Runtuhnya Kota Baghdad

Runtuhnya Kota Baghdad

13 Februari 1258 M

Tentara Mongol mengepung Baghdad pada 1258 | Sumber: wikipedia.org

Tentara Mongol mengepung Baghdad pada 1258 | Sumber: wikipedia.org

Pasukan Hulagu Khan dari Mongol berjumlah 200.000 orang tiba di luar kota Baghdad pada November 1257. Mereka terdiri dari prajurit Mongol, infantri Georgia, kavaleri Armenia, prajurit Turk dan Persia, serta tak kurang 1000 juru bom dari China. Hulagu mengirim utusan kepada Khalifah Al-Musta’shim Billah agar menyerah, tetapi khalifah menolak. Bahkan ia memberi peringatan kepada Hulagu, bahwa mereka akan dimurkai Allah jika tetap menyerang kekhalifahan yang dipimpinnya.

Tanggal 29 Januari 1258 pasukan Mongol tiba di pintu kota Baghdad dan memulai pengepungan di bawah pimpinan panglima Guo Khan. Mereka mengepung istana khalifah dan menghujaninya dengan anak panah. Sebatang anak panah menembus jendela dan menyambar tubuh Arafah, seorang selir yang sedang menari di hadapan khalifah. Pada anak panah yang menewaskan Arafah itu khalifah mendapati tulisan, “Jika Tuhan hendak melaksanakan ketentuan-Nya, maka Dia akan melenyapkan akal waras orang yang berakal.”

Runtuhnya kota baghdad

Hulagu Khan | Sumber: wikipedia.org

Khalifah Al-Musta’shim memerintahkan untuk memperketat pengamanan. Tetapi, 5 Februari beberapa benteng di sekitar Baghdad telah dikuasai tentara Mongol. Khalifah berusaha bernegosiasi dengan Hulagu, tetapi ditolaknya. Dan akhirnya, 10 Februari Baghdad resmi menyerah kepada pasukan Hulagu.

Demikianlah, pada hari Minggu, 13 Februari 1258 pasukan Hulagu memasuki kota Baghdad. Hari itu tercatat dalam sejarah sebagai Minggu penuh darah dan jerit tangis warga kota Baghdad. Pasukan Mongol tidak menyisakan apapun. Pembantaian, pemerkosaan, penjarahan, dan pembakaran terjadi di setiap sudut kota. Mereka menghancurkan istana, masjid, rumah sakit, dan bangunan bersejarah lainnya. Perpustakaan Baitul Hikmah yang berisi ribuan kitab penuh ilmu tak luput dari penghancuran. Seluruh bukunya dibuang ke Sungai Tigris hingga mengubah airnya menjadi hitam karena tinta yang luntur.

Khalifah Al-Musta’shim ditangkap dan dipaksa melihat rakyatnya yang sedang disembelih di jalan-jalan dan dirampas hartanya. Lalu ia digulung dengan permadani dan diinjak-injak dengan kuda sampai mati. Semua keluarganya juga dibunuh, kecuali menyisakan 1 orang anaknya yang masih kecil untuk dijadikan budak dan dibawa ke Mongol.

Hari itu Kota Baghdad hancur dan 200.000 sampai 1 juta kaum muslimin penduduknya tewas dibantai. Pasukan Mongol bahkan harus berkemah di luar kota untuk beberapa waktu karena tak tahan dengan bau yang menyengat. Ibnu Katsir dan Ibnul Atsir mengabadikan kisah pilu tak terlupakan ini dalam kitab mereka, al-Bidayah wan-Nihayah. Pada juz 18, mereka menulis, “Kalau bukan untuk memberikan pelajaran kepada generasi yang akan datang, kami malu menyantumkan kisah tragis ini dalam kitab kami.”

***

Dikutip dari berbagai sumber oleh Bahtiar HS.