RondaThethek Riwayatmu Kini

Oleh: Imam Safii

Santri Pesma al Midroor

Apa yang paling ditunggu ketika Ramadhan tiba di masa kecil kita dulu? Puasa, buka, tarawih, sahur sudah jelas. Main petasan, main blenggur atau mercon bumbung, menunggu suara “dhur” dari “bom” yang disulut dari alun-alun kota, mandi di sungai menjelang berbuka –sambil “tak sengaja” minum air (hehehe). Kecuali main petasan, kegiatan-kegiatan khas yang lain itu hampir tidak kita dapati lagi di masa kini. Main petasan pun tidak sedramatis masa kecil kita dulu. Petasan meletus di dalam sarung, kena kaca jendela tetangga, mengagetkan orang lagi jalan, belum lagi yang agak ngeri dikit: jari putus kena petasan atau yang lebih parah dari itu. Main petasan sekarang mah tidak ada apa-apanya.

Ada satu lagi kegiatan yang paling kita tunggu, terutama anak laki-laki baru gedhe. Apa itu? Thethek! Membangunkan orang untuk sahur dengan memukul alat musik dari bambu secara berirama keliling kampung. Biasanya berombongan, 3-10 orang. Bahkan bisa lebih. Sebanyak 1-2 orang vokal, 3-4 orang membawa thethek atau kentongan kecil untuk musik iringan, 1-2 orang pegang bumbung (bas dari bambu besar, cara membunyikan dengan dihentakkan ke atas tanah). Kalau tak ada bumbung, boleh bawa jerigen minyak sebagai bas. Lalu satu orang bawa kecek (tamborin dari sejumlah tutup botol seng yang diratakan dan dipaku di atas kayu). Kalau tak ada kecek bisa diganti dengan besi yang dipukul-pukul. Dan tak kalah penting, satu orang pembawa penerangan, bisa oncor (obor api) atau senter. Waktunya di antara jam 1.00 hingga menjelang habisnya waktu sahur. Karena mereka sendiri juga harus sahur.

Alat musik bambu itu biasanya berbentuk kentongan. Bisa dibuat dari batang bambu dengan memotong di antara dua ruas, lalu diberibeberapa lubang memanjang. Bisa 1, 2, atau 3 lubang. Hal tersebut menghasilkan musik yang berbeda ketika dipukul. Tek-tek-tok-tok-tek-tek-tuuurrr. Tek-tek-tok-tok-tek-tek-tuuurrr. Bisa pula kentongan dibuat dari bongkotan bambu (akar atau bagian bambu yang terpendam dalam tanah). Suara yang dihasilkan biasanya lebih melengking. Tak jarang mereka menambah komponen musik thethek dengan jidor, seruling, saxophone, harmonika, pianika, atau bahkan alat-alat dapur seperti panci, gelas, cangkir, sendok, dan piring atau alat musik tradisional seperti gong, kenong, kempul, dan saron.

Hampir tiap daerah punya tradisi thethek atau musik penggugah sahur ini. Mungkin dengan nama yang berbeda-beda, seperti Rontek (Pacitan) yang merupakan singkatan dari Ronda Thethek. Kota Rembang, Tuban dan sekitarnya menyebutnya Tongklek.

***

Dari mana asal-usul musik thethek ini?

Ada yang menyatakan bahwa musik thethek ini diciptakan oleh Wali Songo sebagai bagian dari cara berdakwah kepada masyarakat. Mungkin hal ini benar. Tetapi boleh jadi thethek ini sudah dikenal jauh sebelumnya oleh masyarakat Jawa, karena Wali Songo sering menggunakan media yang sudah membudaya di masyarakat untuk sarana dakwah, seperti wayang, tembang dan karawitan, maupun perayaan-perayaan.

Iman Budi Santoso, seorang penulis kawakan dan budayawan Jawa, pernah menulis buku berjudul Manusia Jawa Mencari Kebeningan Hati Menuju “Tata Hidup, Tata Krama, Tata Prilaku” (Diandra Pustaka Indonesia, 2013). Dalam buku itu, pria kelahiran Magetan tahun 1948 ini menulis bahwa pada masa ketika Majapahit di bawah kekuasaan Prabu Jayanegara terjadi pergolakan di kalangan narapraja karena ketidakpuasan terhadap pemerintahan raja kedua Majapahit itu. Untuk meredamnya, Patih Gajahmada bersama prajurit bayangkara menggunakan dua strategi. Pertama, menambah dan memperkuat prajurit untuk menggempur para pemberontak. Dan kedua, memobilisasi rakyat dengan mererapkan sistem pengamanan lingkungan yang menjadi landasan keamanan kerajaan. Cara kedua ini ditempuh dengan ronda thethek, yakni menjalankan ronda kampung sambil memukul kentongan dengan bunyi irama dheng-thok-dheng-thur. Dan ternyata, cara yang ditempuh Gajahmada ini terus mentradisi dan menjadi ciri khas penanda patembayatan hidup masyarakat Jawa hingga kini. Pada masa dulu, ronda thethek ini dikoordinasi oleh jagabaya (pamong desa yang bertugas mengurus keamanan desa). Jadilah peronda thethek itu “bayangkara swakarsa” yang turut berperan besar menjaga keamanan masyarakat.

Dari ronda thethek inilah kemungkinan diadopsi oleh Wali Songo menjadi thethek yang berfungsi membangunkan orang untuk sahur di bulan Ramadhan.

Ada juga yang berpendapat bahwa budaya kentongan berasal dari legenda laksamana Cheng Ho dari Cina. Dia menemukan kentongan ini dalam perjalanan berkeliling dunia sebagai alat komunikasi ritual keagamaan. Penemuan kentongan ini dibawa ke Cina, Korea, Jepang dan berkembang di sana. Di Nusa Tenggara Barat, kentongan ditemukan ketika Raja Anak Agung Gede Ngurah yang berkuasa sekitar abad XIX menggunakannya untuk mengumpulkan warga. Demikian juga di Yogyakarta, ketika masa kerajaan Majapahit, kentongan Kyai Gorobangsa sering digunakan sebagai alat pengumpul warga.Wallahu a’lam.

***

Tetapi kini musik thethek ini sudah pudar dimakan usia. Ia kalah oleh perkembangan zaman dan teknologi. Anak muda sekarang lebih gandrung dengan gadget, game, dan browsing. Musik thethek kalah pamor dengan medsos macam facebook, twitter, atau instagram. Atau medsos bikinan mantan tukang sapu dari Ukraina, Jan Koum dan Brian Acton bernama: Whatsapp. Kalaupun masih ada, mungkin di desa-desa atau kampung-kampung yang jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota.

Padahal pada masanya dulu, ikut musik thethek keliling kampung merupakan pengalaman paling berkesan selama bulan Puasa. Betapa tidak? Jam 1 pagi sudah bangun. Lalu dengan berkalung sarung berkeliling kampung dengan teman-teman untuk ronda thethek. Tak ada kata capek atau lelah, karena saking semangatnya dan ketika melakukannya disertai dengan penuh kegembiraan. Apalagi lagu yang paling sering dinyanyikan adalah shalawat, khususnya shalawat badar. Shalatullah salaamullah ‘alaa thaha Rasulillah … dan seterusnya.

Yang paling heboh adalah ketika dua rombongan ronda thethek bertemu di perempatan jalan. Keduanya pasti akan berhenti dengan menjaga jarak, sambil memainkan musik thetheknya keras-keras dan temponya semakin cepat. Vokalnya pun bertambah keras dan bersemangat, tak mau kalah keras dibanding rombongan yang lain. Jika masih dalam satu rombongan, musik tertata dengan rancak dan enak didengar. Tetapi begitu bertemu dua aransemen dengan semangat “tempur” tidak mau kalah ini, yang terjadi bukan lagi harmoni, melainkan musik kapal pecah. Jika masing-masing tak mau mengalah –dan biasanya demikian—maka yang bisa mengakhiri “perang tanding” ini adalah lemparan batu warga. Musik akan terhenti dan masing-masing personel semburat menyelamatkan diri mengambil jalan berbeda. Bukan lantas menyesal dan bertobat, tetapi malah tertawa-tawa senang dan esok akan diulangi lagi.

Masih untung kini ada penyaluran yang lebih terhormat buat para penggemar musik thethek. Seringkali di bulan Ramadhan diselenggarakan lomba musik patrol atau thethek ini di mall-mall atau instansi-instansi tertentu. Atau bahkan dalam sebuah parade atau pawai. Mereka tampil lebih modern, dengan tambahan peralatan modern dan mengenakan kostum panggung. Tak jarang ada pemandu-soraknya juga. Mungkin dengan demikian, musik thethek akan dapat lestari. Namun, dengan dipanggungkan seperti ini, musik thethek kini kehilangan fungsi utamanya. Karena, kini hanya menjadi semacam pertunjukan saja, dan tidak lagi guna membangunkan orang untuk bersantap sahur.

***