Realisasi yang Sempurna Q.S. al-Baqarah:196

 

 Oleh: K.H. M. Ihya’ Ulumiddin

Aminul ‘Am Persyada alHaromain

Pengasuh Ma’had Nurul Haromain Pujon – Malang

 

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ ِللهِ …

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah…”

 Analisa Ayat

Ibadah haji selama tidak ada halangan, maka harus dilaksanakan secara sempurna dan paripurna yang secara zhahir terlihat dengan menjalankan seluruh manasik haji seperti yang diajarkan oleh baginda Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam: “Ambil dariku manasik (haji) kalian”.  Sekaligus juga secara batin dengan hati yang tulus ikhlas karena Allah semata tanpa ada tujuan agar bisa bekerja atau berdagang. Tanpa ada niat pamer (riya’) dan mencari popularitas (sum’ah).

 Ini bukan berarti ketika berhaji seseorang tidak diperbolehkan berdagang. Sungguh berdagang tetaplah sah dilakukan asal itu tidak menjadi tujuan utama, melainkan hanya sekedar sambilan. “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu… “[1]

 Adapun riya’, ketika ia menjadi motivasi berhaji, maka haji berubah status dari sebagai amalan ketaatan menjadi amalan penghasil dosa bagi pelakunya. Inilah risiko yang harus diterima oleh seorang yang pergi haji agar dipanggil Pak Haji atau agar kelak saat kedatangan dari tanah suci disambut dengan perayaan. Adalah hal yang mesti dimengerti bahwa sejarah Indonesia masa silam memberikan predikat Pak Haji adalah karena sekian banyak faktor perubahan dalam diri seorang yang telah menjalankan ibadah haji. Ia menjadi orang baik dan bertambah baik meski sebelumnya bukan termasuk orang baik atau hanya memiliki kebaikan dengan kualitas rendah. Ia menjadi orang yang pandai dan semakin pandai meski sebelumnya ia termasuk orang bodoh atau hanya memiliki kepandaian biasa-biasa saja. Ini karena haji zaman dahulu tidak dibatasi oleh waktu bermukim di Makkah. Mereka bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun tinggal di Makkah di mana jeda waktu selama itu mereka manfaatkan untuk mengaji dan belajar kepada para imam dan ulama di Masjidil Haram yang kala itu menjadi sentra ilmu di Makkah.

 Haji juga menjadi tidak memberikan manfaat kepada orang yang melaksakannya jika ia memaksakan diri berhaji dengan memperoleh pinjaman secara riba atau melakukan sekian banyak kemungkaran demi bisa berhaji atau ketika berhaji ia sama sekali tidak menghayati rukun-rukun dan manasik haji. Hal ini sama halnya dengan orang yang shalat, tetapi hatinya sama sekali tidak menghayati gerakan shalat atau sama sekali hatinya tidak khusyu’.

Ibadah haji telah dikenal sejak zaman jahiliyyah, bahkan jauh sebelumnya, yaitu pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang kemudian oleh Islam diakui setelah macam dan warna kesyirikan bisa dihapuskan dari sekitar Baitullah. Dan bukan hanya diakui, tetapi sekaligus juga diwajibkan bagi orang yang mampu.

Dalam sejarah Islam, haji secara resmi dilaksanakan oleh kaum muslimin pada tahun 9 Hijriyyah dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu sebagai Amir Haji. Jadi beliaulah orang yang tercatat sebagai Amirulhajj pertama kali dalam sejarah Islam. Haji ini sebagai persiapan haji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di musim haji tahun berikutnya. Ketika itulah Abu Bakar radhiyallahu anhu mengumumkan agar setelah tahun ini tidak  ada seorang pun orang musyrik yang berthawaf di Baitullah.

Terkait dengan firman Allah, “Dan sempurnakanlah haji dan umrah…” terdapat ajaran agar ketika telah memiliki komitmen dan kesanggupan tertentu, maka sangat dianjurkan (berdasarkan bahasa perintah “dan sempurnakanlah”  yang pada prinsipnya memiliki makna kewajiban) untuk dilaksanakan secara sempurna dan tidak setengah-setengah atau asal-asalan. Para ahli tasawwuf mengatakan:

Jika seorang murid telah mengikat akad dengan Tuhannya (untuk bisa wushul kepada-Nya), maka wajib baginya menyempurnakan akad tersebut sampai memberikan buahnya. Jika seorang murid telah melakukan akad shuhbah (kebersamaan) dengan syekh atau gurunya, maka ia harus terus memberikan pelayanan (khidmah) kepada sang guru sampai sang guru memasukkannya ke dalam baitul hadhrah dan bersaksi untuknya bahwa ia kini telah mampu memberikan pengarahan (tarsyid) atau mampu menjadi seorang mursyid. Jangan sampai seorang murid terburu-buru mendapatkan futuh sebelum waktunya. Sungguh telah dikatakan dalam hikmah:

مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ

Barang siapa terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum masanya, maka ia akan disiksa dengan terhalang dari sesuatu tersebut.”

Sungguh ketika seorang tidak teburu-buru. Mau bersabar untuk terus berjalan, maka pasti akan sampai di tempat tujuan. Jika ia tidak tergesa-gesa untuk pulang kembali dan terus mengetuk pintu, niscaya ia dipersilahkan masuk begitu pintu tersebut terbuka. Ibarat orang yang menggali sumur yang bila terus berpindah-pindah dalam menggali, maka ia tidak akan pernah mendapatkan air. Begitu pula halnya dengan orang yang tidak mau bersabar dan lebih memilih bersikap terburu-buru (isti’jaal).

Ketika seorang yang menyempurnakan haji dan umrah mendapatkan buah manis berupa status haji mabrur yang tidak ada balasan baginya kecuali surga dan terbebas dari dosa seperti baru saja dilahirkan oleh ibundanya, seorang yang secara sempurna berkhidmah kepada sang guru, maka guru akan mengantarkannya kepada kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat, kemuliaan di hadapan Allah . Sungguh telah dikatakan:

شَرَفُ الْخَادِمِ بِشَرَفِ الْمَخْدُوْمِ

Kemuliaan pelayan tergantung kemuliaan orang yang dilayani.”

Nabi Musa alaihi salam terlahir dari kalangan rakyat jelata. Akan tetapi, perjalanan waktu pun memberikan jawaban indah. Ia berhasil menjungkirbalikkan kekuasaan Fir’aun dan membebaskan Bani Isra’il dari penjajahan dan penindasan. Ia berhasil menjadi seorang pahlawan kemerdekaan bangsa Isra’il kala itu. Sebesar apakah jasa Nabi Musa terhadap bangsa Isra’il kala itu dan penghargaan seperti apakah yang semestinya harus beliau terima, gambarannya bisa kita saksikan dengan keberadaan para pahlawan kita.

Ternyata sebelum mampu menorehkan catatan indah tersebut, Nabi Musa shallallahu alaihi wasallam telah menjalani proses yang begitu panjang dan salah satunya adalah mengabdi dan melayani seorang hamba Allah yang shalih, yaitu Nabi Syu’aib alaihi salam dalam rentang waktu yang cukup panjang; delapan hingga sepuluh tahun. Kisah ini diabadikan dalam firman Allah subhanahu wata’ala berfirman:

إِنِّيْ أُرِيْدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَي ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِيْ ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكِ…

“Berkatalah dia (Syu’aib ): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua puteriku ini atas dasar kamu bekerja denganku delapan tahun, dan jika kamu sempurnakan sepuluh tahun, maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu…”[2]

Jadi, kemampuan yang dimiliki dan derajat tinggi Nabi Musa alaihi salam bukan semata-mata karena beliau memang ditunjuk Allah sebagai Rasul-Nya, tetapi secara alamiah beliau telah mengikuti proses aturan Allah di bumi ini, yaitu berkhidmah kepada guru yang shalih yang menjadi salah satu syarat meraih kemuliaan hidup di masa depan. “…dan sesungguhnya diriku insya Allah termasuk orang shalih.”

Berdasarkan prinsip ini, maka seorang santri tidak boleh mengambil sikap secara sendiri dalam menentukan perjalanan hidupnya di masa depan. Adalah bagian dari menjalankan perintah kesempurnaan apabila dirinya berpasrah sepenuh hati kepada sang guru. Dalam segala hal ia harus berusaha untuk tidak memiliki pilihan dan tidak mengambil pilihan kecuali yang telah dipilihkan guru untuknya. Bahkan jika mungkin dalam urusan perjodohan sekalipun. Ingatlah kepada Barirah yang meski begitu membenci Mughits, akan tetapi ketika Rasulullah  bersabda agar ia mau kembali menerima Mughits, ia berkata: “Apakah ini perintah atau hanya sekedar anjuran?” “Ini hanya sekedar anjuran,” jawab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jika saja beliau menyatakan ini perintah, niscaya Barirah akan menerima Mughits sama halnya ketika Zainab binti Jahsy menerima dinikahi oleh Zaid bin Haritsah ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan hal tersebut. Padahal dalam hati Zainab tak ada sedikit pun rasa suka kepada Zaid.

Sekali lagi, inilah bentuk kesempurnaan yang pernah ditampilkan oleh para sahabat dalam ber-shuhbah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dalam perintah “Dan sempurnakanlah…” juga terdapat isyarat agar seseorang yang mendambakan buah manis menyiapkan diri secara fisik dan mental untuk menerima sesuatu hal yang disebutkan dengan kesanggupan-kesanggupan atau iltizaamaat yang secara garis besar terwujud dalam dua hal:

  1. Iltizaamaat Qauliyyan. Kesanggupan yang berupa ucapan-ucapan atau bacaan-bacaaan wirid di mana yang paling utama adalah wirid Al-Qur’an serta wirid-wirid lain yang telah ditentukan oleh jamaah. Misalnya Hasbanah Lathifiyyah, shalawat setiap hari minimal seratus kali, atau bahkan jika mungkin, maka seribu kali.
  2. Iltizaamaat Amaliyyan. Kesanggupan untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Selain dalam ayat di atas (Q.S. Al-Baqarah: 196), perintah menjalankan sesuatu secara sempurna juga terdapat dalam firman Allah tentang menyempurnakan puasa: “…kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam…  “[3]. Juga perintah Allah agar seorang ibu secara maksimal menyusui bayinya: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan….“[4].

Bila menyempurnakan haji memiliki sekian banyak keuntungan, maka menyempurnakan ASI untuk anak juga memiliki sekian banyak keuntungan yang salah satunya diisyaratkan oleh Rasulullah  ketika menjawab pertanyaan Abu Bakar . Abu Bakar bertanya: “Saya tidak melihat manusia yang fasih berbicara seperti engkau, wahai Rasulullah?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَمَا يَمْنَعُنِي وَأَنَا مِنْ قُرَيْشٍ  وَأُرْضِعْتُ فِى بَنِي سَعْدٍ

Apa yang mencegahku dari hal itu? Sementara aku berasal dari Quraisy dan disusui di Bani Sa’ad.” (Lihat Sirah Nabawiyyah fi Dha’u al Kitab wa al Sunnah, hal 191, Dr. Muhammad Abu Syuhbah).

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]Q.S. al-Baqarah: 198

[2]Q.S. al-Qashash: 27

[3]Q.S. al-Baqarah: 187

[4]Q.S. al-Baqarah: 233