Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Riba Penyebab Utama Krisis Global | LAZIS AL HAROMAIN

Riba Penyebab Utama Krisis Global

Oleh: Bahtiar HS

Alumnus Chartered Islamic

Finance Professional CIFP-INCEIF

Kuala Lumpur Malaysia

Dalam 2 edisi terdahulu sudah disampaikan tentang dampak riba terhadap inflasi dan kesenjangan ekonomi. Riba dalam praktik sehari-hari yang kita temui adalah pemberlakuan bunga atas pinjaman yang menjadi dasar operasionalisasi sistem perbankan konvensional. Suku bunga yang tidak tetap, naik turun seiring naik turunnya suku bunga yang ditetapkan bank sentral, menjadi pemicu masyarakat, pelaku ekonomi, dan bahkan penyelenggara negara dalam mengambil berbagai keputusan finansial.

Ketika suku bunga turun, hal ini mendorong mereka mengambil kesempatan untuk mendapatkan dana yang “murah” berupa pinjaman dalam bentuk apapun (diberi istilah keren “kredit”). Dan ketika suku bunga naik, mereka akan berusaha melepaskan beban pinjaman itu sesegera mungkin untuk menghindari kewajiban yang terus meningkat, termasukjika terpaksa menjual aset yang dimiliki untuk melunasinya. Kalau tidak, mereka menjadi pihak yang gagal bayar (diberi istilah keren “default”) dengan serangkaian konsekuensi yang harus ditanggung, yang ujung-ujungnya beban yang menjadi kewajibannya kepada pemberi pinjaman akan semakin meningkat.

Kondisi inilah yang pada skala besar menjadi sebab utama terjadinya krisis ekonomi dan keuangan global yang pernah melanda dunia.

***

Ambil contoh krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat (AS) pada 2008. Dalam rentang waktu antara tahun 2002-2006 Bank Sentral AS(The Fed) mematok suku bunga bank cukup rendah (1%) dengan alasan untuk menggenjot perekonomian yang pertumbuhannya minus. Hal ini memacu masyarakat AS melakukan pinjaman untuk membiayai kegiatan usaha. Ada juga yang mengambil kredit untuk komsumsi. Kegiatan ini tentu memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi AS. Karena tingkat suku bunga rendah, maka tingkat bunga untuk Mortgage (KPR) juga rendah, termasuk Subprime Mortgage. Yang disebut terakhir ini adalah KPR subprima untuk masyarakat yang secara kemampuan kredit (credit rating) sebenarnya rendah untuk layak mengambil KPR. Hal demikian membuat banyak orang yang tertarik membeli rumah dengan pinjaman KPR.

Melihat minat masyarakat untuk mengambil KPR semakin besar, para pengembang properti yang juga mendapat pinjaman murahdari bank mulai melakukan ekspansi usaha. Untuk menangkap peluang ini, salah satu bank tertua dan terbesar di AS, Bank Lehman Brothers, bahkan meminjam sangat agresif dari The Fed dua kali lipat dari bank-bank yang lain. Tentu agar mendapat keuntungan bunga sebesar-besarnya akibat tingginya permintaan masyarakat akan dana pembiayaan untuk KPR tersebut.

Tetapi dalam sektor ini, pembuatan properti, rumah misalnya, memerlukan waktu yang cukup lama. Akibatnya minat masyarakat AS yang tinggi tidak dapat diserap sepenuhnya oleh para pelaku usaha properti, sehingga harga properti mulai beranjak naik. Kenaikan harga properti semakin memacu minat masyarakat AS untuk membeli properti yang menyebabkan harganya semakin meningkat.

Kenaikan harga properti ini dimanfaatkan oleh masyarakat AS untuk mendapat tambahan pendapatan dengan melakukan refinancing. Meskipun rumah yang mereka beli secara kredit belum terjual atau dijual dan belum lunas, namun harga propertinya sudah naik tinggi. Mereka lalu mengambil pinjaman tambahan dengan jaminan rumah yang sama (karena nilai jaminannya naik). Pinjaman ini digunakan untuk konsumsi atau investasi di properti lain karena tergiur dengan harga yang menanjak dengan drastis. Hal seperti ini tentu membuat harga properti semakin mahal.

Bank pun tak kalah agresif. Mereka meluncurkan program KPR ARM (Adjustable Rate Mortgage) dengan memberi bunga murah pada 2-3 tahun cicilan pertama, untuk kemudian naik sesuai suku bunga pada tahun berikutnya. Masyarakat yang mengambil properti dengan KPR ARM pun bertambah banyak karena tergiur bunga murah di awal tahun. Mereka berharap, pada saatnya bunga nanti mengikuti suku bunga di pasar, harga properti mereka sudah meningkat.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara umum akan menimbulkan inflasi yang tinggi pula (lihat tulisan sebelumnya). Oleh karena itu, untuk mengendalikan tingkat inflasi, The Fed pelan-pelan menaikkan suku bunga sekitar tahun 2004. Seiring dengan dinaikkannya tingkat suku bunga, perlahan-lahan tingkat suku bunga KPR pun mulainaik. Cicilan yang harus dibayar oleh para pengambil KPR pun mulai bergerak naik. Cicilan refinancing pun ikut naik. Para pemilik properti yang belum lunas dan masih terikat KPR-nya mulai kelimpungan untuk membayar cicilan.

Korban pun berguguran. Yang pertama adalah masyarakat yangmengambil KPR namun mengalami kredit macet dan gagal bayar. Terutama para pengambil Subprime Mortgage. Mereka pun disita propertinya untuk kemudian dilelang. Akibatnya, calon pembeli properti pun menurun. Para pengembang yang terlanjur membangun dalam jumlah besar kekurangan pembeli. Pasar properti kembung, karena properti baru belum terjual, tetapi properti lama banyak yang disita dan dilelang. Harga properti pun otomatis turun secara drastis.

Kondisi ini kemudian menjadi mengerikan,karena banyak properti yang dilempar ke pasar dengan harga yang menurun, tetapi tidak ada pembeli. Di satusisi, supply rumah yang dijualsemakinbanyaksedangkan di sisi lain pembelisemakinberkurang. Dalamkeadaanpasarproperti yang sudahpayahini, muncullagikondisi yang semakin memperparah, di manapadaawaltahun 2006, KPR ARM yang sudahdiambilmasyarakat AS pun habis masa bunga murahnya. Beban cicilan bertambah berat,sehingga semakinbanyak yang tidakmampu membayarcicilan. Rumah merekadisita, tetapi tak laku dilelang. Meletuslah bubble di sektorpropertiini.

Tetapi itu belum selesai, karenakredit perumahan tak hanya berakhir pada nilai KPR yang belum dibayar, melainkan terkait juga dengan nilai utang bermasalah atas berbagai transaksi derivatif dari KPR tersebut. Transaksi derivatif adalah sebuah perjanjian penukaran pembayaran yang nilainya diturunkan dari produk yang menjadi acuan pokok (underlying product). Derivatif artinya turunan. Daripada memperdagangkan aset fisik, pelaku pasar membuat perjanjian saling menukarkan uang, aset atau suatu nilai dari aset di masa datang yang dijadikan acuan. Transaksi ini digunakan dalam rangka risk management, untuk mengamankan posisi mereka terhadap risiko dari pergerakan saham, suku bunga, nilai tukar mata uang, dan sebagainya tanpa mempengaruhi aset acuannya.

Ternyata, sebelumnya bank menjual KPR tersebut kepada lembaga keuangan bidang perumahan terbesar di AS, yakni Fannie Mae dan Freddie Mae. Keduanya menerbitkan instrumen utang derivatif yang diambil bank-bank investasi seperti Lehman Brothers, Morgan Stanley, UBS, HSBC, dan lain-lain. Bank-bank ini juga menerbitkan instrumen utang derivatif yang diperdagangkan di pasar keuangan AS. Pembelinya investor dari berbagai negara. Semuanya berbasis bunga / riba. Karena KPR mengalami kredit macet yang masif, maka institusi keuangan AS menjadi lumpuh hingga beberapa bank mengumumkan jatuh pailit, termasuk Lehman Brothers. Akibat dari jatuhnya institusi keuangan itu, kinerja saham AS di bursa saham pun terjun bebas. Investor-investor pun mulai menarik dananya dari bursa, sehingga kejatuhan indeks bursa semakin parah. Karena umumnya investor memiliki dana di bursa asing, termasuk Indonesia, maka dampak kejatuhan bursa di AS juga mengimbas ke bursa di seluruh dunia. Terjadilah krisis keuangan dan berlanjut ke krisis ekonomi secara global pada 2008.

***

Penyebab utama krisis keuangan dan ekonomi global ini tidak lain adalah penggunaan riba atau bunga sebagai basis transaksi. Ini bisa dilihat dari tindakan yang dilakukan The Fed untuk menghadapi kredit macet di AS, yakni dengan menurunkan tingkat suku bunga hingga kembali menjadi 1% untuk meredam ketatnya likuiditas. Dengan demikian, mereka sebenarnya hanya “bermain” menurunkan dan/atau menaikkan tingkat suku bunga saja. Tetapi dampaknya, sungguh sangat luar biasa dahsyat. Itulah mengapa, bunga atau riba sering disebut sebagai instrument untuk creating money from nothing. Menciptakan uang dari sesuatu yang tak ada; sehingga mengakibatkan timbulnya ketidakadilan, ketamakan, ketidakseimbangan sosial, hingga penjajahan atas orang atau bahkan negara lain.

Tidak salah jika riba adalah salah satu yang Allah dan Rasul-Nya memaklumkan perang terhadapnya. Allah berfirman:

فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنْ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu (disebabkan tidak meninggalkan sisa riba).” (Q.S. Al Baqarah: 279)

[]