Sampai Kapan Semua ini Akan Berlangsung ?

Oleh: Alawy Aly Imron

(Alumnus Masyru’ Al-Maliky 2004-2014)

Tahun 2015 sebentar lagi berlalu. Cukup banyak kejadian di luar perkiraan kita yang sebagian besar membuat kita mengelus dada sekaligus terenyuh dan tak tahu harus berkata apa. Kejadian yang tidak pernah kita perkirakan sebelumnya akan terjadi dan secepat ini. Kejadian yang secara lahiriah mengoyak parah rajutan tali ukhuwwah, tali persaudaraan kita sesama ummat Islam secara umum dan sesama golongan secara khusus.

Saling tuduh, saling menyalahkan, saling menyesatkan, saling mengkafirkan, saling ancam dan pada level terberat, saling membunuh dan menghancurkan… itulah yang terjadi saat ini. Tak ada satupun yang merasa dirinya salah melihat pada kenyataan keadaan global kaum muslimin di berbagai belahan bumi.

Fakta paling terlihat dari semua itu adalah carut-marutnya Timur Tengah sejak berhembusnya fitnah Arabian Spring 4 tahun silam, sampai sekarang, di antara sesama muslim sendiri yang saling caplok, saling bunuh, saling guling, saling bom, yang tak perlu diurai lagi di sini sebab saking jelasnya dan saking terlihatnya. Sampai terjadinya pengungsian besar-besar ke Eropa yang pada akhirnya tak hanya mengungsi fisik mencari keselamatan, tetapi mengungsi pindah agama sekalian! Penyebabnya bukan orang lain, tetapi orang Islam sendiri.

Kalau dulu Nabi berjuang memasukkan orang ke dalam Islam, saat ini sebagian kelompok Islam “berjuang” mengeluarkan yang lain dari Islam.

Untuk level lokal, khususnya di dunia maya, adalah bagaimana terlihatnya saling hujat di antara kita, sengketa tulisan, polemik tidak elok, adu dalil bukan pada tempatnya, sok tahu, terhadap hal-hal yang sebagian besar remeh dan ujungnya nantinya debat kusir itu hilang begitu saja, setelah jiwa kita lelah dan hati menghitam membusuk sebab saling tengkar sendiri.

Reda sebentar, ribut lagi, reda sebentar, ribut lagi, begitu terus-menerus hati kita selalu dilelahkan oleh perdebatan-perdebatan musiman tak selesai-selesai. Waktunya Maulid, ribut dalil maulid. Waktunya Isra’ Mi’raj, ribut dalil peringatan Isra’ Mi’raj. Waktunya Nisfu Sya’ban, ribut dalil amaliyah Nisfu Sya’ban. Waktu ramadhan, ribut ru’yah, tarawih, Idul Fitri. Waktu Idul Adha, ribut lagi. Waktunya Natal, ikutan pula ribut. Dan dalilnya, argumennya, diksi pro-kontranya, klarifikasinya, itu-itu saja, selalu diulang-ulang. Subhanallah! Dan kini keributan itu semakin “mengerucut”, yakni sesama ahli maulid sendiri, dan hal yang diributkan pun jluntrungnya selalu tidak jelas. Selalu lindap begitu saja.

Apa usia dan waktu kita hanya dihabiskan terus-menerus di sini? Lalu sampai kapan?

Dari sisi lain (bagi yang bisa menyikapi dan tahu cara menyikapinya), semua kejadian di atas bagi sebagian orang bisa semakin memperkokoh imannya. Sebab mereka bisa menangkap dan tahu kebenaran apa yang pernah dikatakan Rasulullah bahwa semua ini bakal terjadi. Tahu dengan baik tanda-tanda masa yang merupakan salah satu rukun dari empat rukun agama kita. Dan tentu setelah itu bisa mengambil posisi apa yang harus dilakukan jika tanabbu’at Nabi telah nyata terjadi. Bahwa kiamat memang semakin dekat dan seluruh tanda-tanda sughra dan wustha telah muncul. Tinggal menunggu tanda kubra saja. Dan sikap itu adalah diam, ambil posisi tiarap menyelamatkan diri sendiri dan keluarga, serta kalau bisa orang-orang terdekat.

Bagi yang tidak tahu (dan alangkah-alangkah banyaknya yang tidak tahu itu), tentu saja segera terlibas tersedot oleh pusaran fitnah yang sangat mengerikan, tidak pandang itu Ulama atau apalagi orang awam. Tahu-tahu ternyata telah terjebak pada perbuatan-perbuatan dan perilaku yang merusak pahala amal sekaligus kejernihan hati dan tentu saja sikap yang menimbulkan antipati, alih-alih simpati.

Semua ini diperparah lagi dengan mudahnya kita menelan mentah-mentah informasi buatan (mufabrak). Percaya begitu saja pada foto atau video yang sudah dimodifikasi dan diedit potong sana-sini pakai aplikasi shop-shop-an itu. Tanpa sungkan dan malu. Lalu dengan begitu cepatnya kita setelah menonton (itupun seringkali tidak selesai lagi) langsung menjustifikasi, menuding sana-sini, dengan tanpa konfirmasi, marah-marah, tidak punya malu sama sekali dengan terang-terangan telah melanggar Al-Qur’an yang tegas memerintahkan agar kita melakukan klarifikasi atas kebenaran suatu informasi agar kita tak salah bersikap lantas membuat kita menyesal setelah itu.

Sama sekali itu tak terjadi, dan tanpa malu kita ikut-ikutan menghujat, menyalahkan, menjudge. Dan setelah tahu informasi itu ternyata tak benar, mendadak kita diam, pura-pura lupa, pura-pura tidak tahu, dan tidak juga minta maaf! Kesombongan model apa yang telah begitu jauh menghancurleburkan sistem Qolbun Salim kita saat ini?

Itu juga ditambahi lagi dengan bicara tak disertai ilmu. Kadang kita terlalu semangat, tetapi kesemangatan tanpa didasari ilmu yang mumpuni dan hanya merasa cukup dengan sesuatu yang baru kita tahu kemarin atau malah dari hanya baca-baca, lewat Google pula, membuat kita sering berkomentar atau bereaksi yang ternyata hanya menunjukkan bagaimana bodohnya kita dan mudahnya kita dimainkan dan diprovokasi. Al-hamasah bi duni ilmin yanqalib fi’lan ila al-hamaqah, wa syattana ma baina as-Sin wa al-Qaf. Kesemangatan tanpa disertai ilmu hanya akan berbalik menjadi kebodohan, dan jauh sekali jarak antara huruf Sin (pada kata al-hamasah) dan huruf Qaf (pada kata al-hamaqah).

Kita berkoar-koar teriak kembali pada Qur’an dan Sunnah, tapi apa kita sudah melakukannya pada level terkecil saja seperti ini? Semestinya kita malu, mengaku-aku sesuatu yang tak kita lakukan. Qur’an jelas sekali bilang: ketidakpatutan yang sangat besar bagi seseorang yang mengatakan apa yang tak dia lakukan. Kabura maqtan ‘indallaahi an taquulu maa laa taf’aluun.

Ini pun kita masih membela diri dan berbagai macam dalih, mendemonstrasikan kesombongan kita yang berdaki-daki, tidak mau dibilangi, tidak mau disadarkan, tidak mau diingatkan, dan malah mengata-ngatai yang mengingatkan, menuduhnya ada kepetingan, pencitraan dan lain-lain. Al-Kibru huwa batharul haq wa ghamthun nas. Itu definisi Nabi akan kesombongan: sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

Tak perlu kita sok-sokan jauh-jauh memikirkan nasib memprihatikan saudara muslim di belahan wilayah atau bumi yang lain dengan dalih man lam yahtam bi amril muslimina fa laisa minhum, kalau ternyata diri kita sendiri masih sangat memprihatinkan dan memerlukan untuk dikasihani. Karena diri yang sakit sulit untuk membenahi kebobrokan yang lain. Sangat logis sekali, kalau ingin membenahi kerusakan suatu hal, maka yang membenahi harus sehat pula jasmani dan rohaninya. Karena segala sesuatu itu harus kita mulai dari diri kita sendiri. Ibda’ bi nafsik.

Yang jadi masalah juga adalah kebanyakan dari kita tidak tahu dan tak paham fiqhul awlawiyyat. Kita tak tahu mana yang lebih penting, tak paham mana yang skala prioritas dari kacamata syariat, padahal sebagian besar di antara kita orang yang mengaku berpendidikan. Lantas ke mana larinya hasil pendidikan itu selama ini jika kita tak tahu skala prioritas? Apa faedah belajar lama, hanya membuang-buang uang dan waktu saja? Lalu apa yang kita pelajari selama ini jika ternyata ujung-ujungnya kita terjangkiti penyakit logika yang sedemikian parah semisal kena kecenderungan menggeneralisir masalah atau men-simplifikasi-kannya yang menjadi penyebab semua apa yang sedang kaum muslimin alami saat ini. Yang hanya mengantar kita jadi tukang debat dan tukang berekspektasi yang suka marah-marah baik saat di WC, dengan ngomong sendiri, dan parahnya lagi saat dalam shalat, khusyuknya seketika hilang yang membuat seseorang kehilangan makna shalat, dan saat shalat tak ada makna. Lalu dari mana bisa tanha ‘anil fakhsya wal munkar? Tapi saat bertemu face-to-face dengan yang bersangkutan hanya diam atau bahkan ketawa-ketawa. Tapi di belakang ghibah luar biasa. Berapa dosa besar yang sudah kita lakukan via dunia sosmed khususnya.

Pada akhirnya masih cukup banyak dalam diri kita yang mesti kita benahi. Mengutip kata bijak sebagian bestari: haadza zamaanus sukut, wa luzumul buyut, war ridha bil qut, ila an tamut. Sekarang adalah tiba masanya untuk diam, menetap di kediaman, menerima apa yang ada dari makanan, sampai tiba waktu untuk masuk ke kuburan.

Wallahu A’lam.