Sedekah Dua Ibadah

Sedekah Dua Ibadah

Oleh: ust. Masyhuda al-Mawwaz

sedekah

doc. santrigaul.net

 Sedekah sah dan tetap mendapatkan pahala meski diberikan kepada siapa saja. Akan tetapi tetap saja ada orang-orang atau pihak-pihak yang harus diprioritaskan. Allah Subhanahu waRadhiyallohu anha’ala berfirman yang artinya: “Katakanlah: ‘Apa yang kamu infakkan berupa kebaikan, maka itu untuk kedua orang tua, sanak kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang berada dalam perjalanan…”[1] Allah juga berfirman:

فَآتِ ذَاالْقُرْبي حَقَّهُ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ, ذلِكَ خَيْرٌ لِلَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَ اللهِ وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Maka berikanlah kepada sanak kerabat akan haknya, orang miskin, dan musafir. Demikian itu lebih baik bagi orang-orang yang mengharapkan Allah. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.”[2]

Islam memberantas perbudakan sehingga mendorong agar budak dimerdekakan sebagai sebuah amal sendiri serta juga ada banyak aturan hukuman yang berupa harus memerdekakan budak. Meski demikian, ternyata bersedekah kepada sanak kerabat memiliki nilai lebih tinggi daripada me-merdeka-kan budak.  Mengetahui sang isteri Maimunah bintil Harits Radhiyallohu anh baru saja memerdekakan seorang budak wanita, maka Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لِأَجْرِكِ

“Ingat, sesungguhnya jika kamu memberikannya (budak wanita itu) kepada para kerabat dari ibumu niscaya itu lebih memperbesar pahalamu.”[3]

Abu Umamah Radhiyallohu anh meriwayatkan sabda Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى ذِيْ قَرَابَةٍ يُضَعَّفُ أَجْرُهَا مَرَّتَيْنِ

“Sesungguhnya bersedekah kepada kerabat sendiri dilipat gandakan pahalanya dua kali.”[4]

Ini karena bersedekah kepada sanak kerabat bukan hanya sekedar bersedekah, tetapi juga memiliki misi menyambung sanak famili yang telah dinyatakan oleh baginda Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wasallam bahwa barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung kerabatnya. Jika ingin berusia panjang dan diluaskan rizki, maka hendaknya seseorang menyambung sanak famili. Barang siapa berharap mendapatkan anak keturunan yang baik, maka hendaknya rajin bershilaturrahim. Usaha shilaturrahim bisa dilakukan dengan secara berkala berkunjung ke rumah sanak famili dalam setiap waktu tertentu. Enam bulan sekali atau setahun sekali seperti saat lebaran.

Selain berkunjung, ada pula usaha shilaturrahim yang diajarkan oleh Islam, yaitu dengan memberikan sedekah kepada sanak kerabat. Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

“Sedekah kepada seorang miskin adalah satu sedekah dan sedekah kepada sanak kerabat adalah sedekah dan shilaturrahim.[5]

Anjuran memberikan sedekah kepada sanak famili juga terdapat dalam kisah Zainab isterti Abdullah bin Mas’ud Radhiyallohu anh. Zainab mengisahkan:

[Aku berada di masjid dan melihat Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wasallam sedang bersabda: “(Wahai para wanita) bersedekahlah kalian meski dari perhiasan kalian!” Aku lalu (pulang) dan meminta kepada suamiku: “Tanyakanlah kepada Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wasallam apakah sudah cukup bagiku berinfak kepadamu dan kepada anak-anak yatim dalam asuhanku dari harta sedekah (ku)!” Suamiku menjawab: “Kamu (saja) silahkan bertanya kepada Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wasallam!”

“Kamu memberi orang yang menjegalmu, kamu menyambung orang yang memutusmu, dan kamu memaafkan orang yang zhalim kepadamu. Jika itu kamu lakukan, maka Allah pasti memasukkanmu ke surga.”

Aku (Zainab) segera datang kepada Nabi Shalallohu ‘alaihi wasallam. Di depan pintu beliau, aku bertemu dengan seorang wanita Anshar (bernama Zainab isteri Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Radhiyallohu anh) yang juga memiliki kebutuhan sama persis denganku. Bilal Radhiyallohu anh muncul dan kami meminta: “Bertanyalah kepada Nabi Shalallohu ‘alaihi wasallam apakah cukup bagi kami berinfak kepada suamiku dan anak-anak yatim dalam asuhanku, dan jangan kabarkan tentang kami!” Bilal masuk dan bertanya kepada Nabi Shalallohu ‘alaihi wasallam. Beliau Shalallohu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapa kedua wanita itu?” Bilal menjawab: “Zainab” “Zainab yang mana?” tanya Nabi Shalallohu ‘alaihi wasallam. Bilal menjawab: “Isteri Abdullah (bin Mas’ud)” Rasulullah Saw lalu bersabda:

نَعَمْ, لَهَا أَجْرَانِ أَجْرُ الْقَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ

“Benar, dia mendapat dua pahala; pahala (menyambung) kerabat dan pahala sedekah.”][6]

Anjuran memberikan sedekah kepada sanak famili juga terdapat dalam kisah Abu Thalhah Al-Anshari Radhiyallohu anh yang ketika hendak menyedekahkan Biaruha’, sebuah kebun kurma yang dekat dengan masjid dan terdapat sumber air yang jernih, lalu diperintahkan oleh Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wasallam:

…وَإِنِّيْ أَرَي أَنْ تَجْعَلَهَا فِى الْأَقْرَبِيْنَ

“….dan sesungguhnya aku berpendapat sebaiknya kamu memberikannya kepada para sanak kerabat (mu)!”[7]

Abu Thalhah Radhiyallohu anh lalu membagikan kebun kurma itu kepada para kerabatnya yang di antara mereka adalah Hassan bin Tsabit Radhiyallohu anh dan Ubayy bin Kaab Radhiyallohu anh.

Adapun Hassan, maka bertemu nasab dengan Abu Thalhah pada ayah ketiga (buyut) Abu Thalhah bernama Zaid bin Sahl bin al Aswad bin Haram bin Amar bin Zaid Manat bin Adiyy bin Amar bin Malik bin Najjar. Sedang Hassan adalah Hassan bin Tsabit bin Mundzir bin Haram bin Amar bin Zaid Manat bin Adiyy bin Amar bin Amar bin Malik bin Najjar. Sedang Ubayy bin Kaab bertemu nasab dengan Abu Thalhah pada ayah keenam, yaitu Amar bin Malik. Lengkapnya adalah Ubayy bin Kaab bin Qaes bin Ubed bin Zaid bin Muawiyah bin Amar bin Malik bin Najjar.[8]

Sedekah kepada sanak famili menjadi tidak mudah dilakukan, tetapi jika bisa, maka semakin besar pahala dan semakin utama ketika sanak famili tersebut memendam kebencian dan permusuhan. Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ الصَّدَقَةُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الْكَاشِحِ

“Sedekah yang paling utama adalah sedekah kepada sanak famili yang memendam permusuhan.”[9]

Dimusuhi tidak membalas memusuhi, tetapi justru memberi. Diputuskan, tetapi masih berusaha menyambung kembali. Hal ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Akan tetapi jika berhasil dilakukan, maka sungguh besar pahala yang didapatkan. Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Tiga hal yang bila berada pada diri seseorang, maka Allah pasti menghisabnya secara mudah dan memasukkan dirinya ke surga dengan rahmat-Nya.” Para sahabat bertanya: “Apakah itu wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku?” Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu memberi orang yang menjegalmu, kamu menyambung orang yang memutusmu, dan kamu memaafkan orang yang zhalim kepadamu. Jika itu kamu lakukan, maka Allah pasti memasukkanmu ke surge.” (H.R. al-Bazzar dan al-Hakim)[10]

Abu Hurairah Radhiyallohu anh menceritakan:

[Seorang lelaki bertanya: “Wahai Rasulullah, saya memiliki kerabat. Saya menyambung mereka, lalu mereka memutuskanku. Saya berbuat baik kepada mereka, lalu mereka berbuat buruk kepadaku, dan saya bersikap memaafkan mereka, lalu mereka berbuat bodoh kepadaku.” Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيْرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلى ذلِكَ

“Jika kamu seperti yang kamu katakan, maka sungguh seakan kamu menyuapkan abu panas (di mulut) mereka dan bersamamu senantiasa ada orang yang menguatkan dari sisi Allah (untuk mengalahkan) mereka selama kamu seperti itu.”[11]

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]Q.S. al-Baqarah: 215

[2]Q.S. ar-Rum: 38

[3]Lihat tafsir al-Qurthubi, juz 14, hal 25, tafsir Q.S. Ar-Rum: 38

[4]H.R. ath-Thabarani (lihat Al-Matjar ar-Rabih, hadits no: 1469)

[5]H.R. at-Turmudzi no: 658, Kitab Az-Zakat, bab (26) Maa Jaa’a fish Shadaqah alaa Dzil Qarabah

[6]H.R. Imam al-Bukhari no: 1466, Kitab Az-Zakat, bab (46) Az-Zakat alaz Zauji wal Aitaam fil Hajri

[7]H.R. Imam al-Bukhari no: 2769, Kitab Al-Washaya, bab (26) Idzaa Waqafa Ardhan

[8]Lihat Shahih al-Bukhari, Kitab Al-Washaya, bab (10) Idza Waqafa au Aushaa Li Aqaaribihi

[9]H.R. ath-Thabarani-al-Hakim dari Ummu Kultsum binti Uqbah t (lihat Al Matjar ar-Rabih, hadits no: 1471)

[10]Lihat Al-Matjar ar-Rabih, hadits no: 1463

[11]H.R. Imam Muslim no: 2558, Kitabul Birri wash Shilati, bab (6) Shilatirrahim wa Tahriimi Qathi’atiha