Puasa Memperkuat Benteng Menuju Kemenangan

Oleh: Bahtiar HS

Adalah Edward Lee Thorndike (1874-1949), seorang pendidik dan psikolog berkebangsaan Amerika, berpendapat bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dengan tindakan yang disebut respon. Ia terkenal dengan binatang uji coba kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup (puzzle box). Pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh.

Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and connecting” dalam belajar, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap respon menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan respon lagi, demikian selanjutnya.

Dalam percobaan tersebut, apabila di luar sangkar diletakkan makanan, maka kucing itu berusaha untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari. Dengan tidak sengaja kucing menyentuh kenop, sehingga terbukalah pintu sangkar tersebut, dan ia segera lari ke tempat makan. Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali.Setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12 kali, kucing baru dapat dengan sengajamenyentuh kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan.

Dari percobaan inilah Thorndike menemukan beberapa hukum belajar, di mana salah satunya adalah Hukum Latihan (Law of Exercise). Semakin sering tingkah laku diulang atau dilatih (digunakan), maka asosiasi atau koneksi (antara stimulus dan respon) tersebut akan semakin kuat. Prinsip Hukum Latihan adalah semakin sering dilakukan, maka semakin kuat koneksi antara rangsangan dan tindakan. Sebaliknya, semakin jarang atau malah dihentikan, maka koneksi itu akan melemah. Jadi, prinsip utama dalam belajar adalah “ulangan”.

Puasa dan Hukum Latihan

Puasa ramadhan adalah peristiwa ulangan. Ia datang setiap tahun, dan menjadi kewajiban sebagai seorang muslim untuk menjalankan ibadah puasa setiap ramadhan tiba.

Kita ibaratnya kucing dalam sangkar puasa menurut percobaan Thorndike. Pada saat kecil dulu, kita memang latihan puasa dalam arti sebenarnya. Kadang bedug zhuhur sudah berbuka, kadang berjumpa makanan mokel alias membatalkan puasa. Maklum masih latihan. Kita masih suka tersentuh-sentuh kenop ketika melihat rangsangan makanan sehingga pintu sangkar puasa terbuka, dan karenanya kita batal puasanya.

Namun, latihan setelah “latihan” puasa itu kita ulang tahun demi tahun, maka sekarang ini tentu bukan masa “latihan” lagi. Kita kini dengan sengaja menyentuh kenop puasa kita pada saatnya. Kita bisa mengendalikan diri untuk memutuskan kapan semestinya mengakhiri puasa kita, yakni saat berbuka tiba. Semakin sering kita berpuasa, maka sudah seharusnya semakin kuat kemampuan pengendalian diri itu.

Pada awalnya, umat Islam boleh memilih antara berpuasa atau membayar fidyah, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 184).

Namun kemudian pilihan tersebut dihapus dengan mewajibkan puasa itu sendiri bagi sekalian kaum muslimin dengan firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (Q.S. Al-Baqarah: 185).

Jadi ada semacam tahapan latihan dalam perintah syari’at puasa ini kepada umat Islam. Ketika belum terbiasa, syari’at itu tidak langsung diwajibkan, karena mungkin akan memberatkan mereka. Mereka boleh memilih antara berpuasa atau membayar fidyah. Namun ketika keyakinan mereka kuat, secara kejiwaan juga sudah siap, dan puasa sudah terbiasa, maka wajib bagi mereka kini berpuasa dan tidak ada pilihan yang lain – kecuali bagi yang sudah tidak kuat berpuasa (tua, sakit) atau dalam perjalanan (safar). Mereka harus menggantinya di waktu yang lain atau membayar fidyah.

Puasa Memperkuat Benteng

Apa yang diperkuat dalam syari’at puasa Ramadhan yang berulang tiap tahun ini?

Hal itu tersirat ringkas dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Puasa itu benteng atau perisai.” (Muttafaqun alaih).

Mengapa puasa itu disebut benteng atau perisai?

Mari kita kaji kedua kata ini: ash-shaum dan junnatun.

Shama-yashumu-shauman au shiyaman secara bahasa adalah “al-imsak” yang berarti “menggenggam erat, menahan, menjaga jarak, berpantang, dan berhenti”. Segala yang diam juga dikatakan sebagai shaum, karena diam artinya berhenti, menahan diri untuk tidak bergerak. Orang yang diam lisannya, yakni menahan diri dari berkata-kata, karenanya dikatakan juga sebagai “ash-shaim”, orang yang sedang diam, sedang shaum. Seperti ketika Maryam tidak berbicara kepada manusia:

إِنّي نَذَرتُ لِلرَّحمٰنِ صَومًا فَلَن أُكَلِّمَ اليَومَ إِنسِيًّا

“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (shaum) untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini. “ (Q.S. Maryam: 26)

Jadi, tidak berbicara dengan seorang manusia pun dalam konteks ayat ini juga disebut sebagai shaum.

Secara syariat, Imam Ibnu Hajar al-Atsqalani mengatakan bahwa shiyam berarti:

“Menahan secara khusus, pada waktu yang khusus, dari sesuatu tertentu, dengan syarat tertentu.” Shiyam itu menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri dan hal-hal yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Jadi shiyam itu tidak sekedar berpuasa; di mana puasa itu berasal dari upawasa (sansekerta) yang artinya hanya menahan diri untuk tidak makan dan minum saja. Tetapi,shiyam itu lebih holistik.

Sementara junnatun berarti benteng atau perisai. Secara filosofis, benteng atau perisai juga bermakna berhenti (perisai atau benteng yang tidak berhenti tentu tidak berfungsi) untuk menahan sesuatu yang mendesaknya, yakni laju serangan musuh, menjaga jarak dan berpantang dari musuh. Oleh karena itu, Ibnu Hajar menjelaskan maksud “benteng” atau “perisai” itu sebagaimana maksud perisai yang digunakan seseorang dalam peperangan. Ash-shiyamu junnatun kajunnati ahadikum minal qital.

Jadi, kedua kata ini nyaris sama artinya secara bahasa. Sehingga bisa dikatakan “ash-shiyamu kal junnatin”, shiyam itu laksana benteng atau perisai. Apa yang membuat keduanya sama? Ya, fungsinya tentu saja.

Nah, puasa dikatakan sebagai benteng / perisai, yakni benteng setidaknya dari 3 hal.

Pertama, benteng dari nafsu syahwat. Itulah mengapa dalam sebuah hadits yang ditujukan kepada para pemuda, Rasulullahbersabda,

يَامَعْشَرَالشَبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu, maka nikahlah. Sesungguhnya ia lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedangkan barangsiapa yang tidak mampu, maka berpuasalah, karena sesungguhnya puasa itu benteng baginya.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu)

Ada satu istilah menarik dalam hadits ini. Wija’ yang biasa diartikan juga benteng.Secara bahasa, wija’ adalah melumat urat-urat testis yang memproduksi testosteron itu tanpa mengeluarkannya. Dengan demikian, puasa diserupakan dengan “mengebiri”. Artinya, puasa bisa menjadi benteng yang bisa meluruhkan syahwat sekaligus melemahkan kecenderungan yang mengarah pada syahwat tersebut. Dengan berpuasa, nafsu syahwat menjadi kuthu’ (kata orang Jawa). Jinak, tidak liar.

Kedua, benteng dari perbuatan maksiat. Maksiat berasal dari kata ‘asha – ya’shi – ma’shiyatan artinya durhaka, lawan dari patuh. Orang dikatakan bermaksiat manakala ia tidak melaksanakan perintah Allah, melanggar larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya. Dan tempatnya di neraka. Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (Q.S. An-Nisa: 14)

Dalam sebuah hadits, Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَيَجْهَلْ وَاِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقٌلْ إِنِّيْ صَائِمٌ مَرَّتَيْن

“Puasa itu benteng.Maka janganlah berkata keji dan jangan berbodoh diri.Jika seseorang menentang atau memakinya, maka hendaklah ia berkata, ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa’sebanyak 2 kali.” (H.R. al-Bukhari)

Demikianlah puasa menjadi benteng bagi seorang muslim dari berbagai bentuk kemaksiatan. Baik kemaksiatan tangan, kaki, mata, lisan/mulut, maupun telinga. Puasa melatih pelakunya untuk menghindari perbuatan-perbuatan maksiat yang mampu menghilangkan pahala puasa. Banyak hadits yang mengancam mereka yang berpuasa tetapi tidak meninggalkan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, seperti:“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (ketika berpuasa) dan tetap melakukannya, maka Allah tidak butuh untuk memberikan pahala karena meninggalkan makan dan minumnya (berpuasa).” (H.R.al-Bukhari)“Banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapat pahala puasanya melainkan hanya (pahala menahan) lapar dan dahaga saja.” (H.R.al-Hakim)

Demikianlah, puasa mampu menjadi benteng dari perbuatan maksiat. Jika seseorang tetap berbuat maksiat, maka sama ibaratnya ia merusak bentengnya sendiri. Dan itu berarti merusak puasanya (baik fungsinya maupun pahalanya).

Ketiga, benteng dari api neraka. Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu meriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدْ مِنَ النَّارِ

“Puasa itu benteng, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka.” (H.R. Ahmad)

Ini benar-benar benteng yang melindungi kita yang berpuasa dari jilatan api neraka kelak di akhirat. Sebagai muara dari suksesnya kita menahan nafsu syahwat dan perbuatan maksiat selama di dunia. Karena itu, Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa junnatun juga bermakna “as-satru” (menutup) atau “al-wiqayah” (memelihara diri), yakni bahwa puasa itu merupakan ibadah yang mampu menutup dan memelihara diri kita dari api neraka.

Penutup

Demikianlah, semoga kita semua mampu menjadikan puasa itu benar-benar sebagai benteng atau perisai yang kokoh. Karena ketika perisai atau benteng itu kita perlemah sendiri dengan merusaknya, yakni ketika berpuasa masih bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sama halnya kita merusak fungsi puasa sebagai benteng atau perisai itu sendiri. Jika sesuatu telah rusak, maka apa lagi yang bisa kita harap darinya?

Syariat puasa Ramadhan yang terus datang setiap tahun ini hendaknya mampu menjadikan law of exercise (hukum latihan) puasa kita sukses, yakni semakin bertambah usia kita dengan setiap tahun berpuasa Ramadhan dengan diiringi dengan iman dan niat yang ikhlas, maka semakin memperkuat keimanan kita, memperkokoh kemampuan mengendalikan diri kita dari nafsu syahwat dan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika ini yang terjadi, maka insyaAllah kita akan menjadi hamba yang berhak memperoleh kemenangan dalam berpuasa di bulan Ramadhan ini dan mendapatkan qabul (penerimaan atas amal dan ibadah) dari Allah subhanahu wata’ala.

Taqabbalallahu minna waminkum.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

[]