Satu dibalas Seribu, Bahkan Lebih

Oleh: Zakiyah …..

SodaqohSekitar lima tahun silam, Ayahku memulai usaha kecil kecilan dengan mengontrak sebuah toko di daerah Driyorejo, Gresik. Ayahku berjualan buku.

Tepatnya ketika aku sedang liburan pondok, pagi pukul 08.00. Ayah mengajak untuk menjenguk sekaligus menunggu toko tersebut. MasyaAllah, sangat ramai. Ramai oleh orang lewat di depan toko, bukan pengunjung toko. Sayangnya memang begitu.

“Permisi..” Aku yang tadinya tiduran santai di dalam toko karena saking sepinya, langsung berantusias untuk berdiri dan keluar mencari suara itu. Aku melihat bayangan seorang ibu di depan toko kami. “Yes! Beneran ada orang yang mengunjungi toko kami” kataku dalam hati.

“Inggih Bu, ….” belum juga selesai melanjutkan kalimatku, aku sudah dikejutkan oleh satu kata yang keluar dari mulut beliau

“Nyuwun..”

Aku tersenyum simpul. Subhanallah, ternyata seorang pengemis.

“Ayah..” segera aku memanggil ayah yang ada di dalam, karena tidak sepeser uang pun yang kubawa. Ayah keluar dan melihat sosok ibu itu langsung paham. Segera beliau mengeluarkan dompet. Dilihatnya, ternyata hanya satu lembar Rp. 50.000 yang ada di dalammya. Ayah terdiam sejenak.

            “Buk, mriki.. njenengan mlebet,” kata Ayah meminta ibu itu masuk. Kemudian mereka duduk di dalam toko. Ayah berbisik pada si Ibu. “Ini di dompet saya cuman ada 50.000, sedangkan saya nanti butuh buat beli bensin untuk perjalanan pulang. Jadi maaf sekali sebelumnya. Ini tak kasihkan njenengan, tapi saya kasih kembaliannya, ya?”

“Oo, iya Pak..” Dengan girang si Ibu menerima uang itu, kemudian membuka gembolannya yang berisi recehan dan beberapa lembaran uang.

“Kembali berapa Pak?” katanya.

“Terserah njenengan pun,” jawab Ayah.

“Jangan terserah Pak.”

“Ya sudah, biar terkesan adil, separohan aja.”

“Jangan, kebanyakan Pak.”

“Loh, ya sudah, njenengan ambil 10.000 aja. Berarti kembali 40.000.”

“Nggak kebanyakan ta, Pak? Nggak seribu aja??”

“Enggak.. sudah itu.”

Si ibu terlihat bingung ketika menghitung uangnya untuk kembalian. “Sini bu, saya bantu menghitungkan,” kemudian Ayah mengeluarkan seluruh uang Ibu. Tak mengherankan, jumlah uang pengemis tersebut lebih banyak daripada selembar uang di dompet Ayahku, pun kebanyakan uangnya adalah berupa recehan.

“Nah, begini ya Bu.. sudah deal kan?” kata Ayah menjelaskan pada pengemis.

“Iya.. Terimakasih banyak lo Pak.”

“Sama sama.”

“Gusti Allah sing bales nggih Pak.”

“Aamiin”

Sedari tadi aku hanya menjadi pengamat dan sesekali tersenyum melihat adegan aneh. Setelah ibu itu pergi, aku mulai melepaskan tawa.

            Siang, pukul 12.00. Kami akhirnya memutuskan kembali pulang. Alhamdulillah tidak seorang pun mengunjungi toko kami.

            Hari itu juga. Sore menjelang Maghrib. Rumah kami kedatangan tamu. Aku tidak begitu mengenal siapa beliau, seorang ibu dengan keteduhan wajahnya. Orang tuaku sudah terlihat akrab dengan beliau. Perbincangan ringan mereka sebagai pembuka, aku hanya menjadi pendengar yang duduk anteng di samping ibuku. Kemudian beliau memulai cerita, hingga panjang lebar penuh curhat, tentang sesuatu yang telah menimpa keluarga beliau. Pada akhir cerita, beliau meminta do’a agar urusannya dimudahkan. Sepertinya itu tujuan utamanya untuk bertamu. Adzan Maghrib terdengar, kami shalat berjama’ah. Setelah shalat, beliau berpamitan untuk pulang.

“Ustadz, terimakasih banyak ya. Ini ada sedikit rezeki untuk njenengan,” beliau menyodorkan amplop putih pada Ayah. “Assalamu’alaikum,” beliau meninggalkan rumah kami.

“Wa’alaikumussalam.”

            Ayahku membuka amplop. “Alhamdulillah..” kata beliau.

“Apa Yah?” aku yang suka kepo alias pengen tahu segera mendekat ke Ayah dan mengintip amplop tersebut. Seketika itu juga aku teringat kejadian waktu pagi. Allah memang tidak pernah menyalahi janji. Kebesaran dan kasih sayang-Nya selalu terbukti. Padahal pagi itu, hanya seperlima dari uang yang dimiliki Ayah untuk disedekahkan. Tetapi justru Allah membalas 50 kali lipat dari jumlah uang yang disedekahkan.

            Allah I memang selalu memerintahkan agar kita mentaati-Nya, dengan segala apapun bentuk perintah. Entah itu kewajiban atau syari’at Islam yang sudah ditetapkan, atau dengan banyak hal kebaikan lainnya. Akan tetapi, bukankah kita mengerti, bahwasannya apapun kebaikan yang telah kita lakukan akan kembali pada diri kita sendiri. Seakan akan Allah I yang membutuhkan kita dengan perintah-perintah-Nya, padahal sama sekali tidak. Itulah cara kasih sayang Allah pada hamba-Nya.

            Satu dibalas seribu, bahkan lebih. Karena Allah selalu melipatgandakan kebaikan dengan kebaikan yang lebih. Dan pemberian Allah tidak akan pernah mampu terhitung oleh akal manusia.

“Ya Rasulullah, apakah sedekah itu?” Sahabat Abu Dzar pernah bertanya. “Sedekah adalah berlipatganda dan pada sisi Allah terdapat tambahan.” Kemudian beliau r membaca surat Al-Hadid ayat 11. “Siapa yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” Begitulah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan at-Thabarani.

Maka, masihkah kita ragu dengan  janji-janji Allah? Masihkah kita enggan untuk bersedekah atau melakukan kebaikan apapun?

Wallahu yatawallal jami’a biri’ayatih.

***