Sedekah Air

Oleh: Ust. Masyhuda al-Mawwaz

Segala yang hidup di muka bumi ini baik manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan seluruhnya diciptakan dari air, baik secara langsung maupun melalui proses. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

…وَجَعَلْنَا مِنَ المآء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلاَ يُؤْمِنُونَ

Dan Kami telah menjadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Apakah mereka tidak beriman?”[1]

Ayat ini merupakan bukti kemukjizatan ilmiah Al-Qur’an. Pada akhirnya saat perkembangan ilmu mampu menyingkap bahwa manusia sebagai salah satu makhluk hidup yang tubuhnya disebutkan sebagai alam kecil karena terkandung di dalamnya seluruh unsur yang ada di alam, ternyata unsur terbesarnya adalah air. Jumlah air yang terkandung dalam tubuh kita tergantung pada usia. Pada bayi, kandungan air (75%) lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Persentase air ini berkurang pada orang tua sampai dengan 50%. Kandungan air juga bervariasi tergantung komposisi tubuh (ramping dan lemak massa). Otot-otot mengandung air lebih banyak dari lemak tubuh. Terlebih lagi, semua organ-organ vital kita mengandung tingkat yang berbeda dari air. Otak (73%), paru-paru (83%), jantung (73%), hati (71%), dan ginjal (79%), kesemuanya mengandung jumlah air yang lebih tinggi dari tulang (31%). Oleh karena itulah, kebutuhan manusia akan air lebih besar daripada makanan, karena secara fisiologis lima hari tanpa air manusia mati. Sementara manusia mampu bertahan selama delapan minggu tanpa makanan.

Begitu pentingnya air bagi kehidupan manusia dan begitu banyak kebutuhan manusia akan air, serta juga makhluk lain selain manusia, maka dalam konsep sedekah menurut Islam, sedekah air termasuk di antara sedekah yang paling utama. Kepada Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam, Saad (bin Ubadah Ra) bertanya: “Sedekah apakah yang paling engkau sukai?” Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air.”[2]

Sedekah air menjadi lebih utama karena air bermanfaat dalam kehidupan keagamaan maupun keduniaan. Untuk keperluan ibadah, air digunakan untuk mensucikan najis, berwudhu, dan mandi. Dalam aktivitas dunia, air diperlukan untuk minum, memasak, mandi, mencuci, dan sebagainya. Jadi air adalah anugerah besar Allah kepada umat manusia. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

…وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُوْرًا

“…Dan Kami telah menurunkan dari langit air yang mensucikan.”[3]

Keutamaan sedekah air juga tersirat dalam firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ

“Maka penduduk neraka pun memanggil penduduk surga: ‘Berikanlah kepada kami air minum atau -makanan- apa saja yang diberikan Allah kepada kalian.’ Maka mereka menjawab, ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir.’”[4]

Imam al-Qurthubi berkata:

[Ayat ini menjadi dalil bahwa bersedekah air termasuk amal yang paling utama. Ibnu Abbas Ra ditanya: “Sedekah apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Air. Bukankah kalian menyaksikan bahwa ketika penduduk neraka meminta tolong kepada penduduk surga, maka mereka berkata: ‘Berikanlah kepada kami air minum…’”][5]

Selanjutnya Imam al-Qurthubi berkata:

[Dengan ayat ini, sebagian orang mengambil dalil bahwa pemilik telaga (sumur) atau kantong air memiliki hak mutlak air yang ada di dalamnya. Ia bisa memberikan dan atau melarang orang lain memanfaatkan air miliknya. Ini karena makna ungkapan penduduk surga: “…sesungguhnya Allah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir” adalah tidak ada hak bagi kalian. Dalam kitab shahih-nya, Imam al-Bukhari membuat suatu bab berjudul Bab Man Ra’aa anna Shahibal Haudh wal Qirbah Ahaqqu bi Maa’ihi, yang selanjutnya beliau mencantumkan sabda Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam (riwayat dari Abu Hurairah Ra):

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لأَذُودَنَّ رِجَالًا عَنْ حَوْضِي كَمَا يذَادُ الْغَرِيبَةُ مِنَ الإِبِلِ عَنِ الْحَوْضِ

“Demi Dzat yang diriku berada dalam kuasa-Nya, sungguh aku benar-benar akan mengusir orang-orang dari telagaku sebagaimana unta asing (tidak dikenal) diusir dari telaga.”][6]

Selain memberikan prinsip keutamaan sedekah air, Islam juga mengajarkan secara rinci model-model dan aksi sedekah air yang bisa dilakukan sebagaimana dalam hadits-hadits berikut:

  1. Memberi minum secara langsung kepada orang yang kehausan

Dari Abu Said al-Khudri Ra, bahwa Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

…وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَي مُسْلِمًا عَلَى ظَمَأٍ سَقَاهُ اللهُ مِنَ الرَّحِيْقِ الْمَخْتُوْمِ

“…Siapapun seorang muslim yang memberikan minum kepada seorang muslim lain yang sedang kehausan, maka Allah pasti memberinya minum dari arak surga yang terjaga kemurniannya.”[7]

  1. Memberikan suplai air kepada suatu komunitas atau perkampungan langka air

Kudair ad-Dhabbiy meriwayatkan:

[Seorang lelaki Badui datang kepada Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam dan memohon: “Beritahukan diriku amalan yang mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka!?” Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kedua hal itu yang menggerakkan dirimu?” Ia menjawab: “Iya.” Beliau Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu mengucapkan yang adil dan mendermakan kelebihan harta” Ia berkata: “Demi Allah, saya tidak mampu setiap saat berkata secara adil dan juga tidak mampu mendermakan semua kelebihan harta.” Beliau Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka berikanlah makanan dan sebarkanlah salam!” Ia berkata: “Ini juga berat.” Beliau Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu memiliki banyak unta?” Lelaki itu mengiyakan. Beliau Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ambil salah satu unta dan wadah air kulit milikmu, kemudian datanglah kepada sebuah rumah yang tidak pernah mendapat pasokan air kecuali jarang-jarang untuk memberi mereka pasokan air. Dengan begitu, maka sangat mungkin untamu tidak mati dan wadah airmu tidak robek, kecuali surga telah dipastikan buatmu.”

Badui itu kemudian berangkat sambil bertakbir. Maka, wadah airnya tidak robek dan untanya tidak mati sampai ia terbunuh sebagai seorang syahid.][8]

  1. Menggali Sumur

Jabir Ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ حَفَرَ مَاءً لـَمْ تَشْرَبْ مِنْهُ كَبِدٌ حَرَّي مِنْ جِنٍّ وَلَا إِنْسٍ وَلَا طَائِرٍ إِلَّا آجَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang menggali air (sumur), maka tidak minum darinya makhluk hidup baik jin, manusia, dan burung kecuali Allah memberinya pahala pada hari Kiamat.”[9]

  1. Memberi Minum Hewan

Abu Hurairah Ra meriwayatkan sabda Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam yang artinya:

[“Ketika seorang lelaki sedang berjalan, ia sangat kehausan. Lalu turun ke dalam sumur dan minum darinya. Saat ia keluar dari sumur, tiba-tiba ada seekor anjing sedang menjulurkan lidah dengan napas terengah tanda sangat kehausan. Lelaki itu berkesimpulan: ‘Anjing ini juga mengalami nasib sama sepertiku tadi.’ Ia segera turun ke dalam sumur, memenuhi kasut kulitnya dengan air. Selanjutnya sambil menggigit kasut itu ia pun berusaha menaiki sumur. Ia pun berhasil memberi minum anjing tersebut sehingga Allah sangat menghargai upayanya dan memberinya ampunan.” Para sahabat bertanya: “Apakah ada pahala bagi kami dalam (memberi minum) binatang?” Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

فِى كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

“Dalam semua lambung yang basah (makhluk hidup) ada pahala.”[10]

Dari kalangan sahabat, figur yang dikenal pernah bersedekah sumur adalah:

  1. Utsman bin Affan Ra

Sumur Raumah merupakan salah satu peninggalan sejarah masa Utsman bin Affan atas kedermawannya, yang saat ini diatasnya telah dibangunan hotel atas nama Sayyidina Utsman. Sumur tersebut tepatnya berada di sebelah Masjid Qiblatain dan pada saat itu pemiliknya adalah seorang Yahudi.

Pada masa itu, Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam dan kaum muhajirin tengah berada di kota Madinah dan dalam kondisi paceklik sulit mendapatkan air bersih, baik untuk minum ataupun untuk berwudhu. Kaum muhajirin telah terbiasa untuk menggunakan air zam-zam ketika di Mekkah yang tidak pernah ada keringnya. Sedangkan air yang ada saat itu hanyalah air dari sumur tersebut yang diperjualbelikan oleh pemilik sumur. Mereka harus membeli dan antri untuk mendapatkan air dari sumur Raumah.

Kondisi ini membuat Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam prihatin terhadap umatnya. Kemudian Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surga-Nya Allah Taala.” (H.R. Muslim)

Mendengar hal itu, seorang sahabat yang dermawan berusaha untuk membebaskan sumur tersebut dari pemilik Yahudi. Sahabat tersebut adalah Utsman bin Affan yang sangat dermawan. Beliau mendatangi rumah pemilik sumur dan menawarnya dengan harga yang tinggi. Meskipun begitu sang pemilik tidak ingin menjual sumur tersebut dengan berapapun tawaran tertinggi dari Utsman bin Affan. Pemilik berkata, “Seandainya sumur ini saya jual kepada kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari.” Itulah alasan yang diungkapkannya.

Mendengar jawaban tersebut, Utsman tetap berteguh hati untuk mendapatkan sumur Raumah dan terus mencoba menawarnya lagi. Sampai pada saatnya sahabat Utsman Ra menawarkan jalan keluar kepada pemilik sumur dengan cara membeli setengah dari sumur tersebut. Mendengar tawaran itu, pemilik Yahudi langsung menerimanya dengan anggapan bahwa dirinya akan mendapat untung dua kali lipat: mendapatkan hasil dari penjualan setengah sumur kepada Utsman dan penghasilan tetapnya dari orang-orang yang membeli air tidak akan pernah putus.

Keputusan tersebut dilakukan dengan aturan kepemilikan sumur secara bergantian, satu hari dimiliki Utsman dan satu hari dimiliki Yahudi. Ketika aturan tersebut dilakukan, Utsman meminta kepada seluruh penduduk Madinah mengambil air secara gratis dari sumur dan mengambilnya dengan ukuran banyak untuk persediaan selama dua hari, karena keesokan harinya sumur tersebut berganti pemilik dan untuk mendapatkan air harus dengan cara membelinya.

Dan benar saja, pada saat dimiliki Yahudi, sumur tersebut sepi tanpa pembeli karena penduduk masih memiliki cadangan air. Melihat kondisi ini, sang Yahudi pemilik sumur mendatangi Utsman dan memintanya untuk membeli separuh lagi sumur miliknya sehingga sumur tersebut akan menjadi milik Utsman sepenuhnya. Akhirnya dibelilah separuh sumur tersebut dengan harga yang sama pada saat pembelian yang pertama, yaitu 20.000 dirham.

Setelah itu, sumur Raumah diwakafkan oleh Utsman bin Affan untuk kepentingan para penduduk. Siapa saja bisa mengambil air dari sumur Raumah termasuk pemilik lama, orang Yahudi.

Seiring dengan berjalannya waktu, di sekitar sumur tumbuh pohon kurma yang terus bertambah sampai mencapai 1.550 saat ini. Kurma-kurma tersebut dijual oleh Departemen Pertanian Saudi ke pasar-pasar dan setengah hasil penjualan kurma diberikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedangkan keuntungan setengahnya lagi ditabung pada salah satu bank dengan rekening atas nama Utsman bin Affan.[11]

  1. Saad bin Ubadah Ra

Saad bin Ubadah Ra bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh ibunda Saad (ibunya sendiri) wafat, lalu sedekah apakah yang paling utama?” Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air.” Saad Ra kemudian menggali sumur dan mengatakan: “Ini untuk ibunda Saad.”[12]

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]Q.S. al-Anbiya’: 30

[2]H.R. Abu Dawud no: 1676, Kitab az-Zakat, bab (41) Fadhl Saqyil Maa’

[3]Q.S. al-Furqan: 48

[4]Q.S. al-A’raaf: 50

[5]Lihat Tafsir al-Qurthubi, tafsir Q.S. al-A’raf: 50

[6]Ibid. H.R. al-Bukhari no: 2367

[7]H.R. at-Turmudzi no: 1679, Kitab az-Zakat, bab Fadhl Saqyil Maa’

[8]H.R. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, bab Kaaf, Man Ismuhu Kuder, no:422, juz 19

[9]H.R. al-Bukhari dalam Tarikh no: . H.R. Ibnu Khuzaimah (lihat Khasha’ishul Ummah al-Muhammadiyyah, As-Sayyid Muhammad al-Maliki, hal 165)

[10]H.R. al-Bukhari no: 2363, Kitab al-Musaqat, bab Fadhl Saqyil Maa’

[11]Dinukil dari situs: RumahAllah.com

[12]H.R. Abu Dawud no:1678, Kitab az-Zakat, bab (41) Fadhl Saqyil Maa’