Ramadhan Mengantarkan Manusia Kembali Kepada Fitrah

Reportase

Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, M.Com.

Ketua Lembaga Pengabdian, Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Masyarakat (LP4M) Universitas Airlangga

Momen ibadah puasa di bulan Ramadhan selalu hadir tiap tahun. Jutaan umat Islam di berbagai penjuru dunia pun menyambut dan mengisinya dengan berbagai ragam cara. Selain merupakan bagian dari salah satu rukun Islam, puasa di bulan Ramadhan memiliki esensi yang luar biasa, utamanya menjadi benteng bagi setiap individu yang mengamalkannya. Benteng tersebut bisa berupa melindungi dari berbagai laku yang tercela, kemaksiatan, dan nafsu syahwat. Tidak hanya itu, puasa ternyata juga bagian dari upaya untuk mengembalikan fitrah dari diri manusia.

Kali ini reporter Majalah Al-Haromain Nuri Hermawan berhasil berbincang seputar makna puasa sebagai benteng dan cara untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya dengan Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, M.Com. Beliau adalah Ketua Lembaga Pengabdian, Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Masyarakat (LP4M) Universitas Airlangga. Berikut petikannya:

Bagaimana Prof. Jusuf memaknai hakikat ibadah puasa di Bulan Ramadhan?

Hakikat puasa bagi saya sebenarnya adalah upaya untuk memenuhi fitrah manusia, yaitu kesucian. Selain itu, puasa ini juga upaya kita sebagai manusia menjaga fitrah itu sendiri, yaitu menjaga kesucian. Makanya di penghujung Ramadhan nanti kita diberi sebuah keistimewaan berupa hari raya yang menjadi simbol bahwa kita kembali suci seperti bayi yang baru lahir. Intinya hakikat puasa itu untuk menuju kesucian dan ketaqwaan.

Selanjutnya bagaimana Prof. Jusuf memaknai puasa itu sendiri?

Sebelumnya saya akan jelaskan, sebagai orang yang mempelajari dan bergelut pada dunia Sumber Daya Manusia (SDM), inti dari pengembangan SDM adalah memberi interferensi dalam berbagai bentuk. Satu orang itu dilatih dari tidak bisa menjadi bisa, selanjutnya dididik dari tidak tahu menjadi tahu, lalu diberdayakan dari tidak berdaya menjadi berdaya. Itu interferensi kepada manusia. Tapi sebaik-baik interferensi yaitu menjadikan seseorang yang tidak punya pilihan menjadi memiliki pilhan. Nah, ini sunnatullah.

Allah SWT. sudah memberikan kita kelonggaran untuk memilih yang buruk atau yang baik (Q.S. asy-Syams). Dalam memilih hal itu, tentu setiap manusia tidak asal-asalan. Nah, Allah melalui Nabi mengajarkan kita semua untuk itu. Akhirnya apa, Ramadhan ini sebaik-baik interferensi untuk mengantarkan manusia. Mau puasa atau tidak memang tidak ada paksaan, tapi ini diwajibkan. Orang yang sudah berpikir dalam, puasa tidak hanya berpikir manfaat sehat atau yang lainnya, tapi karena lilLah.

Lalu, bagaimana pandangan Prof. Jusuf mengenai salah satu fungsi puasa sebagai benteng dari berbagai hal buruk, seperti maksiat dan terlalu menuruti nafsu dunia?

Manusia itu memang diberi nafsu yang juga diimbangi dengan akal. Tidak cukup dengan akal, manusia disertai iman dan ihsan. Bulan Ramadhan ini memang menjadi salah satu kesempatan yang baik untuk kita berusaha mengatur antara nafsu, iman, ihsan dan amal.

Dengan Ramadhan ini kan banyak iming-iming dari Allah SWT. Tapi saat kita berpikir lebih dalam dan lebih jauh, maka kita akan mengetahui bahwa apa yang menjadi perintah dan larangan ini adalah yang terbaik untuk kita. Jadi selepas Ramadhan ini, hal-hal yang kita jaga akan bisa terpelihara hingga datangnya Ramadhan ke depan. Saat pelaporan amal nanti di bulan Sya’ban, kita tetap terpelihara. Begitu seterusnya.

Sesuai firman Allah SWT. dalam surat Al-Baqarah ayat 183, bahwa ujung dari ibadah puasa adalah taqwa. Bagaimana Prof. Jusuf memandang ayat ini?

Seperti yang saya katakan di awal bahwa Ramadhan ini lebih dari sekedar pelatihan, tapi Ramadhan sebagai bentuk untuk mengantarkan manusia kembali kepada fitrah yang sesungguhnya. Intinya mengantarkan kita pada kesucian dan ketaqwaan.

Secara pribadi, manfaat apa saja yang Prof. Jusuf dapatkan dari perjalanan ibadah puasa di Bulan Ramadhan selama ini?

Manfaat besar yang dapat saya rasakan adalah bahwa saya semakin merasa kita ini bukan apa-apa. Saat bisa dekat dengan Allah, saya semakin bisa merasakan bagaimana nikmatnya menjaga kesucian.

Seperti yang saya katakan tadi bahwa Ramadhan ini menjadi jalan untuk memilih jalan baik dan buruk. Dan saat jalan kebaikan yang kita pilih ini semoga bisa mengantarkan kita kepada perjumpaan kepada Allah SWT.

Bagaimana Prof. Jusuf mengendalikan diri dan mengupayakan puasa benar-benar sebagai benteng?

Ya, kita kembali pada Nabi Muhammad SAW. Misal saat kita marah, ya kita berwudhu, saat berbuat salah istighfar, saat berbuat dosa besar ya taubatan nasuha. Lebih dari itu kita harus berpikir dampak; dampak bagi individu, keluarga, bangsa dan agama, dan dampak ke depan bagaimana dan seperti apa ini yang harus dipikirkan. Dengan ini kita akan terus belajar untuk bisa lebih berhati-hati.

Agama ini kan mengajarkan banyak hal. Islam ini sistem yang mengajarkan hal yang sangat universal. Maka saat ada hal-hal yang ingin kita ucapkan, pikirkan lagi manfaat dan efeknya. Kalau tidak baik, ya ditahan, diam!! Jika baik, maka silakan disebarkan.

Biodata Singkat

Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com. adalah Guru Besar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. Beliau juga merupakan salah satu dosen pada Departemen Ilmu Administrasi FISIP UNAIR. Saat ini beliau diamanahi menjadi Ketua Lembaga Pengabdian, Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Masyarakat (LP4M) UNAIR.