Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Riba Menciptakan Kesenjangan Sosial | LAZIS AL HAROMAIN

Riba Menciptakan Kesenjangan Sosial

Oleh : Bahtiar H. Suhesta

Alumnus Chartered Islamic

Finance Profesional CIFP-INCEIF

Kuala Lumpr Malaysia

Dalam edisi terdahulu sudah disampaikan tentang bagaimana riba menjadi penyebab utama inflasi, yang pada gilirannya tidak membuat perekonomian bertumbuh, melainkan justru menimbulkan dampak buruk perekonomian masyarakat secara luas. Suku bunga –di mana bunga termasuk kategori riba—naik ataupun turun semuanya ternyata membuat laju inflasi naik sehingga daya beli masyarakat menurun, permintaan barang menurun, produksi menurun, sehingga PHK meninggi, dan tentu saja meninggi pula tingkat pengangguran.

Di samping itu, dalam masyarakat yang mempraktikkan riba, maka pemberi modal (semisal bank) menjadi pihak yang pasti menerima keuntungan atau pendapatan tanpa perlu bekerja dan tanpa mau tahu apakah para peminjam dana mereka memperoleh keuntungan atau tidak. Seorang ekonom Jerman, Dr. Schacht Hjalmar, pernah mengatakan, “Berdasar hitungan matematika, bahwa harta di dunia akan dikuasai oleh segelintir orang pemberi modal dalam bentuk riba, karena ia tak akan pernah mengalami kerugian.”

Nah, bila peminjam dana memperoleh keuntungan layak dari bisnis yang dijalankan dari hasil pinjaman dana yang ia lakukan, maka persoalan ketidakadilan mungkin tidak terjadi. Tetapi, siapa yang bisa menjamin bisnis seperti peribahasa “ke sawah tidak berlubuk, ke ladang tidak berarang”, selalu untung terus? Tentu tidak ada.

Dalam hal bisnis peminjam modal bankrut merugi, mereka masih juga harus membayar kembali dana modal yang dipinjamnya berikut bunga pinjamannya. Dalam keadaan seperti ini, para peminjam modal seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula. Di sinilah terjadi ketidakadilan antara peminjam dan pemberi pinjaman.Bahkan jika peminjam tidak mampu mengembalikan pinjaman berikut bunganya, maka jaminannya akan disita untuk menutupi pinjamannya. Bahkan dalam masa terdahulu, jika jaminan belum cukup menutupi pinjaman, maka mereka merampas hak kemerdekaan para peminjam dengan menjadikannya sebagai budak yang diperjualbelikan.

Hal demikian menjadikan para peminjam yang gagal bayar ini menjadi tidak lagi memiliki rumah tempat tinggal, lahan bercocok tanam, atau aset lain untuk berusaha, karena semua sudah disita oleh pemberi pinjaman, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka terpaksa mendapatkannya melalui tindak kejahatan.

***

Di sisi lain, sistem ekonomi berbasis riba juga menjadi penyebab utama terjadinya ketidakseimbangan antara pemberi modal dengan para peminjam. Penyimpan uang di bank-bank yang ada sebagian besar berasal dari golongan menengah ke bawah. Mereka adalah para “pemodal” bagi bank untuk disalurkan dalam berbagai bisnis. Sementara, para peminjam dana bank ini –tentu dalam jumlah besar—adalah para pebisnis golongan industri besar dan raksasa (konglomerat), yang bankable (dipercaya bank) karena mampu memberikan jaminan yang juga besar bagi risiko yang mungkin terjadi. Keuntungan dari bisnis mereka tentu juga besar, sehingga dari sana cukup untuk membayar pinjaman modal plus bunga pinjaman yang relatif kecil dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh.

Dari sudut ini terlihat jelas, bagaimana keuntungan besar yang diterima para konglomerat dari hasil pinjamannya ke bank tidaklah setimpal dirasakan oleh para masyarakat menengah ke bawah. Karena ketidakmampuan mereka diterima bank untuk mendapatkan pinjaman (unbankable), jadilah mereka hanya menjadi penyimpan dana saja di bank (penabung). Padahal itu berarti, mereka inilah yang justru menjadi “pemberi modal” para konglomerat itu.

Dari sini jelas akan terjadi: yang besar makin besar, yang kecil tetap saja kecil. Padahal gara-gara sumbangan yang kecil inilah justru yang besar menjadi besar. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Tentu hal ini menimbulkan kesenjangan sosial yang makin menganga di masyarakat.

***

Dengan dasar pikiran seperti itu, maka di dalam negara dengan mayoritas umat Islam, ada satu bencana di mana harta kaum muslimin berpotensi berada dalam genggaman segelintir orang lain; yang itu bisa dipastikan kebanyakan bukan sesama saudara kaum muslimin. Kebanyakan kaum muslimin menjadi penabung pada bank-bank konvensional utamanya, yang itu ribawi, sementara dana mereka yang terkumpul tersebut dipakai oleh segelintir konglomerat untuk keperluan bisnis mereka. Tidak ada efeknya sama sekali kepada kaum muslimin, kecuali menjadikan kita semua konsumen atas produk-produk mereka. Padahal, usaha mereka didanai dari harta kaum muslimin yang disimpan di bank-bank tersebut. Lebih dari itu, riba merupakan perantara untuk menjajah negeri-negeri Islam. Sebuah pepatah mengatakan, “Penjajahan itu senantiasa berjalan mengikuti para pedagang dan tukang fitnah.”

Contoh konkrit, Angola, sebuah negera di Afrika Barat, setelah mendapatkan “bantuan” teknologi dan keuangan (yang sangat mungkin berbasis pinjaman ribawi) dari China memang maju pesat. Tetapi cengkeraman ekonomi negara tirai bambu itu menjadi sangat kuat di Angola. Namun, Angola menjadi negara pertama yang secara resmi memberlakukan pelarangan terhadap agama Islam di mana masjid menjadi bangunan yang terlarang, al-Qur’an dilarang keberadaannya, demikian juga aktivitas-aktivitas keagamaan muslim. “Inilah akhir pengaruh Islam di negara kami,” kata Presiden Angola, Jose Eduardo. Berbagai pengamat meyakini bahwa pelarangan ini akibat dominasi ekonomi China yang sangat kuat telah mempengaruhi kebijaksanaan negeri itu.

Hal yang sama juga terjadi di Zimbabwe. Negara itu mengumumkan untuk menggunakan Yuan (mata uang China) sebagai mata uang sah di negara tersebut. Hal ini menyusul penghapusan utang Zimbabwe yang telah jatuh tempo sebesar USD 40 juta (sekitar Rp 554 Miliar) kepada China. Yuan menjadi mata uang resmi di negara tersebut selain Dolar AS dan Rand Afrika Selatan. Sementara, mata uang Zimbabwe sendiri (Dolar Zimbabwe) tidak lagi dipakai karena hiperinflasi pada 2009. Bayangkan, 1 USD sama dengan 35.000.000.000.000.000 Dolar Zimbabwe atau 35 ribu Triliun.

Jelas, dampak Riba begitu luar biasa bagi masyarakat dan negara. Segera tinggalkan riba dan sisa riba kita semua. Bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Apabila telah marak perzinaan dan praktik ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (H.R. al-Hakim).

Wallahu a’lam.