih lebih berat nikmat yang Allah berikan.

  1. Keturunan dan nasab

Kesombongan bisa saja timbul karena faktor keturunan dan nasab keluarga. Memiliki orang tua atau saudara sebagai tokoh besar suatu masyarakat memang banyak keuntungannya. Memiliki anak yang sukses juga sangat membanggakan. Terlahir dalam nasab yang mulia merupakan karunia. Akan tetapi setan juga memasang jerat kesombongan dalam hal ini.

Suatu ketika seorang Badui melewati sekumpulan pemuda yang sedang membicarakan kemuliaan datuk mereka masing-masing dan keutamaan nasab mereka. Sambil terheran-heran, sang Badui pun berceletuk, “Syukurlah datukku tidak seperti datuk kalian, karena kalau tidak, aku pasti teramat berat mengikuti jejak mereka dan aku pasti malu jika tidak mampu beramal seperti mereka.” Para pemuda itupun tahu maksud sang Badui dan merekapun akhirnya merasa malu pada diri sendiri.

Dalam pelajaran moral dan etika, ada sebuah ungkapan:

لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ كَانَ أَبِي… لَكِنَّ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ هَاذَا أَنَا…

 “Bukanlah disebut pemuda yang mengatakan, ‘Inilah ayahku’… tetapi pemuda itu adalah yang mengatakan, ‘Inilah aku’.”

  1. Ketampanan atau kecantikan

Membanggakan bentuk fisik adalah hal yang paling tidak masuk akal untuk dibanggakan. Mengapa demikian? Karena jika ada olimpiade sains ada soal yang perlu dijawab dengan kemampuan otak yang diasah dengan belajar. Jika ada kejuaraan pencak silat berarti harus berlatih keras. Jika ada lomba maraton berarti peserta harus giat berlatih. Tetapi jika kecantikan dan ketampanan dikonteskan? Bentuk fisik adalah kehendak yang Maha Pencipta, maka tidak adil apabila dibanggakan atau dikonteskan.

Namun setan meniupkan rasa sombong dengan tampilan fisiknya yang indah. Setan akan terus menggoda anak Adam agar ketampanan dan kecantikan yang dimilikinya ia pamer-pamerkan. Kebanggaan terhadap bentuk fisik juga dapat mengantar kepada malapetaka. Sebagaimana Hitler yang memicu perang dunia kedua karena menganggap ras Arya sebagai ras pilihan Tuhan.

Pintu-Pintu Penyebab Kesombongan

  1. Banyaknya harta

Harta benda pada prinsipnya adalah ujian buat manusia. Mengapa? Karena kelak di akhirat kita akan ditanya, darimana kita memperoleh harta kita, dengan cara bagaimana dan dibelanjakan untuk apa. Satu benda menghendaki tiga macam jawaban, itulah namanya fitnah dan ujian.

Namun banyak manusia salah dalam memahami harta, sehingga tidak jarang muncul kesombongan karena merasa memiliki banyak harta. Kisah Qarun yang merasa hartanya adalah hasil usahanya dan merasa bahwa dengan harta ia bisa menuruti semua keinginannya adalah penting untuk kita renungkan.

Banyak manusia salah dalam memahami harta, sehingga tidak jarang muncul kesombongan karena merasa memiliki banyak harta

  1. Kekuatan Fisik

Ada kalanya kekuatan, kemampuan, dan kehebatan yang dimiliki menyebabkan kesombongan. Preman pasar berlaku semena-mena karena merasa tiada yang berani melawannya. Negara adidaya bertindak sewenang-wenang karena merasa tidak ada negara yang sanggup melawannya. Padahal kekuatan manusia itu tak mampu melawan kekuatan tsunami, tanah longsor, ataupun letusan gunung.

  1. Banyaknya pengikut dan pendukung

Tak dapat dipungkiri, banyaknya jama’ah, santri, atau apalah sebutannya, terkadang menjadikan seseorang merasa tinggi dan mulia. Hatinya merasa senang dan nyaman manakala ketika ia duduk dan dikelilingi oleh banyak pengikut.  Demikian jika ia merasa didukung oleh banyak orang, maka ia akan merasa lebih baik dari pada orang lain. Dan orang lain tidak sebaik dirinya.

Ketujuh hal tersebut, hanyalah perasaan manusia, maksudnya manusia hanya merasa banyak amal, merasa banyak ilmu, merasa banyak harta, dan aneka rasa-rasa lainnya. Padahal pada hakikatnya semua itu tidak bernilai apa-apa dihadapan Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu a’lam bish-shawaab.

[]