Puasa dan Meninggikan Cita-Cita

Oleh: K.H. M. Ihya Ulumiddin

‘Aminul’ Am Persyada Al Haromain dan Pengasuh Ma’had Nurul Haromain Pujon – Malang

Q.S. al-Baqarah: 183

Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Makna dan Penjelasan Ayat

Dalam ayat ini Allah SWT mengingatkan bahwa di antara fungsi utama puasa adalah agar bisa menjadi manusia yang bertaqwa, sebagaimana firman-Nya: “…agar kamu bertakwa”. Yang pasti, orang yang bertaqwa mendapatkan fasilitas dimudahkan segala urusan dunia, diberikan rizki dengan cara yang tidak disangka-sangka, diberikan furqan, yaitu bimbingan sehingga tetap bisa membedakan antara yang hak dan yang batil ketika keduanya hampir tidak bisa dibedakan oleh kebanyakan orang, dijanjikan keselamatan ketika harus melintasi jembatan yang melintang di atas jahannam, dan dimasukkan surga Allah SWT dengan segala fasilitas mewah yang disiapkan secara khusus bagi orang yang bertakwa.

Selain menyebutkan fungsi puasa sebagai jalan menuju taqwa, dari ayat ini juga bisa dipahami bahwa orang yang beriman kepada Allah SWT harus menjadikan taqwa sebagai cita-cita yang mesti diwujudkan dalam kehidupan. Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ…

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah…”[1]

Taqwa adalah cita-cita yang sangat tinggi karena menjadi standar kemulian manusia di sisi Allah. Orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertaqwa.[2] Artinya seorang beriman harus memiliki cita-cita yang tinggi melambung ke angkasa sebagaimana dikatakan oleh Sayyidina Ali karramallahu wajhah bahwa jika burung terbang dengan kedua sayapnya, maka manusia harus terbang dengan cita-citanya.

Berbicara tentang cita-cita yang tinggi, tentu kita harus mengetahui dan mengakui kenyataan bahwa para sahabat Rasulullah Muhammad SAW adalah generasi yang paling tinggi memiliki cita-cita. Cita-cita mereka rata-rata adalah kehidupan yang sukses di akhirat. Mereka sangat memahami bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sekedar permainan belaka. Bermain, bersenang-senang, dan merasakan kelelahan. Siklus ini tidak bergeser. Mereka itulah generasi yang betul-betul menghayati firman Allah SWT:

وَمَا هذِهِ الـْحَيَاةُ الدُّنْيَآ إِلَّا لَـهْوٌ وَّلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لـَهِيَ الـْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”[3]

Sebagai contoh adalah riwayat-riwayat berikut ini:

  1. Dari Abu Ayyub al-Anshari ra:

[Seorang lelaki (Badui) datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Tunjukkanlah kepadaku amal yang bila aku melakukannya, maka ia bisa mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka!” Nabi SAW bersabda: “Kamu menyembah Allah tanpa menyekutukan apapun dengan-Nya, kamu menegakkan shalat, membayar zakat, dan kamu menyambung sanak kerabat!”[4]]

  1. Dari Abu Thalhah al-Ya’mari:

[Aku bertemu dengan Tsauban ra, maula Rasulillah SAW.  Aku bertanya: “Beritakanlah kepada amal yang karenanya Allah memasukkan diriku ke dalam surga. Beritahukanlah kepadaku amalan yang paling dicintai oleh Allah!” Tsauban diam, sehingga aku bertanya untuk ketiga kalinya barulah ia berkata: “Aku telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW dan beliau bersabda: ‘Perbanyaklah sujud (memperbanyak shalat sunnah)…’”[5]]

  1. Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami ra:

[Aku biasa bermalam (di sekitar rumah Rasulullah SAW guna berkhidmah menyiapkan – Pent.) air wudhu dan kebutuhan Rasulullah SAW. (Suatu malam) beliau bersabda kepadaku: “Mintalah!” Aku menjawab: “Saya memohon bisa menyertai engkau di surga.” Beliau SAW bersabda: “Kalau begitu, tolong aku agar bisa membawa dirimu (bersamaku) dengan banyak bersujud (banyak shalat sunnah).”[6]]

Masuk surga, jauh dari neraka, dicintai Allah, dan bahkan bisa menyertai Rasulullah SAW di surga. Ini semua adalah cita-cita yang sangat tinggi dan dimiliki oleh para sahabat. Arah kehidupan mereka hanyalah akhirat, meski kaki mereka masih menapak di dunia.

Meski tidak mungkin bisa menyamai amal para sahabat, kita perlu belajar untuk secara perlahan memiliki pemikiran dan cita-cita seperti mereka. Dalam kondisi apapun, kita harus menjadikan akhirat sebagai motivasi beramal agar amalan itu benar-benar maksimal dan berada pada level tertinggi dari kemampuan yang kita miliki. Sekedar sebagai contoh, dalam kehidupan membina berumah tangga, di antara cita-cita tinggi selain memiliki anak yang shaleh, juga harus memiliki cita-cita melahirkan banyak anak yang shaleh, sebagaimana tersurat dalam sabda Rasulullah Muhammad SAW:

تَزَوَّجُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ

“Nikahilah wanita yang penuh kasih sayang dan banyak melahirkan, karena sesungguhnya aku berlomba-lomba dengan kalian bersama umat-umat terdahulu.”[7]

Jika Rasulullah SAW merasa senang dan bangga dengan jumlah umat, tentu kelak pada hari Kiamat orang tua yang lebih banyak memiliki anak lebih berbangga daripada orang tua yang sedikit memiliki anak.

=والله يتولي الجميع برعايته=

[1]Q.S. al-Ahzab: 70

[2]Q.S. al-Hujurat: 13

[3]Q.S. al-Ankabut: 64

[4]H.R. Muslim no: 13

[5]H.R. Muslim no: 488

[6]H.R. Muslim no: 489

[7]H.R. Abu Dawud no: 2050