Prediksi Rasulullah SAW Terkait Islam di Akhir Masa

Rasulullah SAW bersabda:

” بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاء”

“Islam bermula dianggap asing dan akan kembali menjadi asing seperti semula, maka kebaikan (keberuntungan) bagi orang-orang (yang dianggap) asing.”

images (3)

Arti Kalimat

  1. ( غَرِيبًا ) = Yang asing; artinya: Islam dan ajarannya pada permulaan datang ke muka bumi ini dianggap asing dan aneh oleh orang-orang kafir. Sehingga sedikit orang yang masuk dan menganut satu-satunya agama yang disahkan oleh Allah sampai hari Kiamat nanti. Demikian pula Islam dan ajarannya di akhir masa akan menjadi asing, dikucilkan serta disudutkan seperti sediakala, tidak hanya menurut orang-orang kafir, akan tetapi juga menurut orang-orang yang mengaku tergolong kaum muslimin. Sehingga mereka memandang Islam, umat, dan ajarannya dengan sebelah mata. Mereka adalah benalu yang dapat menggerogoti subur dan tumbuh-kembangnya ajaran Islam dan mereka musuh dalam selimut yang dapat melumpuhkan kekuatan dan pertahanan Islam.
  2. ( فَطُوبَى) = Kebaikan; yakni jaminan kebaikan dan keberuntungan dari Allah SWT khususnya kelak di akhirat.
  3. ( لْغُرَبَاءا ) = Orang-orang yang dianggap asing. Mereka–sebagaimana dijelaskan sendiri oleh Baginda Rasul SAW dalam beberapa riwayat lain–adalah minoritas kaum muslimin yang tersudutkan, sebab mereka masih konsisten dan konsekuen dengan ajarannya, di sela-sela kebobrokan di awal dan akhir zaman, yang menghimpit kehidupan beragama mereka. Sehingga mereka diumpamakan oleh Baginda Rasul SAW seperti “seorang yang menggenggam bara api“, sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari Abu Hurairah ra:

يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا يَبِيعُ قَوْمٌ دِينَهُمْ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا قَلِيلٍ الْمُتَمَسِّكُ يَوْمَئِذٍ بِدِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Seorang lelaki di pagi hari bisa menjadi mukmin dan di sore hari bisa menjadi kafir, dimana sekelompok orang menjual agama (ajaran Islam) mereka dengan materi dunia yang sedikit. Orang yang berpegang teguh dengan agamanya di saat itu, seperti orang yang menggenggam bara api.”

Dalam riwayat lain al-Hakim dan at-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud ra menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

الْمُتَمَسِّكُ بِسُنَّتِي عِنْدَ اخْتِلَافِ أُمَّتِي كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Orang yang berpegang teguh dengan ajaranku di saat umatku berbeda pandangan, seperti orang yang menggenggam bara api.”

download

Mereka juga yang dianugerahi predikat oleh Rasulullah SAW sebagai khulafa (para pengganti) beliau, dan didoakan mendapatkan rahmat Allah SWT dalam sebuah hadits riwayat ath-Thabarani dalam kitab “al Mu’jam al-Awsath”-nya dari Sayyidina ‘Ali ra:

” الَّلهُمَّ ارْحَمْ خُلَفَائِي “

Yaa Allah … rahmatilah para penggantiku.“

Perawi Hadits

Cukup banyak para shahabat Nabi SAW yang meriwayatkannya langsung dari lisan beliau. Sebagai pemula adalah Sayyiduna Abu Hurairah ra. Lalu datang pada deretan selanjutnya adalah Sadaatuna Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Abdur Rahman bin Sannah serta Abu Sa’id al Khudry ra.

Pengorbit Hadits

Demikian pula cukup banyak para Imam pakar hadits yang ikut serta mengorbitkan hadits yang cukup masyhur di dalam medan fitnah dan keadaan akhir zaman ini. Mereka adalah Imam Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal, ath-Thabarany, serta Abu ‘Awanah –rahimahumullah.

Status dan Derajat Hadits

Menurut Imam at-Tirmidzi –sebagaimana kebiasaan beliau menentukan status dan derajat hadits yang telah diriwayatkannya– hadits ini berada di deretan derajat hadits-hadits hasan shahih gharib. Dan istilah ini memang telah menjadi ciri khas beliau di dalam kitab Sunan-nya. Namun bagaimanapun beliau menentukan status hadits ini menurut istilah beliau sendiri, cukup Imam Muslim yang telah meriwayatkannya lebih dahulu, menjadi  bukti utama kalau hadits ini adalah berstatus shahih. Dan teks hadits yang menjadi landasan utama pembahasan mutiara ini adalah riwayat Imam Muslim. Adapun riwayat-riwayat yang lainnya menjadi penopang dan pelengkap riwayat Imam Muslim.

Uraian Hadits

Lewat Kalam Nabawi-nya ini Rasulullah SAW memprediksi –yang memang prediksi beliau tidak bisa lepas dari andil wahyu Allah SWT– tentang nasib agama Islam, ajaran, serta umatnya itu sendiri, pada permulaan bangkit dan pada akhir kebangkitannya sebelum Allah menggulung langit dan bumi. Namun tujuan utama dari Rasulullah SAW melontarkan kalam ini adalah lebih memusatkan perhatian pada keadaan di akhir masa. Sebab keadaan di awal munculnya Islam, telah beliau saksikan dengan mata dan kepala mulia beliau sendiri, bagaimana keadaan Islam, ajaran, dan penganutnya. Dan beliau serta shahabatnya telah mampu menghadapi situasi yang sesekali dapat mengancam keselamatan nyawa mereka, dan terbukti mereka sukses, serta hal ini telah berlalu. Oleh karenanya, beliau seolah-olah berkata kepada umatnya yang tidak menyaksikan situasi di awal dan proses kebangkitan Islam: “Wahai ummatku…! Islam menjadi bangkit setelah kami berusaha semaksimal mungkin yang disertai dengan kesabaran yang tinggi dan tetap tidak goyah memegang prinsip dan mempertahankan ajaran Islam, apapun situasi dan tantangannya. Dan ini merupakan sunnah serta ketetapan Allah di bumi, kelak kalian demikian pula keadaannya di ambang kebangkitannya di akhir masa. Oleh karena itu, berpegang teguhlah pada prinsip dan pertahankan ajaran Islam, sekalipun situasinya bagaikan orang yang menggenggam bara api, pertahankanlah sampai titik darah penghabisan, sehingga Allah membuktikan kebangkitan dan kejayaannya di akhir masa”. Demikianlah kira-kira dari uraian kalam nabawi ini, sebagai bekal individu muslim dalam menyongsong kebangkitan Islam di akhir zaman, dan hal ini pasti akan terjadi, serta saat itu pasti akan tiba.

images (2)

Kandungan Hadits

Terdapat beberapa isyarat yang menegangkan, sekaligus juga terdapat harapan yang menggembirakan bagi Islam dan kaum Muslimin, yang tersirat di balik lembut dan sejuknya tutur kata Baginda Rasul nabawi ini, diantaranya:

  1. Islam akan bangkit dan jaya kembali di muka bumi, seperti sediakala, pada zaman Rasulullah SAW.
  2. Proses menuju kejayaan tersebut melalui beberapa situasi yang menegangkan, mengerikan, serta menakutkan. Sebab Islam, ajaran, dan umatnya saat itu harus menghadapi musuh-musuh dari luar dan dalam, sehingga harus bersabar dan siap dipojokkan serta dikucilkan. Akan tetapi keadaan tersebut tidak akan berlangsung selamanya. Pasti setelah adanya kepahitan, kegetiran, perjuangan dan pengorbanan, janji Allah akan datang pada waktunya. Untuk memastikan kedatangannya Allah SWT sampai mengulanginya dua kali dalam firman-Nya Q.S Asy-Syarh [94] ayat 5 – 6:

فَإِنَّ مَعَ العُسرِ يُسرًا –  إِنَّ مَعَ العُسرِ يُسرًا

  1. Allah akan mewujudkan pemimpin Islam sedunia yang memiliki kapasitas kemampuan seorang mujaddid (pembaharu) di dalam syari’at Islam, yang dapat meraih kebangkitan dan kejayaannya kelak. Yang pasti dia adalah Imam al-Mahdi al-Muntadzar, yang akan dibantu oleh Nabi Isa as. Namun apakah harus menunggu kemunculan beliau, Islam berjaya, ataukah sebelum kemunculannya Islam akan jaya? Ini adalah PR bagi seluruh umat Islam masa kini.
  2. Kekhususan agama Islam mengalami masa kejayaan di awal dan di akhir masa, setelah mengalami masa kritis di tengah-tengah perjalanannya, kemudian menjadi pulih kembali sampai datangnya hari Kiamat. Berbeda dengan seluruh syariat yang dibawa oleh para Nabi –‘alaihimush shalatu was salam– sebelumnya, yang hanya berjaya di masa ada dan hidupnya mereka di tengah-tengah ummat mereka.images (4)
  3. Hanya agama dan syariat Islam yang masih layak berlaku ajarannya di muka bumi, sampai hari Kiamat. Adapun yang lainnya sudah kadaluarsa untuk diberlakukan di muka bumi, bersamaan dengan berlalunya para Nabi mereka.

Wallahu A’lam.

Al-Maraji’:

  1. An-Nawawi; Yahya bin Syaraf an Nawawi ad Dimasyqi, Syarh Muslim: 1 / 269 – 270.
  2. Al-Munawi; Muhammad bin ‘Abdir Ra’uf al-Munawi, Faidh al Qadiir: 6 / 339, 468.
  3. Al-Kalabadzi; Muhammad bin Ibrahim al-Kalabadzi, Bahru al-Fawa’id al-Musamma bi Ma’ani al-Akhyar: 1 / 483.
  4. Abady; Abuth Thayyib Muhammad Syamsul Haq al-‘Adzim Abady, Aunul Ma’bud: 9 / 375.
  5. Al-Mubarakfuri; Muhammad Abdur Rahman al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwadzi: 6 / 427 – 428.
  6. Abu Nu’aim al-Ashbahani; Ahmad bin Abdillah al-Ashbahani, Akhbaaru Ashbahaan: 1 / 251.