Bina Pendidikan

P1220731Rasanya tidak ada yang tidak sepakat bahwa pendidikan haruslah berkualitas. Berkualitas dalam perencanaan, proses, monitor, dan evaluasinya. Berkualitas SDM-nya dan berkualitas pula peserta didik dan lulusannya. Pendidikan berkualitas menjadi hak semua orang, kaya atau miskin, di kota  atau di desa, normal atau yang berkebutuhan khusus, dan  seterusnya.

Akan tetapi, ketika ada  sebuah upaya mendunia untuk mewujudkan pendidikan untuk semua atau ‘education for all’, apalagi kemudian dilengkapi dengan tambahan kata ‘berkualitas’ pada frase tersebut sehingga menjadi ‘Pendidikan Berkualitas untuk Semua’, agaknya kesepakatan dalam berupaya secara maksimal untuk mewujudkan hal tersebut masih jauh panggang dari api.

Upaya untuk mewujudkan ‘Pendidikan Berkualitas untuk Semua’ memiliki berbagai bentuk. Salah satu bentuk upaya yang dilakukan Yayasan Al Haromain melalui Divisi Pendidikan atau Divisi Tarbiyah wa Taklim adalah menyelenggarakan dan mengembangkan lembaga pendidikan dan atau sekolah-sekolah Islam yang bermutu dan terjangkau. Hal itu dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa sejatinya pendidikan harus dikembangkan secara sadar dan  terencana untuk membentuk peserta didik yang secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlaq mulia, keilmuan dan pengetahuan tentang dunia, serta keinginan untuk belajar sepanjang hidup.

Pendidikan berbasis keimanan kepada Rabb yang Maha Tinggi tersebut sangat diperlukan di tengah pendidikan nasional yang terus berkembang mencari bentuk untuk menghasilkan manusia yang seutuhnya. Ironisnya, moral generasi yang dihasilkan ternyata kian merosot. Korupsi meraja lela. Narkoba kian tak terbendung. Kekerasan yang berakhir dengan kebiadaban mulai  bergentayangan (lihat saja ulah Geng Motor). Seks bebas pun menggerogoti remaja. Simak hasil penelitian yang dilakukan terhadap 700 siswa SMP di Surabaya (Sumber: Jawa Pos 21 April 2012, Kartini Muda dalam Pornografi): 45% siswa menyatakan boleh berhubungan intim dengan lawan jenis dan 14% siswa menyatakan telah berhubungan intim dengan lawan jenis. Bahkan, kondisi  tersebut diperburuk lagi dengan perusakan moral melalui hubungan seks dengan sesama jenis yang dikembangkan melalui organisasi berkedok memperjuangkan hak asasi manusia.

Dengan kondisi  bangsa yang sangat memprihatinkan tersebut, i’tikad dan upaya meningkatkan kualitas pendidikan untuk menghasilkan generasi yang berkualitas perlu mendapat perhatian khusus, terutama bagi lembaga zakat, infaq, dan shodaqoh. Hal itu dikarenakan upaya mengembangkan pendidikan yang ikut mencerdaskan hati dan pikiran anak bangsa melahirkan rangkaian konsekuensi yang  membutuhkan daya dukung pendanaan yang relatif tinggi.

Betapa tidak, sekolah-sekolah itu lahir dan berproses dengan kondisi  yang  cukup memprihatinkan, terlebih dalam sarana- prasarananya, ‘penyeka keringat’ para guru yang jauh dari standar gaji UMR, dan belum lagi para pengelola yang harus utang kesana-kemari untuk mendirikan dan melengkapi sarana sekolah.

Lazis Al Haromain melalui program Bidik (Bina Pendidikan) berupaya keras untuk mendukung program pendidikan formal di lingkungan Al Haromain yang berorientasi melahirkan generasi robbani, generasi yang berakhlak dan berprestasi. Kegiatan yang dilakukan antara lain berbagai hibah kompetisi untuk lembaga dan  riset pendidikan serta lokakarya/pelatihan untuk peningkatan kualitas manajerial, pedagogis, dan produktivitas SDM (guru, pengelola pendidikan, tenaga edukasi dan nonedukasi), hingga pemilihan kepala sekolah, guru, dan  siswa  serta tenaga edukasi dan nonedukasi berprestasi. InsyaAlloh, program ini akan memberi kontribusi dalam menyelesaikan persoalan bangsa, khususnya pendidikan untuk anak bangsa. Amiin.

Wallohu a’lam.