Rasa Hidup

Oleh | Ayyub Syafii

ilustrasi-bersyukur‘Rasa Hidup’ memang macam-macam. Bukan cuma asam, manis, asin, tapi juga getir, pahit, pedas, dan pedih. Itu memang sudah menjadi sunnatullah.

Setiap hari ada banyak peristiwa yang terjadi di muka bumi ini. Ada peristiwa atau kejadian yang membuat dahi berkernyit, hati gelisah, sedih, atau putus asa. Begitulah Allah subhanahu wata’ala menjadikan takdir-Nya sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya agar manusia pandai mengambil pelajaran.

Orang bilang, peristiwa kematian dan kehilangan adalah hal yang menyedihkan, sementara keberhasilan dan kemenangan adalah hal yang membahagiakan. Ada manusia yang menangisi kematian ayah, suami, atau anaknya. Ada yang bersedih kala kehilangan mata pencaharian atau barang yang disayangi. Dan pada saat yang bersamaan, ada manusia lain yang tertawa dan gembira karena lulus ujian, mendapat promosi jabatan, atau mendapat rezeki nomplok.

Menunjukkan ekspresi jiwa kala mencicipi ’rasa hidup’ memang tidak dilarang. Boleh-boleh saja, bahkan menjadi hak setiap orang. Siapa yang punya wewenang melarang manusia menangis dan tertawa? Rasulullah shallollohu alahi wasallam pun menitikkan air mata kala Ibrahim mudanya diambil Allah dan tersenyum gembira kala bercanda dengan istrinya.

kolom-syukuri-apa-yang-ada-948_lMemang terlarang jika manusia tenggelam dalam rasa hidup sepenuh rasa, sepenuh pedih, sepahit pahit, getir yang sangat getir, atau gembira kelewat ria. Mengapa? Sebab, selain untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, Allah subhanahu wata’ala memberikan kesempatan pada manusia mencicipi aneka rasa hidup untuk melihat kadar imannya. Manusia beriman tebal tak akan sepenuh sedih dan gelisah walau tak berkantong tebal, dan tak menjadi gembira histeria ketika meraih sukses. Ia tak menggantungkan kondisi jiwa pada ‘rasa’ apa yang menimpanya, sebab ia selalu pandai menyikapi setiap ‘takdir’. Mendapat keberhasilan ia bersyukur dan kala ditimpa kesulitan ia bersabar. Adakah manusia yang lebih baik keadaannya dari mereka yang pandai mensyukuri nikmat dan pandai pula menyabari musibah? Sungguh ajaib keadaan orang beriman!

Karena itulah, Rasulullah shallollohu alaihi wasallam tidak pernah mengkhawatiri kemiskinan dan kekayaan para sahabatnya. Ia yakin, para sahabatnya adalah manusia-manusia utama yang tak akan menjual iman dan harga diri dengan harga dunia.

Ia tahu betul, para sahabatnya adalah manusia yag tak perlu ‘subsidi’ dan ‘tunjangan’ untuk memperkokoh imannya. Maka, dalam setiap kali pembagian ghanimah –harta yang diperoleh setelah perang- Rasulullah mengutamakan muallaf dari sahabat-sahabatnya. “Untuk kalian, aku percayakan pada Allah semata,” kata beliau.

Ia pun yakin, para sahabat utamanya adalah manusia yang tak akan lupa daratan dan memperkaya diri sendiri kala kesuksesan dan keberhasilan datang menghampiri. Ia tahu, dari tangan yang tengah menggenggam kebahagiaan dunia itu akan mengalir sedekah dan infak yang mendatangkan berkah bagi masyarakat di sekelilingnya. Sungguh ajaib keadaan orang beriman, memang!

Kelemahanku Sumber Kekuatanku

Ketika Fir’aun terjebak dalam situasi genting. Ketika tubuhnya tak mampu menghadapi tamparan dan hempasan ombak yang menggulung dan melempar-lemparkan tubuhnya bak seonggok mainan. Ketika itu, kesadaran dan kejujurannya terkuak. Kesombongannya hancur, kemunafikan dan kebohongannya hilang. Nurani dan fitrahnya menyeruak sampai akhirnya ia mengaku beriman kepada Allah subhanahu wata’ala. “Amantu birabbi muusa wa haaruun.” Aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.

Di saat-saat sempit. Ketika seseorang merasa tidak berdaya menyelamatkan diri dari ancaman bahaya. Di saat manusia dibenturkan dengan kondisi yang sulit. Di antara sengal napas kepayahan dan kecemasan. Biasanya di kala itu kedekatan dan kepasrahannya semakin kuat kepada Allah. Di kala itulah ketergantungan tulus lahir dan hanya diberikan kepada Allah subhanahu wata’ala. .

Suasana itulah yang dialami Fir’aun. Dan itulah tabit manusia. Baru merasa kebutuhan yang amat sangat tinggi tatkala diri merasa tak mampu berbuat menghadapi realita. Baru merasakan sangat bergantung kepada Allah, ketika merasa tak mungkin lagi mencari jalan selamat dari problem. Kondisi tercekam, mencekik, mentok, kerap memunculkan kesadaran fitrah akan kebutuhan perlindungan Allah subhanahu wata’ala. .

Kita tak perlu mengalami kondisi seperti itu, untuk kemudian buru-buru bergantung penuh kepada Allah. Haruskah kita melewati masa-masa sulit yang serba dilematis, sangat terancam bahaya, baru kemudian merasa butuh dan bersandar kepada Allah? Pernahkah kita merenungkan bahwa sebenarnya, sepanjang hidup, manusia selalu dalam kondisi dilematis, sangat terancam bahaya, terbentur ketidakberdayaan, terpepet oleh bayangan musibah dan petaka?

Manusia sebenarnya selalu dalam kondisi kepepet dan terbentur oleh problem berat yang tak mungkin diantisipasi. Pandanglah tubuh kita. Kita akan dapati tiap bagian tubuh ada jalan atau lubang yang rawan bagi datangnya penyakit. Mata, telinga, hidung, kulit, mulut, kaki, tangan. Semuanya rentan oleh luka dan penyakit. Belum lagi ditambah penyakit dalam seperti tumor, kanker, dan semacamnya yang seringkali nyaris tidak terasa keberadaannya, namun sangat berbahaya.

Itulah manusia. Tubuhnya rentan penyakit. Ibarat kota terbuka yang setiap saat dan dari segala arah dapat diserang dan dirobohkan, tubuh kita nyaris tak mampu membuat perlindungan yang menjamin keselamatannya.

Ketergantungan kepada Allah (ta’alluq billah) harusnya muncul tak hanya ketika seseorang diuji oleh masalah berat. Jangan menunggu menghadapi kondisi yang sangat memukul. Tak perlu menanti sampai kita jatuh terpuruk hingga tak berdaya menghadapi berbagai ujian. Ketergantungan pada Allah, rasa pasrah, tawakkal, bersandar penuh atas kehendak Allah harus ada setiap saat. “Ketahuilah, takdir itu tidak berjalan menurut rencana kita, bahkan kebanyakan terjadi adalah apa yang tidak kita rencanakan, dan sedikit sekali terjadi ada yang kita rencanakan,” ujar Ibnu Athaillah.

Yang dimaksud Ibnu Athaillah tentu bukan mengabaikan usaha apapun untuk diserahkan sepenuhnya pada kehendak Allah. Karenanya, beliau mengiringi ucapannya itu dengan ucapan Inna tasabbub laa yunaafi tawakkul. Sesungguhnya mengusahakan sebab musabab itu tidak menafikan tawakkal.

Manusia memang lemah. Allah lah yang membuat kelemahan itu menjadi kuat. Dengan begitu, kita mengerti kenapa ulama Turki, Badi’uzzaman Said An-Nursy, memiliki prinsip yang berbunyi: “Kanzi ajzii”. Sumber kekuatanku adalah kelemahanku. Karena pada kelemahan itulah, sandaran pada Allah semakin kuat, sehingga, suplai tenaga dan keyakinan itu bertambah.

Wallahu a’lam. []