Saatnya Lebih Percaya pada Sistem Pendidikan Pondok Pesantren

oleh Handaka Indra S

Direktur Lazis alHaromian

ilustrasi-salafiSaya sangat bersyukur, walau tidak mengenyam pendidikan di pondok pesantren (Ponpes) secara langsung, tetapi rumah saya berada di lingkungan dua pesantren yang cukup ternama di Kabupaten Kediri. Pada tahun 80an, dua Ponpes tersebut jumlah santrinya mencapai ribuan. Ada puluhan santri yang karena alasan pesantren penuh dan alasan biaya, mereka harus tinggal di rumah warga sekitar, termasuk di mushalla dekat rumah saya ada 8 santri yang tinggal di gotakan mushalla (istilah kamar di ponpes). Mereka nyantri sambil bekerja serabutan di rumah-rumah warga. Keberadaan mereka di tengah-tengah warga benar-benar bisa mewarnai kehidupan religi masyarakat kala itu. Shalat berjama’ah di mushalla menjadi lebih tertib, kegiatan mengaji semarak, shalawatan dan belajar qira’ah pun diadakan. Hampir tiap sore terdengar suara santri hafalan bait-bait Alfiyah sambil memukul-mukul bangku. Yang paling berkesan bagi saya yang kala itu yang masih usia 10an tahun adalah sering diajak menghadiri pengajian di malam hari dengan jalan kaki walau jaraknya kiloan meter dari rumah. Saya rasakan bahwa pengalaman seperti ini berperan besar dalam pembentukan kepribadian seseorang di kemudian hari.

Barangkali saat ini kondisi seperti itu sudah sulit kita dapatkan. Saat ini dua pesantren yang saya ceritakan di atas, santrinya sudah jauh berkurang, bahkan salah satu Ponpes santrinya nyaris habis. Kini tidak ada lagi santri yang tinggal di rumah warga, tidak ada lagi suara bait-bait syair Alfiyah yang diiringi dengan bunyi-bunyian pukulan bangku. Dahulu anak usia 10an tahun pada semangat mengikuti shalawatan, barzanji, dan pengajian sampai larut sehingga tak jarang mereka pun tidur di mushalla.

Ya, tampaknya 36 tahun perjalanan waktu telah mengubah banyak sendi-sendi kehidupan masyarakat. 36 tahun lalu orang bekomunikasi dengan cara silaturrahim dan tatap muka langsung sehingga interaksi sosial, kekeluargaan, dan kebersamaannya masih sangat tinggi. Tapi kini, era tekhnologi informasi (era medsos), aneka media komunikasi telah tersaji demikian canggih dan mudah. Komunikasi berjalan demikian cepat tanpa harus bertatap muka langsung. Medsos telah membuat budaya antar bangsa nyaris tanpa sekat bahkan telanjang. Medsos telah mengarahkan dan membentuk seseorang menjadi individualistik, materialistik, hedonistik, dan tanpa sadar sebenarnya telah menjauhkan kita dari rel kehidupan beragama. Contoh sederhana, di berbagai tempat bahkan di tengah keluarga sering kita dapati 5-6 orang berjajar mereka tidak saling sapa berjam-jam karena masing-masing asyik dengan HP di tangannya. Beberapa teman dosen PTN di Surabaya juga mengeluhkan penurunan kualitas para mahasiswa saat ini, yang disinyalir juga sebagai dampak dari berkembangnya medsos. Dosen menerangkan, mahasiswanya pada asyik mainan HP-nya.

Perkembangan teknologi informasi di tengah masyarakat tidak bisa dielakkan. Dampak negatifnya sudah sedemikian nyata. Oleh karena itu harus ada upaya untuk menangkalnya. Adakah sistem pendidikan yang bisa menjawab persoalan tersebut? Saya jadi teringat dengan pengalaman masa kecil saya di atas, sistem pendidikan pesantrenlah jawabannya. Sistem pendidikan pesantren adalah sistem pendidikan yang mendasarkan pada penanaman nilai-nilai agama sejak dini. Pola interaksi dan keteladanan para Kiyai, para Ustadz adalah pilarnya. Pada saat ini model pesantren pun menjelma dalam berbagai bentuk dan berbagai kekhasan dan keunggulan. Ada Ponpes Tahfidzul Qur’an, Ponpes Kitab Kuning, Ponpes Kader Da’i, Ponpes Entrepreneur, Ponpes Yatim dan Dhu’afa, bahkan saat ini menjamur sekolah-sekolah Boarding School yang merupakan penggabungan sekolah umum dengan sistem pesantren.

Tak jarang di Ponpes-ponpes tersebut juga diajarkan berbagai keterampilan hidup, termasuk komputer dan teknologi informasi (medsos). Khusus medsos di Ponpes tentu ada pembatasan dan pengaturan penggunaannya. Misalnya untuk Hp karena susah pengawasannya hampir semua pesantren melarangnya.  Oleh karena itu, kini saatnya kita umat Islam lebih percaya pada sistem pendidikan yang dikembangkan pondok pesantren yang sudah teruji dan terbukti. InsyaAllah.

[]