Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Saat Mendamba Pasangan Hidup yang Qurrata A’yun | LAZIS AL HAROMAIN

Saat Mendamba Pasangan Hidup yang Qurrata A’yun

Oleh

Masitha Achmad Syukri

Ketua DPP Anshoriyyah Yayasan Persyada Al Haromain

Dosen Linguistik Dept. Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya UNAIR

Suami manakah yang tidak menginginkan istrinya menjadi pasangan hidupnya yang menyenangkan  hatinya?

Istri manakah yang tidak menginginkan suaminya menjadi pasangan hidupnya yang menyejukkan hatinya?

Sepasang suami-istri tentu sangat berharap saling menyenangkan hati satu sama lain. Hanya saja, secara umum, penyenang hati seringkali diasosiasikan dengan kondisi fisik yang menyenangkan mata. Misalnya, suami yang menyenangkan hati istri adalah suami yang tampan dan istri yang menyenangkan hati suami adalah istri yang cantik. Akan tetapi, dalam hidup ini,tak jarang kita dapati pasangan suami-istri yang tidak selalu memiliki kondisi seperti itu. Ada kalanya, sang suami tampan, tinggi, gagah tapi istri biasa atau bahkan buruk rupa, pendek dan kurus atau bahkan gendut. Atau bisa jadi, sang istri cantik jelita tetapi sang suami sangat jelek, hitam, pendek, dan tua lagi. Akan tetapi, ternyata mereka bisa hidup bersama dan bahagia. Bahkan, tak jarang kita temui pasangan hidup yang cantik dan tampan sehingga dikatakan sebagai pasangan ideal tetapi ternyata hidup mereka tidak bahagia, sering bertengkar dan bahkan, akhirnya mereka memilih berpisah atau bercerai (na’udzu billah).

Dengan demikian, jelas bahwa parameter penyebab hadirnya kesenangan hati atau kesejukan hati tidak harus selalu dikaitkan dengan aspek fisik walaupun wujud yang menyenangkan hati diantaranya juga bisa muncul secara fisik. Misalnya, secara umum, raut wajah yang ramah dan selalu senyum tentu akan menyenangkan siapapun tanpa mengharuskan si pemilik wajah ramah tersebut harus cantik atau tampan, berpenampilan wah, kaya ataupun memiliki jabatan tinggi dan sebagainya.

Oleh karena kondisi fisik tidak menjadi parameter hakiki penyebab hadirnya pasangan hidup yang menyejukkan hati, maka cukuplah Allah yang menetapkan parameter tersebut, yakni parameter ketaatan kepada Allah atas dasar iman dan taqwa pasangan hidup kita. Setiap pasangan hidup yang taat kepada Allah akan memancarkan aura yang membuat pasangan hidupnya akan merasa senang atau sejuk hatinya.

Selain itu, karena kita tidak bisa memastikan memiliki pasangan hidup yang otomatis dan selalu bisa menyejukkan hati kita kecuali atas kehendak Allah, Allah dengan kasih sayangNya telah mengajarkan kita untuk berdoa kepadaNya setiap hari, terutama setiap selesai sholat seperti yang ada di dalam Al Qur’an surat Al Furqan (25) ayat 74.

 

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan hidup kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Doa tersebut dipanjatkan oleh para hamba Allah Yang Maha Pengasih yang akan diberi martabat yang tinggi, penghormatan dan ucapan selamat dari Allah kelak di surga nanti (Q.S. Al Furqan ayat 63-75). Tentu saja, baik suami maupun istri bisa memanjatkan doa tersebut. Jika suami yang berdoa, sejatinya dia mohon kepada Allah agar istrinya menjadi istri yangqurrata a’yun, yakni sosok istri yang bisa menyejukkan hatinya. Sebaliknya pula, jika istri yang berdoa, sejatinya dia mohon kepada Allah agar suaminya menjadi suami yang qurrata a’yun,  yakni sosok suami yang bisa menyejukkan hatinya.

Istri yang qurrata a’yun adalah istri yang taat kepada Allah. Ketaatan istri kepada Allah tersebut akan menghantarkan ketaatan istri kepada suami, yakni istri yang menyenangkan saat dipandang suaminya, misalnya dengan selalu berhias dan tampil ceria untuk suaminya sehingga suaminya senang saat memandangnya, tidak menolak ajakan suaminya jika ingin menggaulinya, selalu menjaga dirinya dan menjaga harta suaminya, tidak menyakiti hati suaminya dalam kondisi apapun, memberi pelayanan sepenuhnya dalam urusan rumah tangga menurut kemampuannya dan tidak membebani suami dengan permintaan yang ada di luar batas kemampuan suaminya untuk memenuhinya.

Sementara itu, suami yang qurrata a’yun adalah suami yang taat kepada Allah. Ketaatan suami kepada Allah tersebut akan membuahkan suami yang memuliakan istrinya, yakni suami yang memperlakukan istri dengan baik, menafkahi istri dan anaknya, memusyawarahkan urusan rumah tangga dengan istrinya, membantu istri dalam melaksanakan pekerjaan rumah tangga, mau bergurau dengan istrinya, memberi sebutan mesra untuk istrinya, mendahulukan perkataan yang halus dan ciuman saat hendak berhubungan badan dengan istrinya dan bersabar menunggu istrinya hingga terpuaskan, memberi belanja kepada istri secara sederhana (tidak pelit dan tidak berlebihan), memberi hadiah kepada istri dan sebagainya.

Saat seorang suami mendamba istri yang qurrata a’yun, selain dengan memanjatkan doa di atas,  selayaknya juga berupaya menjadi suami yang qurrata a’yun bagi istrinya. Betapapun kepenatan fisik setelah seharian kerja di luar rumah, sang suami tetap berusaha untuk membuat istrinya selalu merasa dihargai, diperhatikan, disayangi dalam kondisi apapun. Begitu juga saat seorang istri mendamba suami yang qurrata a’yun, selain dengan memanjatkan doa di atas, selayaknya juga berupaya menjadi istri yang qurrata a’yun bagi suaminya.Betapapun kepenatan fisik setelah aktifitas rumah tangga seharian, sang istri tetap berusaha untuk membuat suaminya selalu merasa dicintai, dihargai, dihormati, dan ditaati.

Duhai indahnya rumah tangga, saat setiap pasangan suami-istri selalu berdoa mohon kepada Allah untuk bisa memiliki pasangan yang menjadiqurrata a’yun/penyejuk hatidan selalu mengiringi lantunan doa tersebut dengan upaya untuk selalu berusaha menjadi qurrata a’yun/penyejuk hati bagi pasangannya.

Wallahu a’lam bish-shawab.